Jumat, 06 Desember 2019


Kenalan Yuk dengan PGPR, Si Bakteri Baik untuk Tanaman

15 Nov 2019, 20:59 WIBEditor : Gesha

Perbandingan menggunakan PGPR dengan tidak menggunakan PGPR | Sumber Foto:ISTIMEWA

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Beberapa petani dalam melakukan kegiatan usahataninya erat dengan sesuatu yang bernama PGPR. Bahkan ada sebagian petani yang mengartikan bahwa PGPR mengandung arti Piye Gawe Petani ora Rekasa. Suatu ungkapan dalam bahasa Jawa yang bermakna keinginan petani untuk sesuatu yang baru yang dapat membantu petani mengurangi permasalahan dalam usahataninya. Lalu apa sebenarnya PGPR?

"PGPR singkatan dari Plant Grom Promoting Rhizhobacteria adalah sejenis bakteri yang hidup di perakaran tanaman. Awal mula diteliti oleh peneliti asal Amerika bemama Kloepper dan Scroth di pertengahan 1982. Hasilnya menggambarkan bahwa bakteri tanah yang mendiami daerah perakaran tanaman yang diinokulasikan ke dalam benih dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman," jelas Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, Edy Purnawan kepada tabloidsinartani.com.

Singkat cerita, PGPR merupakan bakteri-bakteri yang hidup di sekitar perakaran tanaman. Bakteri tersebut hidup secara berkoloni menyelimuti akar tanaman. Bagi tanaman keberadaan mikroorganisme ini sangat baik, karena bakteri ini memberi keuntungan dalam proses fistologi tanaman dan pertumbuhannya. 

Dalam perkembangannya, bakteri ini terus dicari dan diteliti oleh peneliti di negara sentra pertanian, termasuk Indonesia. "PGPR ini menjadi primadona ketika Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) kembali digalakkan di seluruh pelosok tanah air. Karena melalui kegiatan tersebut sosialisasi dan bimbingan teknis penggunaan serta pembuatan PGPR ini disebarluaskan ke masyarakat petani. Dan PGPR pun mengalami perkembangan yang sangat pesat terutama pada beberapa tahun terakhir," tuturnya.

Rhizobakteria Pemacu Tumbuh Tanaman (RPTT) adalah kelompok bakteri yang menguntungkan yang agresif menduduki (mengkolonisasi) rizosfir (bagian perakaran). Aktivitas RPTT sangat menguntungkan bagi tanaman baik langsung maupun secara tidak langsung.

"Pengaruh langsungnya didasarkan atas kemampuannya menyediakan dan memfasilitasi penyerapan berbagai unsur hara dalam tanah serta mensintesis dan mengubah konsentrasi fithothormon pemacu tumbuh. Sedangkan pengaruh tidak langsungnya adalah berkaitan dengan kemampuan menekan aktivitas patogen dengan menghasilkan berbagai senyawa atau metabolit seperti antibiotik," bebernya.

Kelompok ini mempunyai peranan ganda di samping menambat N2 juga menghasilkan hormone tumbuh (seperti IAA, giberelin, sitokinin, etilen, dan lainnya). Selain itu juga menekan penyakit tanaman asal tanah dengan glukanase, kitinase, sianida memproduksi siderofor dan melarutkan P dan hara lainnya.

PGPR mampu memacu pertumbuhan tanaman dan fisiologi akar serta mampu mengurangi penyakit atau kerusakan oleh serangga juga sebagai tambahan bagi kompos serta mempercepat proses pengomposan. Pengurangan pestisida dan rotasi penanaman dapat memacu pertumbuhan populasi dari bakteri-bakteri yang menguntungkan seperti PGPR.

Aplikasi PGPR terbukti mampu mengurangi kejadian dan keparahan penyakit. Beberapa PGPR yang diinokulasikan pada benih sebelum tanam dapat memberi pertahanan pada tudung akar tanaman. Hal inilah yang membuat bakteri PGPR mampu mengurangi keparahan dan penyakit dumping-off (Pythium ultimatum) di tanaman. Beberapa bakteri PGPR mampu memproduksi racun bagi patogen tanaman, misalnya bakten Bactllus subtilis mampu melawan cendawan patogan.

PGPR dapat meningkatkan kualitas pertumbuhan tanaman melalui produksi hormon pertumbuhan, kemampuan fiksasi N untuk peningkatan penyediaan N tanah, penghasil osmolit sebagai osmoprotektan pada kondisi cekaman kekeringan dan penghasil senyawa tertentu yang dapat membunuh patogen tanaman.

"Misalnya, Pseudomonas sp. mampu menghasilkan hormon pemacu pertumbuhan tanaman yang dapat meningkatkan berat kering tanaman jagung mencapai 9%, sedangkan Salmonellaliquefaciens meningkatkan berat kering mencapai 10?n Bacillus sp. meningkatkan berat kering mencapai 7% lebih tinggi dibandingkan kontrol," jelasnya.

Lebih lanjut Edy menuturkan bahwa banyak kelebihan yang dimiliki PGPR diantaranya adalah menambah fiksasi nitrogen di tanaman kacang-kacangan; memacu pertumbuhan bakteri fiksasi nitrogen bebas; meningkatkan ketersediaan nutrisi lain seperti phospat, belerang, besi dan tembaga; menambah bakteri dan cendawan yang menguntungkan; mengontrol hama dan penyakit tumbuhan.

Membuat PGPR

Meskipun terlihat rumit, ternyata bakteri baik ini mudah dibuat sendiri oleh petani lho. Bahkan dengan bahan baku yang mudah diperoleh. 

"Bisa dengan merendam 100 gram akae bambu dalam air matang dingin selama 2-4 hari. Lalu merebus 400 gr gulapasir, 200 gr terasi, dalam 10 liter air sampai mendidih selama 20 menit," tuturnya.

Setelah dingin semua bahan dimasukkan ke dalam tempat kemudian ditutup rapat. Setelah 15 hari PGPR siap digunakan. Penggunaannya bervariasi sesuai dengan kebutuhan diantaranya dengan mencampur 1 liter PGPR ke dalam tangki dan disemprotkan ke lahan yang belum ditanami. Selanjutnya penyemprotan diulangi setiap 20 hari sekali.

PGPR ini dapat digunakan pada berbagai tanaman, baik tanaman padi, kedelai, sayuran, buah-buahan maupun tanaman hias. Dengan penggunaan PGPR, teknologi pengendalian ramah lingkungan secara komprehensif dan pengurangan penggunaan pestisida dapat diterapkan.

Reporter : Tiara
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018