Sunday, 05 April 2020


Memproduksi Benih Bermutu di Petani, Ini Triknya !

24 Feb 2020, 16:49 WIBEditor : Yulianto

Benih unggul hasil rakitan peneliti BB Padi | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Sukabumi---Tidak dapat dipungkiri sebagian besar petani padi banyak yang menggunakan benih padi berasal dari produksi sendiri. Dengan kata lain bukan berasal dari benih yang dibeli di toko atau pabrikan yang bersertifikat. Diperkirakan hampir 60 persen benih padi yang pertani gunakan berasal dari sumber benih informal, sedangkan hanya 30-40 persen benih sumber formal (bersertifikasi).

Menurut asalnya, sumber benih sendiri bagi petani padi dikatagorikan menjadi dua sistem yaitu sistem perbenihan formal dan sistem perbenihan informal. Sistem perbenihan formal dicirikan dengan produksi yang terencana, pengolahan benih dengan mekanisasi tertentu, penamaan vareitas yang jelas dan baku.

Dalam pemasarannya dalam kemasan yang terindentifikasi dan menerapkan jaminan mutu sampai tingkat tertentu. Dengan demikian jelas hasilnya akan terlihat berbeda dengan gabah.

Sedangkan perbenihan informal tidak memiliki ciri-ciri tersebut, tapi gabah yang terlihat baik secara fisual dianggap sebagai benih. Biasanya petani menyisihkan gabah sebagian hasil panennya sebelumnya untuk dijadikan benih pada musim selanjutnya.

Untuk tetap menjaga kualitas benih, banyak hal yang harus diperhatikan, baik oleh petani maupun penyuluh sebagai mitra dari petani di lapangan. Tidak dapat dipungkiri perbenihan informal masih berkontribusi penting dalam penyediaan benih padi inbrida.

Dengan demikian, perlu pengawalan dan penyuluhan ke petani tentang bagaimana mendapatkan dan memproduksi benih agar mendapatkan kualitas benih yang baik. Berikut yang harus dilakukan dalam pengawalan memproduksi benih.

Persemaian dan pertanaman

Tanaman padi merupakan tanaman yang dapat menyerbuk sendiri. Karena itu petani harus memperhatikan letak persemaian jika ingin mempersiapkan benihnya sendiri. Pada persemaian perlu diperhatikan pembatas agar menghindari terbawanya benih varietas lain oleh air hujan ke persemaian.

Di pertanaman, jarak 2-3 meter antar pematang masih dianggap jarak yang cukup aman dan memadai untuk mencegah terjadinya kontaminasi atau penyerbuka silang antar varietas. Isolasi dengan pematang merupakan cara yang terbaik untuk menghindari kemungkinan kontaminasi antar veritas.

Pengaturan waktu tanam pun merupakan salah satu cara isolasi mutu dengan memberi jarak 10-20 hari penanaman yang berbeda varietas agar tidak bersamaam pada waktu pembungaan. Saat panen pun petani juga harus sangat berhati-hati, terutama jika jarak antar varietas berdekatan.

Umumnya petani menanam padi di lahan yang sama secara terus menerus. Jika petani akan memproduksi benih dengan varietas yang berbeda dari musim sebelumnya, maka harus diperhatikan gabah yang tersisa dari pertanaman sebelumnya.

Sebab, dikhawatirkan akan ikut tertanam pada lahan yang akan dipersiapkan untuk memproduksi benih. Untuk itu sangat dianjurkan sebaiknya lahan yang digunakan bukan bekas pertanaman padi, misalnya bekas ditanami jagung atau tanaman lainnya.

Ingat, jangan biarkan gulma bermunculan. Sebab, beberapa gulma ada yang sangat mirip dengan padi, sehingga ketika dilakukan penyiangan tidak terbuang. Contohnya gulma jajagoan (Echinochloa crus–galli dan E.Colona).

Segera lakukan pencegahan agar tidak terjadi kontaminasi. Caranya dengan menggunakan benih bersertifikat agar kemurnian benih dapat terjamin. Penyiangan secara manual dapat meminimalkan pencampuran jajagoan yang terlanjur tumbuh di pertamanan.

Dalam pemeliharaan tanama padi untuk propduksi benih sama dengan pemeliharaan padi pada umumnya. Perbedaannya hanya pada konsekuensi untuk mendapatkan gabah agar sesuai dengan persyaratan muut benih. Paling utama dan perlu diperhatikan petani adalah menjaga kemurnian varietas benih dari campuran varietas lainnya, baik karena perkawinan silang atau pun roguing (pencampuran dilahan akibat gabah yang terbawa dari sisa pertanaman sebelumnya.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah menjaga viabilitas benih, kesehatan benih (terutama infeksi penyakit yang terbawa benih), kemurnian fisik benih terutama dari campuran benih gulma.

Petani juga harus mengawal saat panen dan pengeringan. Bagaimana caranya?

Reporter : Susilowati (PPL Sukabumi)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018