Tuesday, 22 September 2020


Petani NTT Giat Olah Lahan untuk Tanam Jagung

19 Mar 2020, 15:07 WIBEditor : Indarto

Bantuan Kementan berupa traktor roda 2 | Sumber Foto:Dok. Indarto

Karena masih ada sebagian petani yang olah lahan, jenis alsintan yang banyak dimanfaatkan atau disewa petani hanya TR-4 dan TR-2.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta----Musim tanam padi di Desa Magepanda, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka,  Nusa Tenggara Timur (NTT) sudah usai Januari lalu. Lantaran sejak sebulan lalu tak turun hujan, sebagian petani yang lahannya tadah hujan tak berani tanam padi. Akhirnya, mereka memanfaatkan lahannya  untuk ditanami jagung dan hortikultura.

Manajer UPJA Tani Mandiri, Abidin, mengatakan,  karena musim tanamnya sudah usai, sudah jarang petani yang menyewa rice transplanter. Bahkan, hingga pertengahan Maret 2020 belum ada petani yang sewa combine harvester, karena belum ada petani yang panen.

“Sebagian besar lahan sawah di NTT ini berupa lahan  tadah hujan,  dan saat ini lebih banyak petani yang tanam jagung dan hortikultura.  Bahkan, sampai pertengahan Maret 2020 masih banyak petani yang olah lahan dengan traktor roda 4 (TR-4) dan traktor roda 2 (TR-2), untuk persiapan tanam jagung dan hortikultura,” papar  Abidin, di Jakarta, Kamis (19/3).

Menurut Abidin, karena masih ada sebagian petani yang olah lahan, jenis alsintan yang banyak dimanfaatkan atau disewa petani hanya TR-4 dan TR-2.  “Sebagian petani di NTT ada yang baru mulai olah lahan dan ada sebagian lagi yang tanam jagung. Di daerah yang ada irigasinya ada sebagian yang tanam padi. Namun, luasannya tak banyak,” kata Abidin.

Abidin juga mengatakan, meskipun sebagian besar lahan sawah di NTT tadah hujan, sampai saat ini belum banyak petani yang memanfaatkan pompa air.  Biasanya, petani akan memanfaatkan pompa air apabila lahan sawahnya sudah benar-benar tak ada air.

“Tapi, kalau masih ada air walaupun volumenya tak terlalu banyak, mereka belum memutuskan untuk sewa pompa air,” ujarnya.

Menurut Abidin,  karena baru tanam padi pada Januari-Februari, diperkirakan  pada April 2020 nanti petani di Kabupaten Sikka mulai panen. Nah, saat panen itulah, mereka akan memanfaatkan combine harvester.

“Saya perkirakan, saat panen nanti hasilnya akan turun. Sebab, terjadi perubahan cuaca sejak awal Januari sampai saat ini tak menentu. Bahkan, sejak Februari sampai saat ini sudah tak turun hujan,” papar Abidin.

Abidin mengatakan, meskipun hasil panennya diperkirakan menurun, pihkanya tetap optimis apabila sewa alsintan yang dikembangkan UPJA Tani Mandiri akan berjalan dengan baik. Sebab, manajemen UPJA Tani Mandiri tak hanya menyewakan alsintan kepada petani di Kabupaten Sikka.

“ Kami juga menyewakan alsintan kepada petani di sekitar Kabupaten Sikka yang memerlukan. Bahkan, kami sampai ke Ende untuk menyewakan combine harvester,” ujarnya.

Menurut Abidin, usaha jasa sewa alsintan yang dilakukan sejak tahun 2014 silam,  ke depannya akan dikelola lebih baik lagi. Manajemen UPJA Tani Mandiri pun akan mengembangkan dan mengelola usaha yang didirikan petani ini lebih profesional lagi.

Melek Mekanisasi

Setelah mengenal  mekanisasi pertanian yang disosialisasikan Kementerian Pertanian (Kementan) sejak tahun 2014 silam, petani Kabupaten Sikka, NTT akhirnya memahami pentingnya  mengelola usaha tani  dengan mekanisasi. Sebab, dengan mekanisasi, petani akan lebih efektif dan efisien mengembangkan usaha taninya.

“Mulai olah lahan, tanam, hingga panen,  petani di Kabupaten Sikka sudah tak gamang lagi. Mereka juga semakin memahami pentingnya mekanisasi pertanian. Dengan memanfaatkan alsintan, seperti TR-2 dan TR-4, petani bisa olah lahan lebih cepat,” papar Abidin.

Abidin juga mengatakan, petani juga bisa menyewa rice transplanter untuk tanam padi. Bahkan, petani bisa sewa combine harvester untuk panen. Dengan combine harvester,  petani dapat menekan kehilangan gabah yang dipanen. Sehingga, hasilnya panennya lebih banyak, dan panennya bisa dilakukan dengan cepat, dengan ongkos yang terjangkau.

Menurut Abidin, UPJA Tani Mandiri yang berada di bawah naungan Gapoktan Tani Mandiri  tetap komitmen menyewakan alintan dengan biaya yang terjangkau. Guna memenuhi kebutuhan alsintan ke petani, manajemen UPJA Tani Mandiri rela membeli alsintan secara swadaya.

Data UPJA Tani Mandiri menyebutkan, sampai saat ini sudah memiliki aset berupa alsintan sebanyak 46 unit. Dari jumlah alsintan yang disewakan ke petani, sebanyak 31 unit didapat dari swadaya.

Sejak  tahun 2014 silam UPJA mendapat bantuan  alsintan dari pemerintah sebanya 15 unit. Diantara bantuan itu adalah mesin pompa (4), handsprayer (2), rice transplanter (3) dan hand traktor (4).

Kemudian, pada tahun 2018 ini  UPJA Tani Mandiri mendapat hadiah dari Kementan berupa combine harvester besar 1unit dan traktor roda 4 satu unit. “Jadi, total alsintan bantuan pemerintah yang kami terima ada 15 unit (plus 2 unit hadiah, red),” ujar Abidin.

Abidin mengaku, sampai saat ini masih melakukan sosialisasi cara memanfaatkan alsintan kepada petani. Setelah mengetahui cara menggunakan dan manfaat alsintan, akhirnya banyak petani yang tertarik untuk menyewa alsintan yang dikelola UPJA Tani Mandiri.

“Kini, petani yang menyawa alsintan terus berkembang. Suatu ketika, kami sempat kewalahan memberi pelayanan ke petani dan akhirnya kami memutuskan untuk menambah alsintan seperti combine harvester dan mesin tanam yang bisa dinaiki,” paparnya.

Tercatat, UPJA Tani Mandiri secara bertahap membeli alsintan secara mandiri . Hingga kini, sudah sebanyak 31 unit alsintan yang dibeli secara mandiri. Diantaranya, combine harvester 2 unit, truk 1 unit, handa traktor 4 unit, mesin pompa 8 unit dan handsprayer 14 unit. Alsintan yang dibeli secara mandiri tersebut, berasal dari hasil jasa sewa alsintan yang masuk ke kas manajemen UPJA. 

 

Reporter : Dimas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018