Tuesday, 07 July 2020


Geliat Moderniasi Pertanian di Bangodua dan Perubahan Prilaku Petani

05 May 2020, 17:38 WIBEditor : Yulianto

Kegiatan panen di Kecamatan Bangodua, Indramayu | Sumber Foto:Tarminah

TABLOIDSINARTANI.COM, Indramayu---Kementerian Pertanian sejak dua tahun terakhir mendorong modernisasi pertanian dengan mekanisasi pertanian. Bukan hanya saat mengolah tanah, tapi juga hingga panen menggunakan alat mesin pertanian (alsintan) combine harvester.

Ubahlah mindset kita bahwa teknologi baru bukan lawan petani atau buruh tani, bukan juga alat pemerintah untuk membuat masyarakat susah, tapi ini semua tujuannya untuk kesejahteraaan bersama rakyatnya,” kata H. Kartawi, anggota Kelompoktani Dewi Sri I, Desa Tegalgirang kec. Bangodua Kab. Indramayu saat panen dengan menggunakan combine harvester.

Diakui, banyak sekali keuntungan yang didapat dengan menggunakan combine harvester. Diantaranya, mutu dan kualitas gabah bagus, bersih dari kotoran jerami/kotoran lain, sehingga harga jual meningkat dan rendemen hasil giling tinggi.

Tidak hanya itu, penggunaan combine harvester juga bisa menekan biaya usaha tani, sehingga keuntungan petani meningkat, waktu panen lebih cepat 3 – 4 jam per/ha dan tidak ada jerami yang ditumpuk di sawah bermalam-malam sebelum dirontokkan dengan power tresher.

Sedangkan jerami bisa dimanfaatkan untuk pupuk organik. Karena jerami yang tersebar rata, sehingga tidak perlu biaya menyebar jerami dan tidak ada polusi udara akibat pembakaran jerami. Jadi bisa sebagai langkah alternatif pemanfaatan limbah panen (jerami, red). “Dengan jerami tersebar rata di sawah dapat menjaga kesuburan tanah dan mengurangi penggunaan pupuk kimia,” ujarnya.

“Ini diantara keuntungan panen menggunakan combine lainnya yang tanpa disadari petani bahwa sawah itu memerlukan kandungan hara organik buat mempertahankan kesuburannya,” tambah Kartawi.

Sementara Tarminah, Koordinator Penyuluh Pertanian Bangodua mengakui, tak mudah mengubah mindset petani untuk menerapkan teknologi. Umumnya, setiap ada teknologi baru petani akan menolak. Bahkan ada anggapan teknologi menjadi pesaing dan musuh petani, teknologi kurang manfaat.

Mengingat masa lalu, Tarminah bercerita, saat menyosialisasikan traktor, petani mennolak. Alasanya, bahwa buruh untuk mengolah tanah adalah orang kaya. Padahal sekarang ketika kita mencari tenaga kerja untuk mengolah tanah (nyangkul), sulit mencari tenaga kerja, bahkan rebutan.

Begitu juga saat disosialisasikan penggunaan power tresher, petani kembali menolak lagi sama. Alasannya hampir sama. “Kok sekarang yang buruh derep (panen padi. Red) orang kaya, kenyataan sekarang tenaga penderep tidak mau pakai power tresher,” ujarnya.

Tarminah mengakui, perubahan pengetahuan sikap dan keterampilan petani perlu proses pendekatan pribadi dan kedinasan. Juga perlu waktu dan kesabaran untuk bisa diterapkan utuh oleh petani. Harapan akhir kegiatan ini semoga teknologi ini semakin diminati petani dan bisa diterapakan seluruh petani. Bukan hanya untuk meningkatkan pendapatan, tapi juga memecahkan masalah kurangnya tenaga kerja pada sektor pertanian,” tuturnya.

Pada panen dengan combine harvester dengan luas lahan 8.400 m2 bisa diselsaikan dalam waktu 2,5 jam. Dengan hasil gabah bersih 7,89 ton/ha. “Dari segi waktu terlihat jelas perbedaaanya dibanding dengan alat panen yang ada sebelumnya power tresher, paling tidak memakan waktu 2 sampai 3 hari selesai,” katanya.

Reporter : Tarminah (PPL Bangodua)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018