Wednesday, 21 October 2026


Social Distancing Saat Panen, Combine Harvester Jadi Primadona Petani

08 May 2020, 22:30 WIBEditor : Yulianto

Combine harvester jadi primadona petani saat panen di tengah Covid-19

TABLOIDSINARTANI.COM, Wonogiri---Penggunaan combine harvester kini menjadi pilihan utama bagi petani untuk melaksanakan panen di tengah wabah Covid-19. Dengan mesin panen tersebut, petani bisa menerapkan imbauan pemerintah yakni social distancing (menjaga jarak).

Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia sejak Maret lalu, memang berdampak besar pada aktivitas masyarakat, tak terkecuali petani. Namun bagi petani di Kabupaten Wonogiri, khususnya di Kecamatan Wuryantoro yang tengah memasuki awal musim panen padi, membuat petani tidak bisa berdiam diri di rumah.

“Imbauan pemerintah untuk menghindari kerumunan dan menjaga jarak, atau yang lebih dikenal dengan social distancing guna menekan penyebaran Covid-19, membuat petani harus berpikir bijak dalam kegiatan panen,” kata Ana Rahmawati, PPL di Kecamatan Wuryantoro.

Apalagi menurutnya, curah hujan yang semakin berkurang membuat petani di Kecamatan Wuryantoro harus mempercepat proses panen dan mempersiapkan bibit untuk percepatan tanam musim tanam kedua. Salah satu langkah yang dilakukan petani adalah menggunakan combine harvaster ketika panen. “Hal ini memberikan keuntungan bagi petani maupun pengelola jasa alsintannya,” ujar Ana.

Ana mengungkapkan, panen raya yang berlangsung secara serentak membuat petani di Kelurahan Mojopuro, Kecamatan Wuryantoro kesulitan mencari tenaga kerja. Bahkan biaya tenaga kerja menjadi lebih tinggi dari kondisi umumnya.

“Atas dasar itu, kini banyak petani beralih menggunakan jasa alsintan combine harvester yang dikelola UPJA Gapoktan Rahayu Widodo,” ujarnya. Saat ini, UPJA tersebut mengelola 3 unit combine harvaster bantuan pemerintah. Ketiganya beroperasi tanpa henti melayani permintaan para petani.

Lebih Untung

Ana mengakui, penggunaan combine harvester memberikan keuntungan bagi petani di Kecamatan Wuryantoro. Bukan hanya menghemat waktu, tapi juga menghemat biaya tenaga kerja dan konsumsi.

Biaya yang dibebankan pun tergolong ramah petani. UPJA Gapoktan Rahayu Widodo menerapkan biaya per karung gabah. Dengan demikian, ketika hasil panen kurang bagus, petani tidak dirugikan karena biaya panen yang mahal.

“Biaya jasa panen pun terbilang murah, hanya sebesar Rp 12.000/ karung. Hasil gabahnya pun lebih bersih, sehingga di beli pengepul dengan harga yang lebih tinggi,” tutur Ana.

Ana mengatakan, panen secara konvensional dilakukan 8 orang selama 6 hari. Jika biaya tenaga kerja Rp 80.000/hari, maka diperlukan biaya sebesar R. 3.840.000/ha. Sementara hasil panen sawah seluas 1 ha, rata-rata diperoleh 100 karung gabah.

Sementara biaya panen menggunakan combine harvaster dengan 3 orang tenaga kerja, hanya dibutuhkan biaya Rp 1.230.000. “Artinya petani dapat menghemat biaya panen lebih dari 50% dibandingkan panen secara konvensional,” ujarnya.

Menurut Ana, keuntungan lain menggunakan combine harvester adalah membuka lapangan pekerjaan bagi petani muda untuk menjadi operator. Perkembangan teknologi yang ada saat ini membuat minat pemuda untuk terjun di bidang pertanian semakin tinggi. Selain itu, pembagian keuntungan sebesar 60 persen bagi operator juga membuat mereka lebih bersemangat.

Karena semua wilayah belum mendapat bantuan combine harvester, Ana berharap peran pemerintah dalam pengadaan alsintan di wilayah Kecamatan Wuryantoro, sangat ditunggu. Sebab dengan alat mesin panen itu akan mempercepat panen, peningkatan IP (Indeks Pertanaman) dan peningkatan kesejahteraan petani.

Hal ini sejalan dengan arahan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Prof. Dedi Nursyamsi. Menurutnya, masalah pangan adalah masalah yang sangat utama, hidup matinya suatu bangsa.

“Pertanian tidak boleh berhenti apapun yang terjadi untuk mencukupi kebutuhan 267 juta jiwa. Saat ini pejuang melawan Covid-19 bukan hanya dokter, perawat dan tenaga medis, tapi juga seluruh insan pertanian yang bahu membahu menyediakan pangan bagi seluruh masyarakat,” tutur Dedi.

 

 

Reporter : Ana Rahmawati/Yeniarta (BBPP KETINDAN))
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018