Tuesday, 07 July 2020


KTNA dan Penyuluh Dorong Penggunaan Alsintan

11 May 2020, 23:54 WIBEditor : Clara

Alsintan mampu tingkatkan produktivitas padi di Indramayu | Sumber Foto:Tarminah

TABLOIDSUNARTANI.COM, Indramayu --- Guna menekan biaya produksi dan efesiensi waktu menjadi alasan para penyuluh pertanian dan Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) pada setiap kecamatan di Kabupaten Indramayu selalu mendorong penggunaan alat mesin pertanian (alsintan) secara lebih luas.

Ini juga menjadi solusi tepat guna mengatasi semakin sedikitnya buruh tani. Ketua KTNA Bangodua, Ahmad Dasuki menyebutkan belum familiarnya petani dengan alsintan membuat mereka berpikir alsintan akan mengurangi penghasilan buruh tani. Ahmad menyanggah dan mengatakan bahwa alsintan menjadi solusi tepat guna yang memiliki banyak keunggulan, diantaranya dapat mempercepat proses waktu musim tanam dan panen. 

"Paling tidak ada tiga alsintan yang harus benar-benar digunakan secara maksimal yakni transplanter, traktor roda tiga, dan combine harvester. Ketiganya bisa digunakan semua petani bukan hanya oleh petani yang masuk anggota Kelompok Tani (Poktan)," terang Ahmad, Sabtu (9/5).

Pertanian di Kabupaten Indramayu tiap tahunnya terus mengalami pertumbuhan yang menggembirakan dengan rata-rata hasil panen 7 ton per hektar. Ahmad mengatakan hasil produksi padi Kabupaten Indramayu mencapai 1.393 ribu ton, di atas Kabupaten Karawang dan Subang. 

"Dari hasil panen 2018, sekarang kita KTNA di setiap Kecamatan terus berusaha agar hasil panen terus meningkat, salah satunya modernisasi sistem pertanian mulai dari pengolahan dan pemeliharaan lahan secara terpadu, serta penggunaan alsintan yang merata," ujarnya. 

Berkaca dari sektor pertanian padi yang menjadi primadona di Kabupaten Indramayu dan beras menjadi makanan pokok penduduk Indonesia. "Kabupeten Indramayu menjadi salah satu daerah penyangga menjaga stok kebutuhan beras bagi 267 juta jiwa penduduk Indonesia," ungkap Sujana.

Sujana merupakan sosok petani muda yang punya komitmen dan berharap alsintan ini bisa dimanfaatkan oleh semua petani. Kelangkaan tenaga kerja terutama pada musim tanam dan panen sangat berpengaruh pada biaya produktivitas usaha tani sehingga keuntungan petani semakin kecil. Sejak 2018, Sujana terus berusaha mencoba menerapkan penggunaan combine harvester, dari mulai yang kecil sampai yang besar terasa sekali alat ini membantu petani

Penyediaan kebutuhan beras bagi penduduk Indonesia, menurut Sujana harus ditopang dengan peralatan yang lebih modern, salah satunya mengoptimalkan penggunaan alsintan bantuan dari pemerintah yang ada di setiap kelompok tani untuk semua kalangan petani.

"Indramayu memilki lahan pertanian sangat luas. Untuk sawah irigasi 95.805 hektar, dan sawah tadah hujan 22.191 hektar, kita selalu mendorong modernisasi di sektor pertanian jangan sampai kalah dengan negara-negara lainnya," ujarnya.

Sementara itu Penyuluh Pertanian Bangodua, Tarminah menjelaskan alsintan combine harvester ini merupakan alat yang memiliki tiga fungsi yaitu menuai, merontok, dan menampi jadi satu, sehingga kualitas mutu hasil gabah bagus bersih dari kotoran dan gabah tak berisi. Alat ini dinilainya lebih bagus dari alat pascapanen lainnya yang sudah ada.

"Saatnya petani lain melihat mencontoh melaksanakan kegiatan ini sehingga ke depan masyarakat petani bisa merasakan manfaat dari combine harvester ini," pungkasnya.

Reporter : Tarminah/Tiara
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018