Monday, 10 August 2020


Bioneensis, Hemat 50 Persen Penggunaan Pupuk Kimia

15 May 2020, 16:33 WIBEditor : Ahmad Soim

Aplikasi pupuk hayati pada tanaman bibit sawit | Sumber Foto:PPKS Medan

Penggunaan pupuk hayati ini dapat meningkatkan efisiensi biaya pemupukan hingga 25 persen, plus pertumbuhan dan produktivitas tanaman yang lebih baik.

TABLOIDSINARTANI.COM – Dari perakaran kelapa sawit, berhasil dikembangkan pupuk hayati bermikroba yang bisa menghemat penggunaan pupuk an organic atau pupuk kimia hingga 50 persen.

 

Direktur Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan Edwin Lubis menuturkan pupuk yang diberinama Bioneensis ini sudah dipakai untuk kelapa sawit, bawang merah dan jagung.

 

Pupuk dalam budidaya tanaman memerlukan  biaya yang tinggi yakni mencapai 40-60 persen.  “Pemupukan yang  tidak diikuti dengan pengembalian bahan ramah lingkungan, menyebabkan terjadinya degradasi kesuburan dan kesehatan tanah,” tambahnya. Selain itu, juga bisa menurunkan efisiensi pemupukan, rentan munculnya penyakit, menurunnya kesehatan tanaman, dan  produktivitasnya tidak sustain.

Dalam 5 tahun ungkap Edwin Lubis, C organic tanah bisa mengalami penurunan 15-40 persen. Untuk mengembalikan keseburan tanah, PPKS Medan merekayasa pupuk hayati yang mengandung bakteri penambat nitrogen,  bakteri pelarut fosfat,  bakteri penghasil IAA, dan bahan organik ramah lingkungan.

 

“Bahan aktif (mikroba) pupuk hayati ini diisolasi dari perakaran kelapa sawit, komposisi formula menggunakan by  product kelapasawit dan tebu, mudaha diaplikasi di lapangan, memiliki daya adaptasi tinggi pada berbagai kondisi pH tanah (4‐11),  ramah lingkungan, durasi penyimpanan yang cukup panjang, dan aman dalam pemakaian,” jelasnya kepada tabloidsinartani.com (15/5).

 

Aplikasi Bioneensis dapat meningkatkan ketersediaan hara N,  meningkatkan penyerapan hara N dan P tanaman bawang, dan  meningkatkan penyerapan hara N dan P oleh bibit sawit. Aplikasi Bioneensis juga  meningkatkan bahan organic tanah hingga 80 persen. “Bahkan aplikasi Bioneensis dapat meningkatkan populasi bakteri hingga 1000 x lipat,” tambahnya.  

 

Bioneensis menghasilkan biomassa kering jagung 30 – 50 persen lebih tinggi dibandingkan menggunakan 100 persen  pupuk anorganik. Pada tanaman sawit yang sudah menghasilkan, aplikasi Bioneensis  meningkatkan rerata berat tandan dan produktivitas tanaman.

 

Secara Analisa usaha tani, penggunaan Bioneensis mampu meningkatkan efisiensi pemupukan anorganik hingga 50 persen. Total benefit petani dari penggunaan campuran pupuk an organic dan pupuk hayati ini dengan dosis 50:50 mencapai 15-39 persen, berasal dari biaya pemupukan (10‐25 persen) dan peningkatan pendapatan (5 persen). Pencapaian efisiensi biaya pemupukan sangat tergantung pada dosis pupuk standan dan penerapan kultur teknis.

 

Dari penggunaan biaya pemupukan, penggunaan pupuk hayati ini dapat meningkatkan efisiensi biaya pemupukan hingga 25 persen, plus  pertumbuhan dan produktivitas tanaman yang lebih baik.

Reporter : Som
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018