
Alsintan untuk petani
TABLOIDSINARTANI.COM, Banyuwangi--Memasuki musim tanam (MT II) yang berbarengan datangnya musim kemarau, sejumlah petani di Desa Wringin Agung, Kec. Gambiran, Kab.Banyuwangi mulai olah lahan. Setelah olah lahan dan menyemai benih padi, diperkirakan pada pertengahan Juni, mereka mulai tanam.
Ketua unit pelayanan jasa alsintan (UPJA) Jaya Makmur, Paimin, mengatakan, seiring banyaknya petani yang olah lahan dan menyemai benih padi, manajemen UPJA juga banjir sewa alsintan, khususnya traktor. "Umumnya yang menyewa alsintan kelompok tani di Kecamatan Gambiran. Alsintan yang banyak di sewa adalah traktor. Ada juga combine harvester, tapi intensitasnya sudah mulai berkurang," kata Paimin, di Banyuwangi, Kamis (4/6).
Menurut Paimin, petani mulai panen pada April lalu dan puncaknya pada Mei 2020. Begitu panen selesai, sebagian petani yang sawahnya ada irigasi langsung olah lahan.
" Olah lahan ini untuk mengejar musim tanam (MT II) yang berbarengan dengan musim kemarau," ujarnya.
Paimin memperkirakan, pertengahan Juni 2020 akan berlangsung musim tanam di Kec. Gambiran. Dengan begitu, memasuki MT II, sewa alsintan yang dikelola UPJA Jaya Makmur akan bergerak terus.
" Insya Allah sewa alsintannya terus bergerak," ujarnya.
Awal April lalu, manajemen UPJA Jaya Makmur sempat melakukan terobosan untuk menyewakan combine harvester ke daerah lain yang sudah panen padi. Manajemen UPJA sampai menyewakan alat pemanen padi ke Kecamatan Tegal Dlimo, Kabupaten Banyuwangi.
" Kami harus melakukan terobosan supaya alsintan yang kami kelola tak mangkrak. Upaya harus dilakukan agar kami bisa melakukan perawatan alsintan secara rutin," kata Paimin.
Paimin mengaku, April lalu pihaknya menyewakan combine harvester ke luar daerah, karena di kecamatanya belum banyak panen. Sebab, petani di Kec.Gambiran tanamnya baru Januari lalu, sehingga prakiraan panennya pada akhir April tahun ini.
Menurut Paimin, sewa combine harvester sudah mulai ramai pada April hingga akhir Mei. Namun, saat memasuki MT II Juni 2020, sewa combine harvester mulai berkurang.
" Sebab, masa panennya sudah berkurang. Petani sudah mulai olah lahan dan menyemai benih," ujarnya.
Unit jasa pelayanan alsintan (UPJA) yang didirikan Gapoktan Tani Agung, lanjut Paimin juga punya pelanggan kelompok tani di luar Kec. Gambiran. Diantaranya, sejumlah kelompok tani di Kec. Blimbing Sari (dekat bandara) dan Srono.
Paimin mengaku, banyak keuntungan yang petani dapatkan dengan menggunakan alsintan. Salah satunya adalah mempercepat pekerjaan petani.
Menurut Paimin, petani yang panen dengan combine harvester hanya perlu waktu 3 jam/ha. Setelah panen, petani langsung mengolah lahan dengan traktor.
Olah lahan menggunakan traktor tangan juga sangat membantu petani. Apabila menggunakan traktor, lahan seluas 0,25 ha hanya perlu waktu setengah hari.
Sedangkan, sewa traktor tangan hanya dipatok dengan harga Rp 300 ribu per 0,25 ha atau sekitar Rp 1,4 juta/ha. Sewa rice transplanter plus benihnya hanya dipatok Rp 800 ribu/ha.
" Sewa alsintan juga terjangkau petani.
Bagi petani atau kelompok tani yang menyewa combine harvester hanya dipatok dengan harga sewa sebesar Rp 1,2 juta/ha," paparnya.