Thursday, 09 July 2020


Intip Cara Petani Bengkulu Tengah Hindari Padi Keracunan Besi

10 Jun 2020, 16:02 WIBEditor : Gesha

Hindarkan dari keracunan besi | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Bengkulu Tengah -- Di Bengkulu Tengah, petani setempat selalu mengolah tanahnya agar pertanaman padi mereka terhindar dari keracunan besi. Yuk diintip cara seperti apa?

Gejala keracunan besi pada padi sawah di Sri lanka disebut bronzing (merah tembaga), di Filipina disebut yellowing (kekuningan), di Malaysia disebut penyakit merah, sedangkan di Jepang disebut akagare I dan II.  Di Indonesia ada yang menyebutnya  dengan nama mentek(penyakit merah), mutut (terhambatnya perkembangan daun bendera), dan petani Banjar menyebutnya sebagai penyakit  habang.

Tanaman padi yang mengalami keracunan besi dapat dijumpai hampir seluruh Negara penghasil padi di dunia, terutama di Asia Tenggara.  Gejala keracunan besi pertama kali di Indonesia dilaporkan keberadaannya  Cihea Jawa Barat.

"Penyabab keracunan besi sangat beragam, tidak hanya ditentukan oleh faktor tanah (pH, kadar besi yang tinggi, kahat hara dan tidak seimbangnya hara tanah), tetapi juga dapat disebabkan oleh keadaan air irigasi dan lokasi," ungkap penyuluh pertanian dari Bengkulu Tengah, Sailan kepada tabloidsinartani.com.

Adapun gejala keracunan besi yang pernah muncul di Bengkulu Tengah, Sailan menjelaskan dimulai dari munculnya bintik-bintik kecoklatan pada ujung daun tua, kemudian berkembang menjadi merah kecoklatan, oranye, atau kekuningan pada seluruh daun yang kemudian menjadi kering dan menggulung. Perakaran tanaman pendek, kasar, dan berwarna kecoklatan serta dalam keadaan yang parah, akar tanaman membusuk. "Gejala timbul pada fase pertumbuhan tanaman, tetapi pada umumnya pada saat berbunga dan keluar malai," tambahnya.

Petani pun sudah diajari berbagai cara pengendalian keracunan besi yang mungkin bisa terjadi di lahan persawahan Bengkulu Tengah ini. Dimulai dengan pemupukan dengan kalium sebab Pupuk Kalium secara konsisten meningkatkan hasil padi dan dapat mengatasi keracunan besi. "Pengaplikasiannya dimulai pada 30 hari setelah tanam (top dressing) atau diberikan 2-3 kali untuk meningkatkan hasil tanaman," tuturnya.

Kemudian dilakukan pemberian pupuk berimbang dan lengkap (NPK) untuk meningkatkan hasil dua kali lipat dibandingkan hanya memberikan pupuk N dan P saja. "Hal ini menunjukkan bahwa keseimbangan hara, terutama N dan K sangat diperlukan guna mengatasi munculnya gejala keracunan besi. Walaupun demikian pemberian pupuk N yang tinggi akan merangsang munculnya keracunan besi.  Oleh karena itu, nutrisi K selalu berhubungan dengan suplai dari  N dan efesiensi penggunaan N berhubungan erat dengan pupuk K," tambahnya.

Gunakan varietas padi yang toleran seperti varietas Kapuas yang lebih toleran dari IR 64 terhadap keracunan besi.  Penggunaan  varietas toleran merupakan suplemen dan salah satu  alternative untuk mengatasi keracunan besi terutama di tanah sulfat masam.

Lakukan juga pengeringan lahan, sebab gejala keracunan besi tampak jelas ketika tanaman dalam fase pertumbuhan anakan aktif dan saat bunting atau keluar malai.  Oleh karena itu, pada fase tersebut dapat diupayakan dengan cara pengeringan lahan dan pemberian pupuk K. "Minimal pengeringan lahan dilakukan 2 kali (umur 30 dan 60 HST), hal ini dapat mencegah keracunan besi yang sekaligus akan meningkatkan hasil padi," tuturnya.

Kemudian gunakan bahan organik, pupuk organic dari kotoran ayam lebih baik dari bahan organic lainnya.  Walaupun demikian kotoran hewan lebih baik dibandingkan dengan pupuk hijau atau sisa tanaman.

'Sebab Kotoran ayam mengandung P dan K yang lebih tinggi dibanding bahan organic lainnya. Bahan organic akan menggantikan peranan pupuk K pada tanah keracunan besi di lahan sawah," jelasnya.

Bahan organik akan  memberikan daya pegang tanah terhadap hara yang diberikan, terutama K yang mudah tercuci dan akan merangsang pertumbuhan akar rambut serta meningkatkan kemampuan mekanisme penolakan Fe. Selain itu, bahan organic mempercepat reduksi tanah dan meningkatkan populasi mikroba pereduksi dan penumpukan Fe ++ (serapan Fe menjadi rendah).

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018