Wednesday, 15 July 2020


Mau Mulai Menyemprot Pestisida?Perhatikan Tips Berikut

25 Jun 2020, 12:01 WIBEditor : Gesha

Penyemprotan pestisida | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Di antara berbagai cara penggunaan pestisida, hampir 75 persen dilakukan dengan cara disemprotkan. Ketidak efektifan pestisida terhadap OPT sasaran salah satunya disebabkan oleh kesalahan teknis penyemprotan. 

Untuk melakukan penyemprotan, peralatan semprot sebaiknya diperhatikan mulai dari pompa semprot, selang, dan nozzle atau spuyer.

Pompa  semprot  harus   mempunyai  tekanan  yang  optimum.  Untuk   penyemprot punggung, tekanan optimumnya adalah 3 bar (atmosfer), sedangkan untuk penyemprot mesin (power sprayer) tekanan optimumnya adalah 8 – 10 bar.

Selain itu, periksa pompa tersebut apakah ada yang bocor karena kondisi pompa semprot yang bocor akan mengurangi tekanan semprot. Jika tekanan semprot kurang dari ketentuan tersebut, akan dihasilkan butiran semprot yang terlalu besar, sehingga sulit menempel pada permukaan tanaman, akibatnya hasil penyemprotan tidak merata.

Jika tekanan semprot terlalu tinggi akan dihasilkan butiran semprot yang terlalu kecil, yang mudah tertiup angin sehingga tidak mengenai tanaman.

Pastikan bahwa selang yang digunakan mampu menahan tekanan semprot sesuai dengan jenis pompa yang digunakan. Selang yang tidak sesuai dengan peruntukannya akan mudah pecah dan bocor sehingga dapat mengurangi tekanan sempprot. Pada beberapa merek dagang selang kemampuan menahan tekanan dicantumkan pada badan selang tersebut.

Pemilihan jenis nozzle atau spuyer perlu mendapat perhatian, karena jenis spuyer menentukan ukuran butiran semprot, yang akan berpengaruh terhadap keberhasilan penyemprotan.

Dengan penggunaan spuyer yang tepat akan dihasilkan butiran semprot dengan ukuran yang tepat pula, yaitu 150-200 mikron. Umur spuyer juga berpengaruh terhadap ukuran butiran semprot.

Spuyer yang telah lama digunakan, lubangnya akan membesar akibat korosi. Oleh karena itu spuyer hollow cone 4 lubang paling lama digunakan selama 6 bulan.

Larutan Semprot

Untuk melarutkan pestisida harus digunakan air bersih. Air kotor yang berasal dari sungai atau selokan tidak terjamin mutunya, karena mungkin mengandung logam berat yang akan bereaksi dengan bahan aktif pestisida, yang akan menyebabkan efikasi pestisida tersebut menurun. Selain itu, air kotor mungkin juga sudah tercemar oleh patogen penyakit yang akan membahayakan bagi tanaman yang dibudidayakan.

Pada umumnya pestisida bersifat asam. Pada kondisi basa akan terjadi  hidrolisis yang akan menyebabkan waktu paruh pestisida menurun. Waktu paruh pestisida ialah periode sejak terjadinya deposit pestisida sampai hanya setengah (50 persen) deposit tersebut yang tersisa sebagai residu.

Selain itu, pH air berpengaruh pula terhadap umur larutan semprot. Umur larutan semprot ialah periode sejak pembuatan larutan semprot sampai larutan semprot tersebut diaplikasikan.

Jika pH air 3,5-6 umur larutan semprot 12 jam, sedangkan jika pH air 6,1-7 umur larutan semprot hanya 2 jam. Dengan demikian, pH air yang diperlukan untuk membuat larutan semprot adalah pada kisaran 4,5 -5. Oleh karena itu jika pH air lebih besar dari 5, maka harus diturunkan menggunakan Asam Nitrat (HNO3) atau larutan penurun pH lainnya. 

Larutan semprot hendaknya dibuat di dalam wadah yang terpisah dari alat semprot. Jika digunakan penyemprot punggung, maka larutan semprot harus dibuat di dalam wadah yang volumenya lebih besar dari kebutuhan volume semprot itu sendiri.

Hal tersebut dimaksudkan agar proses pengadukan dapat dilaksanakan dengan baik, sehingga diperoleh larutan yang homogen. Praktik pembuatan larutan semprot langsung di dalam tangki semprot tidak dapat dibenarkan karena larutan semprot tersebut tidak akan homogen, akibatnya efikasi pestisida tersebut menurun.

Jika digunakan penyemprot bertekanan tinggi (power sprayer), pestisida mula- mula diencerkan dengan cara dilarutkan dalam air di dalam wadah yang berukuran lebih kecil, lalu diaduk sampai merata. Setelah itu disiapkan wadah yang berukuran besar (misalnya drum) dan diisi dengan air bersih sesuai dengan volume yang dibutuhkan.

Larutan pestisida yang telah diencerkan tersebut sedikit demi sedikit dimasukkan ke dalam drum yang telah berisi air bersih sambil diaduk hingga larutan pestisida tersebut homogen.

Reporter : Tonny Moekasan dan Fauzi Haidar
Sumber : Puslithorti
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018