Thursday, 06 August 2020


Asal Tepat Waktu, Petani Tak Permasalahkan Harga Pupuk Bersubsidi Naik

26 Jun 2020, 11:39 WIBEditor : Indarto

Pupuk bersubsdi langka | Sumber Foto:Dok. istimewa

Bagi petani masalah kenaikan harga tidak menjadi persoalan. Sebab, kalau terjadi kelangkaan pupuk bersubsidi petani terpaksa membeli pupuk non subsidi yang tentu saja harganya lebih mahal.

 


TABLOIDSINARTANI.COM, Sukoharjo--- Keberadaan pupuk bersubsidi tepat waktu, tepat jumlah dan sasaran sangat didambakan petani saat musim tanam tiba. Namun, harapan petani untuk mendapatkan pupuk bersubsidi yang harganya murah dan tepat waktu kerap kali tak terwujud. 

Justru sebaliknya,  sejumlah petani kesulitan mendapat pupuk bersubsidi ketika musim tanam tiba,  karena terjadi kelangkaan pupuk  bersubsidi di tingkat petani. Langkanya pupuk bersubsidi sudah terjadi di Jawa Timur (Jatim) beberapa waktu lalu. Kelangkaan pupuk bersubsidi pun sempat terjadi di Sukoharjo, Jawa Tengah (Jateng) minggu lalu.

" Minggu lalu sempat langka. Namun, minggu ini alhamdulillah sudah ada (datang)," ujar salah satu petani Desa Dalangan, Kecamatan Tawangsari, Sukoharjo, Sukar, di Sukoharjo, Jumat (26/6).

Menurut Sukar,  distribusi pupuk bersubsidi di Kecamatan Tawangsari selama ini sudah tepat sasaran. " Hanya waktu distribusinya ke petani yang kerap kali lambat. Dan hal inilah yang membuat keberadaan pupuk bersubsidi langka," kata Sukar.

Mantan Ketua Gapoktan Tani Mandiri ini mengaku, sebenarnya bagi petani masalah kenaikan harga tidak menjadi persoalan. Sebab, kalau terjadi kelangkaan pupuk bersubsidi petani terpaksa membeli pupuk non subsidi yang tentu saja harganya lebih mahal.

" Karena itu, kalau harga eceran tertinggi (HET) mau dinaikkan petani tak masalah. Asalkan, harga gabah nanti juga naik. Ketersediaan pupuk tepat waktu dan ada kepastian jaminan harga ke petani," papar Sukar.

Menurut Sukar, keberadaan pupuk bersubsidi sangat penting untuk mendorong peningkatan produksi padi petani. Karena itu, apa bila terjadi kelambatan pemberian pupuk dikawatirkan akan berdampak terhadap menurunnya produksi padi.

" Untuk itu, penyaluran pupuk bersubsidi harus tepat waktu. Jangan sampai terlambat. Apalagi untuk budidaya padi yang rata-rata sudah super intensif, sangat memerlukan daya dukung, salah satunya adalah pupuk," paparnya.

Sukar mengatakan, dalam budidaya padi perlu pemupukan seimbang. Artinya, selain pupuk kimia juga diperlukan pupuk organik.
Pupuk kimia yang biasa digunakan berupa pupuk tunggal dan majemuk. Sedangkan, pupuk organik yang digunakan adalah kompos.

Menurut Sukar, dalam satu hektar (ha) lahan padi diperlukan pupuk urea sekitar 2 kwintal (kw), NPK 3 kw, dan Sp 36 1 kw.  " Kebetulan kami tak gunakan pupuk organik bersubsidi. Kami pakainya kompos," pungkas Sukar. 

 

Reporter : Dimas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018