Wednesday, 23 September 2020


Wereng Hijau Bahaya !, Kendalikan Sebelum Meluas

01 Jul 2020, 16:31 WIBEditor : Gesha

Pengendalian Wereng Hijau | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Berau --- Serangan hama wereng hijau di Kampung Tasuk, Kecamatan Gunung Tabur, Kabupaten Berau membuat risau. Namun berkat bimbingan penyuluh dan penggunaan pestisida tepat guna, wereng hijau bakal minggat dari Berau.

Hama wereng hijau telah menyerang persawahan yang terletak di Desa Kampung Tasuk, Kecamatan Gunung Tabur, Kabupaten Berau.  Seluas 5 ha tanaman padi pada areal lahan potensial seluas 147 ha telah diserang wereng hijau, yang mengakibatkan terjadinya pengeringan pada daun.

Karena itu, pada pertengahan Juni 2020,  Dinas Pertanian Kabupaten Berau  mengadakan Gerakan Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) terhadap Hama Wereng Hijau, untuk mencegah meluasnya serangan hama wereng tersebut. Semangat Kepala Dinas Pertanian Berau untuk segera melakukan Gerakan pengendalian OPT.

Gerakan pengendalian OPT ini dihadiri oleh Kepala Dinas Pertanian Berau drh Mustakim, Kabid Pertanian  Ir. H. Zulkifli, PPL WKPP Gunung Tabur  Hermi Ervina, Ketua Kelompok Tani (Poktan) Padat Karya  Purnomo, dan POPT Margono.  

"Serangan Wereng HIjau ini gejala awalnya tidak terlihat karena tanaman padi terlihat hijau padahal pada areal tanaman sudah ada populasi Wereng Hijau . Wereng Hijau ini menyerang tanaman dengan cara menusuk menghisap cairan tanaman sehingga tanaman yang terserang akan mengering (hopper-burn)," ungkap POPT Margono.

Cara dan siklus hidup hama wereng hijau ini juga diperkenelkan kepada petani agar ditemukan cara pengendalian yang tepat sebab Wereng Hijau adalah salah satu hama padi yang paling berbahaya dan merugikan.

"Apabila ditemukan populasi Wereng Hijau. perlu segera dikendalikan sebelum serangan meluas.  Pengamatan pada pangkal batang dilakukan secara intensif dan rutin maksimal 3 hari sekali.  Apabila jumlah wereng hijau yang ditemukan 7-9 ekor per rumpun, perlu segera diatasi dengan pestisida baik secara hayati maupun kimiawi," ungkap Margono

Wereng Hijau biasa menyerang  pada setiap fase pertumbuhan sejak fase persemaian  sampai tanaman vegetatif.  Apabila populasi tinggi, maka tanaman fase generatif bisa terserang.

Pestisida Opsi Terakhir

Selama ini masyarakat sudah melakukan pengendalian dengan pestisida, namun hasilna tidak sesuai harapan karena ketidakpahaman masyarakat tentang pestisida dan cara pengaplikasiannya di lapangan. 

Menurut UU No. 12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman pasal 20 ayat 1 bahwa Perlindungan Tanaman dilaksanakan dengan Sistem Pengendalian Hama Terpadu, dimana pestisida merupakan alternatif terakhir. 

Dalam pengaplikasian pestisida, harus menerapkan 5 tepat yaitu tepat  sasaran, tepat dosis dan konsentrasi, tepat waktu, tepat cara dan tepat jenis.Selanjutnya penggunaan pestisida tidak boleh terus menerus dengan alasan musuh alami bisa ikut mati sehingga hama menjadi merajalela karena telur-telur hama tidak mati, sehingga akan terdi ledakan serangan hama.

Pada kesempatan tersebut, pengendalian dilakukan baik di penangkaran benih maupun di pertanaman padi yang baru berumur 2 minggu setelah tanam.  Untuk persemaian, diberikan Furadan, sedangkan untuk pertanaman diberikan Aploid 10 WP.

Diharapkan setelah adanya gerakan pengendalian ini masyarakat bisa mengerti tentang siklus hidup Wereng Hijau  sehingga bisa dikendalikan sebelum tanaman mongering  yang bisa menyebabkan gagal panen.

Disamping itu, para petani dapat mengaplikasikan pestisida dengan benar sehingga bisa menghasilkan produksi yang optimum, dan dapat memberikan dukungan terhadap kecukupan pangan bagi 267 juta jiwa masyarakat Indonesia, seperti yang cita-citakan oleh Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo,  dan menjaga kelestarian lingkungan.  

Reporter : Sri Wiji Astuti
Sumber : Penyuluh Pertanian Pusat
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018