Sunday, 09 August 2020


Ingin Bertani Ramah Lingkungan? Datang ke Klinik PHT

07 Jul 2020, 15:26 WIBEditor : Yulianto

Klinik PHT menjadi tempat bagi petani berkonsultasi mengenai pertanian ramah lingkungan | Sumber Foto:Humas Ditjen Horti

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Produk hortikultura yang aman konsumsi dan berdaya saing sudah menjadi kebutuhan.  Hal ini mengingat semakin meningkatnya tuntutan dan kesadaran masyarakat akan pola hidup sehat, serta persyaratan ekspor terhadap produk yang berkualitas dan aman konsumsi.

Karena itu, budidaya pertanian secara ramah lingkungan menjadi cara menghasilkan produk yang aman konsumsi tersebut. Bagi petani yang ingin membudidayakan tanaman secara organik atau ramah lingkungan bisa datang ke Klinik Pengendalian Hama Terpadu (PHT).

PHT merupakan salah satu kelembagaan petani di tingkat Kecamatan berfungsi memproduksi APH di tingkat petani. Di samping itu, Klinik PHT juga berfungsi sebagai forum pertemuan dan diskusi bagi petani.

"Tujuannya adalah untuk menyelesaikan berbagai permasalahan terkait dengan proses budidaya tanaman di lahan mereka," ujar Ketua Klinik PHT “Baji Ati”, Ilyas. Klinik PHT yang berlokasi di Kelurahan Bontotangnga, Kecamatan Tamalatea, Kabupaten Jeneponto ini berkomitmen dan eksis memproduksi APH.

Ilyas mengatakan, pihaknya memproduksi beberapa jenis APH. Trichodema murni, Trichokompos, Pseudomonas fluorescens, Plant Grow-Promoting Rhizobacteria (PGPR) dan pestisida nabati. "Selain itu, kami juga memproduksi beberapa jenis pupuk organik antara lain pupuk organik cair yang dibuat dengan pemanfaatan limbah ternak,” lanjut Ilyas. 

Produk APH dari kliniknya sudah banyak diterapkan petani sebagai pengganti pestisida sintetis. Secara ekonomi relatif lebih murah,  serta ramah lingkungan dan produk aman konsumsi serta relatif lebih tahan lama dalam penyimpanan.

Ilyas menambahkan, kliniknya melakukan sosialisasi APH dan pupuk organik yang dihasilkannya dengan menerapkan di kebun maupun di kelompok tani sebagai contoh bagi petani lainnya. "Bahkan di lahan kami juga terapkan sistem pertanian organik untuk tanaman sayuran," katanya.

Untuk kemajuan dan keberlanjutan Klinik PHT tersebut, Unit Pelaksana Teknis Daerah Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (UPTD BPTPH) Provinsi Sulawesi Selatan juga mengambil peran melalui pendampingan dan pembinaan teknis.

Kepala UPTD BPTPH Prov. Sulawesi Selatan, Uvan Nurwahidah mengatakan, sangat mendukung keberadaan Klinik PHT dalam penerapan pertanian ramah lingkungan. Karena itu, pihaknya memberikan fasilitasi sarana, serta pembinaan dan pendampingan klinik PHT maupun pengelolaan APH. “Kami sediakan stater dan pengawasan terhadap mutu APH yang diproduksinya,ujarnya.

Tidak harus Pestisida Sintentik

Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto menyatakan, pihaknya mendukung produksi sayuran, buah, dan tanaman obat yang dibudidayakan secara sehat dan ramah lingkungan. "Untuk pasar lokal, tentunya kami sudah mengupayakan produk yang berkualitas dan aman konsumsi dengan harga yang terjangkau bagi konsumen," ujarnya.

Untuk memenuhi tuntutan tersebut, menurutnya, penerapan sistem pertanian ramah lingkungan dalam sistem budidaya hortikultura merupakan upaya yang tepat untuk dikembangkan. Dalam pertanian ramah lingkungan, pengelolaan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) tidak hanya menggunakan pestisida sintetik.

"Begitu pun dengan pupuk yang dapat disiapkan sendiri sehingaa lebih murah dan terjangkau, sekaligus sehat bagi ekosistem pertanian. Sebagaimana sering diinstruksikan Menteri Pertanian (Syahrul Yasin Limpo,red)," katanya.

Anton, sapaannya Dirjen Hortikultura itu memaparkan, pengelolaan OPT dapat dilakukan secara preemtif sejak mulai persiapan lahan. Misalnya dengan menambahkan pupuk organik dan mikroba yang bermanfaat sebagai dekomposer maupun yang sifatnya sebagai antagonis untuk mengendalikan hama penyakit.

Dalam penerapan pertanian ramah lingkungan, tentu saja perlu dukungan sarana budidaya yang ramah lingkungan, khususnya dalam pengendalian OPT. Agens pengendalian hayati (APH) merupakan alternatif pengganti  pestisida sintetis. Jenis APH dapat bersifat sebagai entomo-patogen, agens antagonis, serta pestisida nabati.

Direktur Perlindungan Hortikultura, Sri Wijayanti Yusuf menyatakan dukungannya terhadap pengembangan APH. Kebijakan perlindungan hortikultura dalam pengendalian OPT harusnya menerapkan teknologi pengendalian ramah lingkungan. Antara lain penggunaan APH dan pestisida atau bahan pengendali OPT spesifik lokasi.

"Untuk mengembangkan APH perlu memberdayakan kelembagaan petani antara lain melalui Klinik PHT. Direktorat Jenderal Hortikultura tetap memberikan dukungan berupa sarana dan bimbingan teknis," jelas dia.

 

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018