Thursday, 06 August 2020


Tinggalkan Pestisida Kimia, Petani Sambas Beralih ke Pesnab Micessla

09 Jul 2020, 15:04 WIBEditor : Yulianto

Petani Sambas mengaplikasikan Pesnab Micessla | Sumber Foto:BBPP Ketindan

TABLOIDSINARTANI.COM, Sambas---Hama dan penyakit menjadi musuh petani yang kerap menyerap tanaman padi. Enggan menggunakan pestisida kimia, petani di Kecamatan Jawai, Kabupaten Sambas, akhirnya memilih pestisida nabati (Pesnab) Micessla.

Padli salah satu petani peserta Integrated Participatory Development Management of Irrigation Project (IPDMIP) di Desa Sentebang, Kecamatanm Jawai, merasakan manfaat pesnab Micessla yang merupakan produk Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan, Malang.

Ia mengakui sangat terbantu dalam budidaya padi, karena tidak banyak mengeluarkan biaya perawatan tanaman. Periode musim tanam lalu, Padli harus merogoh kocek hingga Rp 1 juta hanya untuk membeli pestisida. Setelah saya menggunakan micessla di periode musim tanam berikutnya, saya hanya menghabiskan Rp 200 ribu saja,” ujarnya.

Sementara itu, Penyuluh Pertanian Kecamatan Jawai, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, Darman Irawan  mengatakan, setelah mendapat pelatihan pembuatan pesnab Micessla dari BBPP Ketindan, dirinya langsung menerapkan ke petani. Bahkan petani sangat antusias dalam pembuatan micessla sebagai pesnab ramah lingkungan ketimbang pestisida kimia.

“Materi pembuatan pestisida nabati (pesnab) Micessla telah saya aplikasikan bersama kelompok tani binaannya, sehingga dapat digunakan untuk pengendalian hama tanaman padi,” katanya.

Bahkan menurut Darma, petani sangat terbantu karena efektif mengendalikan hama penggerek batang pada tanaman padi. Untuk musim tanam gadu ini, dirinya bersama petani akan membuat pesnab lagi. “Musim tanam yang lalu petani di wilayah kerjanya sudah pernah menerapkan pesnab micessla dan hasilnya bagus,” ujarnya.

Ia menceritakan, saat petani sudah selesai tandur, biasanya masalah serangan hama dan penyakit akan muncul, sehingga perlu antisipasi sedini mungkin. Salah satu cara pengendalian hama tersebut adalah dengan menggunakan pestisida organik yang memanfaatkan tanaman obat seperti daun mimba, cengkeh, sirih, serai wangi dan lengkuas.

Dewi Melani, widyaiswara BBPP Ketindan, mengapresiasi Kostratani Kecamatan  Jawai untuk melakukan pembelajaran secara online. “Saya bahagia dan senang sekali bisa berbagi ilmu dengan penyuluh dan petani, meskipun jarak dari Malang ke Sambas itu sangat jauh.Tetapi Kostratani Jawai membantu pembelajaran ini menjadi mudah,” sambut Dewi.

Pendampingan pembuatan micessla ini merupakan kerjasama yang baik antara Widyaiswara BBPP Ketindan, penyuluh dan petani sebagai pelaku di lapangan. Jadi meski terpisah jarak yang cukup jauh, tapi tidak membuat pembelajaran terhenti. Pemanfaatan Kostratani sebagai media hubung pembelajaran dengan penyuluh dan petani dapat dilakukan.

Produk Ramah Lingkungan

Seperti diketahui, pemerintah telah mulai memberlakukan New Normal di tengah pandemi Covid 19. Ketahanan pangan merupakan korelasi terwujudnya pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) untuk mememuhi kebutuhan pangan bagi 267 juta jiwa rakyat Indonesia.

Karena itu sumber daya yang ada  dapat  dimanfaatkan untuk proses produksi pertanian dengan menekan dampak negatif terhadap lingkungan seminimal mungkin. Keberlanjutan yang dimaksud meliputi penggunaan sumberdaya, kualitas dan kuantitas produksi, serta lingkungannya.  Untuk mendukung pertanian berkelanjutan, Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan Malang melakukan inovasi membuat  formulasi pestisida organik Micessla.

Sementara itu Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, petani harus didorong agar mampu menghasilkan produk pangan yang bermutu. Untuk itu ia berpesan agar petani harus senantiasa menjaga dan meningkatkan kualitas komoditas pertanian yang dihasilkan. Salah satunya dengan cara menerapkan budidaya tanaman sesuai kaidah Good Agriculture Practices (GAP).

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi menyampaikan, Kostratani merupakan gerakan pembangunan pertanian yang berbasis kecamatan dalam rangka mengoptimalisasi fungsi penyuluhan.

“Kostratani itu adalah revitalisasi BPP (Balai Penyuluhan Pertanian). Artinya membangunkan kembali BPP dan penyuluhnya melalui pelatihan peningkatan kapasitas penyuluh, petani dan sebagainya,” kata Dedi.

Dedi mengatakan penyelenggaraan Kostratani dilakukan di BPP. Jadi BPP berfungsi sebagai pusat data dan informasi, pusat pembelajaran untuk penyuluh dan petani, pusat gerakan  pembangunan pertanian, pusat konsultasi agribisnis dan pusat pengembangan jejaring kemitraan. Selain itu BPP menjadi center of excellent semua aktivitas pertanian.

Reporter : Darman Irawan/Yeniarta (BBPP KETINDAN)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018