Sunday, 24 January 2021


Petani Sumenep Manfaatkan KUR untuk Budidaya Bawang Merah

22 Sep 2020, 12:56 WIBEditor : Yulianto

Petani Sumenep sedang menyemprotkan pestisida ke tanaman bawang merah | Sumber Foto:BBPP Ketindan

TABLOIDSINARTANI.COM, Sumenep---Penyediaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) menjadi salah satu upaya pemerintah mempermudah permodalan petani. Di Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep, petani memanfaatkan KUR untuk modal usaha tani bawang merah di lahan marjinal.

Dari beberapa program utama pemerintah, Kostratani Kecamatan Kalianget melakukan sosialisasi kepada petani secara masif pinjaman KUR pertanian untuk dapat mengoptimalkan lahan-lahan marjinal yang ada di Desa Kalimook. Hal ini selaras dengan himbauan Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Sumenep, Arif Firmanto.

“Penyuluh pertanian agar menyosialisasikan ke petani untuk memanfaatkan kemudahan KUR yang diberikan pemerintah, khususnya membantu petani dalam memenuhi kebutuhan modal saat setiap musim tanam,” kata Arif.

Sementara itu Koordinator Kostratani Kecamatan Kalianget, Dewo Ringgih mengatakan, pihaknya selalu menjalin komunikasi dengan pihak perbankan dalam hal ini Bank Rakyat Indonesia (BRI) unit Kalianget untuk dapat memberikan kemudahan penyaluran pinjaman bagi petani. “Kolaborasi penyuluh dan BRI dalam menyosialisasikan KUR Pertanian ini sangat diapresiasi petani,” katanya.

KUR tersebut dimanfaatkan petani, selain mengembangkan budidaya hortikultura buah mangga di lahan marjinal Desa Kalianget Barat, juga komoditas lainnya seperti bawang merah, melon dan cabai di Desa Kalimook. Pada Agustus serapan KUR dari BRI untuk komoditas bawang merah mencapai Rp 250 juta lebih.

Komoditas bawang merah di Desa Kalimook baru dikembangkan pada tahun 2019 seluas 5 ha. Bahkan hasil panennya sangat memuaskan petani, produktivitas yang dihasilkan 12 kali lipat dari jumlah benih yang ditanam.

Tahun 2020 ini luas tanam meningkat menjadi 10 ha dengan memanfaatkan lahan-lahan marjinal yang selama ini tidak terpakai. “Sejak melakukan budidaya bawang merah pendapatan petani semakin meningkat,” ujar Dewo Ringgih.

Sementara itu dalam beberapa kesempatan, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, dengan Kostratani, pertanian lebih maju mandiri bahkan lebih modern. Masyarakat tidak perlu khawatir soal pangan, 11 komoditas bahan pokok dikawal pemerintah secara optimal salah satunya ialah bawang merah," tegasnya.

Kementerian Pertanian terus mendorong agar pertanian tidak boleh berhenti, semua aspek harus terus dioptimalkan baik itu sumber daya alam maupun sumber daya manusianya. Pembangunan pertanian juga harus berjalan hingga ditingkat desa dan kecamatan.

Untuk mempercepat pembangunan pertanian hingga ditingkat kecamatan dan desa, Kementerian Pertanian melakukan gebrakan pembangunan pertanian melalui program strategis Komando Strategis Pembangunan Pertanian (Kostratani) di tingkat kecamatan.

Saat ini Kostratani yang pusat gerakannya ada di kecamatan, gencar berperan dalam pendampingan dan pengawalan terhadap petani ditengah isu rawan pangan akibat pandemic Covid 19 dan musim kemarau.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi mengatakan, meskipun di tengah pandemi Covid-19 sektor pertanian tidak berhenti. Bahkan peran Kostratani justru menjadi sangat penting untuk meningkatkan produksi pertanian.

Optimalisasi tugas, fungsi dan peran Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) sebagai pusat kegiatan pembangunan pertanian ditingkat kecamatan dalam mewujudkan kedaulatan pangan nasional merupakan tujuan jangka panjang dari Kostratani. Sedangkan tujuan jangka pendek Kostratani sebagai pusat informasi data, kelembagaan petani, meningkatkan kapasitas SDM petani dan diseminasi inovasi teknologi.

Dedi menambahkan, Kostratani merupakan salah satu 10 Program Utama Kementan. Program lainnya adalah fasilitas pembiayaan, infrastruktur, dan alat mesin pertanian (alsintan), kredit usaha rakyat (KUR). Kemudian peningkatan produksi tanamam pangan melalui pengembangan kawasan Berbasis  korporasi (Propaktani), dan pengembangan kawasan hortikultura (sayuran, tanaman obat, buah-buahan dan porkutura) berdaya saing (Gedor Horti), Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor atau Gratieks.

 

Reporter : Dewo Ringgih/ Yeniarta (BBPP Ketindan)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018