Sunday, 17 January 2021


Tingkatkan Efisiensi Pupuk sekaligus Lepaskan Ketergantungan Pupuk Subsidi

12 Jan 2021, 12:49 WIBEditor : Gesha

Bimtek pembuatan biodekomposer di daerah | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Sindiran Presiden Joko Widodo tentang belum optimalnya produksi dan produktivitas padi dibandingkan dana subsidi pupuk yang digelontorkan, langsung diantisipasi oleh Kementerian Pertanian dengan berbagai aksi.

Menegaskan penggunaan pupuk bersubsidi yang harus efisien, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian, Prof Dedi Nursyamsi mengajak penyuluh untuk bersama-sama melakukan efisiensi pupuk bersubsidi.

"Widyaiswara, penyuluh agar bergerak turun untuk tingkatkan efisiensi pupuk. Memang kalau sampai lini IV, bukan deskjob kita, tetapi saat  pupuk sudah ada di lahan maka tanggung jawab kita untuk tingkatkan efisiensinya," tegasnya.

Efisiensi tersebut meliputi enam tepat yaitu tepat jenis,  tepat jumlah, tepat harga, tepat tempat,  tepat waktu,  dan tepat mutu. "Ada salah satu yang tidak tepat maka tidak efisien. Dosis yang tidam tepat misalnya memberikan urea lebih dari kondisi tanaman atau tanah," tuturnya.

Di sisi lain, jika petani andalkan subsidi pupuk maka sampai kapanpun petani tidak mandiri, sehingga ketergantungan terhadap pupuk kimia harus dikurangi. "Genjot pupuk organik, biodekomposer, dan sebagainya. Bisa kurangi hingga 50 persen, ini yang harus dilakukan oleh kita," tambahnya.

Dirinya meyakini sudah semakin banyak petani yang mulai beralih mengurangi pupuk kimiawi berkat dukungan Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya ( P4S) dan Penyuluh swadaya yang semakin kreatif dan inovatif memanfaatkan bahan baku lokal untuk kebutuhan pupuk. 

Terlebih lagi sekarang banyak juga petani Milenial yang memiliki wawasan luas terkait efisiensi pupuk yang bisa menularkan ilmunya kepada petani lain di sekitarnya. "Kita targetkan membangun 2.5 juta petani Milenial di seluruh Tanah Air. Caranya dengan menciptakan champion sebanyak-banyaknya kemudian lakukan resonansi di lingkungan masing masing, sehingga tercipta 2.5 juta petani Milenial," beber Prof Dedi.

Reporter : Nattasya
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018