Friday, 26 February 2021


Perlu Political Will Pemerintah untuk Kembangkan Alternatif Pupuk Non Kimia

17 Feb 2021, 15:26 WIBEditor : Gesha

Pupuk Organik perlu political will dari pemerintah | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Berbagai teknologi menghasilkan produk-produk alternatif  pupuk kimia seperti pupuk organik dan pupuk hayati  saat ini sudah demikian  berkembang di masyarakat. Namun upaya memproduksinya secara masal serta kecepatan  pengaplikasiannya di tingkat petani masih terkendala sejumlah kendala terutama kurangnya Political Will dari pemerintah.

"Sebetulnya simpel  kalau diinginkan untuk mempercepat peningkatan  produksi pupuk organik , alihkan saja  dana subsidi pupuk untuk membangun  pusat-pusat produksi di daerah. Hanya diperlukan   kemauan politik pemerintah," tandas produsen pupuk organik penemu inovasi magot  Agus Pakpahan di acara FGD Sinar Tani, Rabu (27/02).

Memproduksi bio fertilizer, menurut Agus Pakpahan, prosesnya tak terlalu rumit karenanya di daerah telah banyak muncul inovasi-inovasi berbasis sumberdaya lokal.

Seperti yang ditekuninya nya selama ini, dengan melakukan pengolahan sampah organik hasil buangan rumah tangga  bisa dihasilkan larva lalat Black Soldier (maggot) . Lalat ini sebagai dekomposer memiliki peran besar termasuk  menghasilkan pupuk organik.

Melalui inovasi pengolahan limbah rumah tangga ini pihaknya sekaligus bisa menghasilkan tiga produk yakni magot, pupuk organik cair dan pupuk padat.  "Maggotnya sendiri bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak hingga aneka produk farmasi," jelasnya.

Budaya Pilah Sampah

Saat ini yang dirasakannya sebagai kendala dalam menghasilkan pupuk organik berbasis teknologi maggot adalah sulitnya mendapatkan bahan baku berupa sampah organik murni. Sejauh ini memilah sampah belum menjadi budaya dari masyarakat Indonesia. Padahal lebih dari 50 % waktu akan habis untuk memilah sampah. "Merubah kebiasaan masyarakat tentu perlu waktu lama tapi bukannya tak bisa direalisasikan," ujarnya.

Pemerintah DKI Jakarta misalnya, selama ini telah mengeluarkan banyak dana untuk kegiatan pengelolaan sampah . Bisa menjadi solusi  bila  sebagian dana digunakan untuk mengintensifkan sosialisasi masalah pemilahan sampah ke masyarakat serta juga membangun lebih banyak lagi instalasi pengolahan sampah. "Pasti akan banyak manfaat yang bisa dirasakan. Jika diibaratkan investasi, tidak sampai setahun saya yakin sudah balik modal," kata Agus.

Kecepatan dalam menghasilkan pupuk organik dinilai Agus perlu segera digiatkan  karena   tak semata-mata demi kepentingan penyediaan pangan secara berkelanjutan namun juga untuk dapat melakukan perbaikan kesuburan tanah.

Fakta menunjukkan bahwa sebagian besar lahan pertanian di Indonesia  kandungan bahan organiknya kurang  dari 2 %. " Kondisinya sudah sama dengan gurun pasir. Karena itu upaya memperbaiki struktur tanah dengan penambahan pupuk organik penting dilakukan," tuturnya.

Reporter : Ika Rahayu
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018