Friday, 26 February 2021


Belajar dari Kasus BBM, Pengurangan Subsidi Pupuk juga Bisa

17 Feb 2021, 15:42 WIBEditor : Yulianto

Pemerintah selalu memberikan subsidi pupuk kepada petani | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Banyak pertanyaan mungkinkah subsidi pupuk yang jumlahnya triliunan rupiah dicabut? Ternyata banyak kalangan yang menyakini hal tersebut sangat mungkin.

Salah satunya, mantan Direkut PT. Pupuk Kujang, M. Husein. Saat FGD Pupuk Alternatif untuk Petani yang digelar Tabloid Sinar Tani, ia mengatakan, pemerintah bisa belajar dari pencabutan subsidi BBM. Kebijakan tersebut telah mengubah kebiasaan masyarakat yang semula menggunakan bensin premium kini beralih ke Pertalite.

“Kalau bensin Premium bisa, mengapa pupuk subsidi pupuk tidak? Premium saat ini yang menikmati orang kaya. Akhirnya bisa dikurangi pelan-pelan. Begitu juga dengan mengurangi subsidi pupuk,” katanya.

Subsidi untuk pupuk tahun ini mencapai Rp 33 triliun dengan jumlah sebanyak 9 juta ton. Nilai tersebut cukup besar dan menjadi beban bagi keuangan negaran, bahkan Presiden Joko Widodo juga sempat mempertanyakan.

“Pertanyaannya nilai tambah untuk pertanian dan ketahanan pangan seberapa besar. Kegiatan ekonomi yang terus menerus disubsidi dalam jumlah besar akan memberatkan ekonomi,” katanya.

Padahal lanjut Husein, ada sektor lain yang memanfaatkan pupuk subdidi itu untuk kepentingan sendiri. Hal ini juga untuk menjawab tantangan Presiden, karena subsidi saat ini tidak layak lagi diberikan pada pabrik pupuk. “Dengan subsidi industri pupuk kita jadi kurang inovatif, padahal potensi cukup banyak,” tegasnya.

Bukan hanya industri pupuk yang dituntut untuk inovatif dan bersaing dengan swasta, menurut Husein, pencabutan subsidi pupuk juga mendorong petani lebih kreatif dalam berusaha tani, termasuk membuat pupuk organik. Petani nantinya pelan-pelan akan mencari cara untuk bisa memberikan pupuk sendiri dan berusaha tani secara efisien.

Apalagi teknologi pembuatan pupuk, khusus organik kini banyak berkembang, seperti dengan magot dan mikroba lainnya. Karena itu sangat memungkinan bagi petani membuat pupuk sendiri. Petani juga bisa mencampur (blended) antara pupuk kimia dan organik.

Karena itu kata Husein, saat masih di PT. Pupuk Kujang pihaknya mengembangan pupuk dengan komposisi pupuk majemuk NPK 30:6:8. Jika dikombinasikan dengan pupuk organik, penggunaan pupuk kimia hanya 250 kg. “Jadi sangat hemat sekali,” ujarnya.

Bahkan dengan teknologi sederhan dan tepat guna menjadi bagian penting pertanian Indonesia untuk mengarah ke presisi dan ramah lingkungan. Sebab yang dilakukan adalah memberikan hara sesuai kebutuhan tanaman dan berdasarkan status hara lahan.

“Intinya yang kita berikan tidak berlebih dan tidak kurang. Bahkan di AS penggunaan pupuk blending mencapai 60 persen dan Brasil hingga 80 persen,” ungkapnya.

Ke depan Husein berharap, subsidi tersebut dialihkan dari hulu ke hilir. “Pola tersebut mungkin dan bisa. Tergantung political will pemerintah,” katanya.

 

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018