Friday, 26 February 2021


Blending Pupuk Tunggal Bisa Berdayakan UMKM dan BUMP

17 Feb 2021, 17:05 WIBEditor : Gesha

Petani mencampur pupuk | Sumber Foto:Mang Yono

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Penggunaan pupuk hasil pencampuran (blending) lebih disukai petani ketimbang pupuk subsidi yang merupakan pupuk tunggal. Bahkan jika proses blending tersebut dilakukan oleh UMKM atau Badan Usaha Milik Petani (BUMP) bisa sekalian menggerakkan ekonomi perdesaan.

"Pupuk Blended dibuat sesuai kebutuhan, tidak lebih tidak kurang. Menjadi paling ekonomis dan optimal. Dari teknologi lebih murah. Unitnya kecil tetapi mampu menghasilkan banyak," ungkap mantan Direktur PT. Pupuk Kujang, M. Husein saat FGD Pupuk Alternatif untuk Petani yang digelar Sinar Tani, Rabu (17/2).

Contoh NPK Blending yang sudah pernah dilakukan dan diciptakan adalah dari Pupuk Kujang, khusus untuk padi, yaitu NPK 30-6-8. "Dengan anjuran pemakaian 2 kali antara 300-350 kg per hektar. Isinya, pupuk kimia (anorganik), pupuk organic dan pupuk hayati, termasuk maggot bisa dimasukkan dalam NPK blending," tuturnya.

Diakuinya, pupuk NPK 15 15 15 yang sekarang banyak beredar memiliki nutrisi yang belum cukup untuk pertumbuhan tanaman. "Pabrik pupuk menggunakan teknologi Eropa dan formulasi umum untuk menghasilkan pupuk majemuk 15 15 15, kemudian dilempar ke pasar, kemudian petani diminta nyampur sendiri sesuai saran atau disesuaikan dengan formula sendiri," jelasnya. 

Mengenai pencampuran NPK blending, Husein menuturkan bisa menggunakan mesin sederhana, yaitu mesin "melon" untuk mencampur semen. "Jika dicampur dengan pupuk organik 400 kg, maka penggunaan pupuk anorganiknya hanya 250 kg, jadi sangat hemat. Dengan teknologi sederhana dan tepat guna, sebenarnya cocok untuk presisi dan berkelanjutan," ungkapnya.

Karenanya, Husein menilai blending pupuk ini bisa memberdayakan UMKM maupun BUMP di Perdesaan dengan sistem kemitraan dan menyerap potensi lokal. Bahkan pengawasan pun dilakukan secara ketat agar formulasi pupuk sesuai dengan kondisi setempat. "Seperti di Amerika Serikat, mereka membuat pupuk blending terdesentralisasi dengan mendekati ke negara bagian sentra pertanian," jelasnya.

Formulasi

Mengenai formulasi pupuk blending, diakui Husein tergantung pada kondisi hara setempat dan seharusnya diketahui oleh petani dan penyuluh. 

Husein menyebutkan  Petani di Australia sekarang sudah terbiasa melakukan blending pupuk dengan 900 formula standar dan 3600 formula custom, sehingga untuk berbagai macam tanam, berbagai umur tercatat ada 4500 formula blended.

*Sehingga pertaniannya menjadi lebih hemat, petaninya lebih pintar dimana pupuknya adalah pemberian makanan pada tanaman dan tanah sesuai kebutuhan mereka," tambahnya.

PT Pupuk Kujang sendiri telah bekerjasama dengan BB Padi Sukamandi untuk mengolah formulasi pupuk yang tepat untuk padi. Lalu membuat percobaan mengenai jumlah hara yang dibutuhkan oleh padi. Akhirnya ditemukan seperti itu, kombinasi formula dan dosis. 

Hasil ujicobanya, di tahun 2005 dengan varietas Ciherang, bisa didapatkan GKP 9.2 ton/ha dan di tahun 2006 didapatkan GKP 10.7 ton perhektar. Untuk di Karawang dengan varietas Ciherang bisa mencapai 9,8 ton per gektar.

Sedangkan di Jambi dengan varietas Cigeulis bisa menghasilkan 8,5 ton per hektar. Untuk di Lampung, menggunakan Hibrida Pionerr menghasilkan 14,6 ton per hektar.

Kemudian di Cianjur dengan varietas Ciherang  didapatkan 9 ton per ha, sedangkan di Jatisari 8,2 ton/Ha. Terakhir di Cikampek menggunakan Hibrida Bayern mampu menghsilkan 13,4 ton per hektar. 

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018