Sunday, 28 February 2021


Bisnis Baru: Pupuk Organik

17 Feb 2021, 20:16 WIBEditor : Yulianto

Petani membajak sawah dengan kerbau | Sumber Foto:Dok. pemprov Jawa Tengah

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Bau khas ladang pertanian dan pedesaan menebar dari tanaman legum yang membusuk direndam di persawahan, tahi kerbau penarik bajak yang berceceran, tahi kerbau di kandang yang tersebar sepanjang jalan perdesaan, kandang-kandang ayam, bahkan dari tahi kuda yang berceceran di jalan yang dilewati pedati dan delman. Bau pedesaan, natural dan alami.

Itulah suasana tahun 50-an yang sebagian besar manusia yang mengalaminya sudah tidak ada lagi di dunia. Saat ini tak ada lagi suasana khas seperti itu ketika melalui jalan sepanjang lahan pertanian. Tapi siapa sangka, di tengah teknologi industri 4.0 di negara-negara maju, bau khas itu, pada kadar berbeda, masih terasa.

Bau rumput dan makanan ternak yang difermentasi, bau kompos dan kotoran hewan yang menggunung untuk pupuk, bau sisa tanaman yang mengering yang akan diolah untuk makanan ternak dan sisa bahan organik lainnya. Dunia moderen kembali menerapkan teknologi pertanian organik memenuhi tuntutan masyarakat yang meminta makanan sehat yang tidak terkontaminasi bahan kimia.

Penggunaan pupuk organik yang sudah dimulai sejak permulaan manusia mengenal bercocok tanam, sekitar 5.000 tahun lalu, kembali diterapkan pada jaman moderen. Di Indonesia, pupuk organik sudah lama dikenal para petani, jauh sebelum era revolusi hijau.

Pupuk organik yang tersusun dari materi makhluk hidup, seperti pelapukan sisa-sisa tanaman, hewan, dan manusia mengandung lebih banyak bahan organik dibanding kadar haranya. Sumber bahan organik itu dapat berupa kompos, pupuk hijau, pupuk kandang, sisa tanaman, limbah ternak, limbah industri yang menggunakan bahan pertanian, dan limbah kota.

Penggunaan pupuk anorganik (pupuk kimia) sejak dikenal petani memang meroket, meningkat terus melebihi kebutuhan tanaman sehingga berdampak buruk pada kondisi fisik tanah. Tanah semakin keras disebabkan penumpukan sisa atau residu pupuk kimia dalam tanah yang berakibat tanah sulit terurai, sehingga tanaman semakin sulit menyerap pupuk/unsur hara tanah.

Demikian juga proses penyebaran perakaran dan aerasi (pernafasan) akar terganggu. Akibatnya, untuk mendapatkan hasil yang sama dengan hasil panen sebelumnya diperlukan dosis pupuk lebih tinggi. Ini menurut hasil kajian para peneliti yang tersebar di berbagai media. 

Tren Pupuk Organik

Menurut Hartatik dan Saraswati, kandungan hara dalam kotoran hewan lebih rendah daripada dalam pupuk kimia. Hara dalam pupuk kandang ini tidak mudah tersedia bagi tanaman. Karena itu biaya aplikasi pemberian pupuk kandang ini lebih besar daripada pupuk anorganik. Bahkan untuk 1 hektar pertanamaan bisa dibutuhkan 5-10 ton pupuk organik untuk mendapatkan kandungan hara yang sama.

Saat ini, tanah banyak yang memerlukan bahan organik untuk meningkatkan kualitas fisik tanah. Penggiat pupuk organik dari magot, Agus Pakpahan memperkirakan tanah pertanian di Jawa, sebagian besar sudah mengalami kekurangan bahan organik yang serius, kandungannya hanya sekitar 2 persen.

Padahal, menurut pakar ilmu tanah Surono, untuk meningkatkan 1 persen bahan organik dalam tanah diperlukan tidak kurang dari 10 ton pupuk organik dalam beberapa kali pemupukan. Satu upaya yang sangat berat!

Dunia mulai merasakan demam pupuk organik. Masa depan pasar pupuk organik memang menjanjikan. Sebuah sumber berita memperkirakan pasar global pupuk organik akan tumbuh sebesar 12 persen pada periode 2019-2024. Pendorong utama pertumbuhan ini adalah semakin tingginya kepedulian konsumen akan dampak buruk pupuk kimia, sehingga permintaan terhadap makanan yang tidak mengandung zat kimia meningkat.

Iklan pupuk organik dari berbagai negara di dunia maya mulai ramai. Sudahkah kita buat ancang-ancang untuk melangkan ke perubahan ini? 

 Petani sebenarnya bisa membuat sendiri pupuk organik. Baca halaman selanjutnya.

Reporter : Memed Gunawan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018