Sunday, 28 February 2021


Rugikan Petani, APROPI Bongkar Pemalsu Pestisida

22 Feb 2021, 21:46 WIBEditor : Yulianto

Pihak kejaksaan memantau pestisida palsu | Sumber Foto:Apropi

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Asosiasi Produsen Pestisida Indonesia (APROPI) mendukung upaya penyidik Bareskrim Polri yang berhasil membantu membongkar pemalsuan pestisida. Sebab, produk pestisida yang tidak terdaftar dan tidak bermutu itu telah merugikan petani.

Ketua Umum APROPI, Yanurius Nunuhita mengucapkan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada penyidik Bareskrim POLRI.  APROPI juga sangat berharap POLRI  terus memantau peredaran pupuk dan pestisida agar petani terlindungi.

“Saat ini masih banyak produk-produk sejenis yang beredar di masyarakat, yang mengikabatkan kerugian yang besar bagi  pertani,” katanya.

Karena itu lanjut Yanurius, ke depan anggota APROPI, terutama yang bertugas di lapangan akan selalu berkoordinasi dengan instansi terkait. Khususnya menginformasikan jika ada pestisida yang tidak terdaftar beredar di pasaran agar segera ditindak  tegas bagi pelaku pemalsu pestisida.

      

Saat ini, pihaknya berhasil menindak tegas pemalsu carbofuran dengan merek palsu Megafur 3G. Selain itu  saat ini juga sedang dalam proses untuk menindak pelaku pemalsu dua merek lainnya seperti PERMADAN 3 GR dan PANDAFUR 3GR.

Selama ini, menurut Yanurius, produsen pestisida sebatas mengeluhkan adanya pemalsuan yang  disampaikan ke instansi terkait. Namun, dengan kehadiran organisasi APROPI, yang berdiri belum ada satu tahun ini, pihaknya akan melakukan tindakan nyata agar pelaku pemalsuan ditindak tegas. “Ini agar menjadi contoh bagi pelaku kejahatan lainnya,” tegasnya.

Yanurius  menjelaskan, saat ini Bareskrim Polri telah menyerahkan satu orang tersangka atas nama Mohamad Romli sebagai produsen pemalsu MEGAFUR 3GR. Oknum tersebut atas sangkaan pelanggaran pasal 62 ayat 1 Undang-undang No.22 tahun 2019 tentang  Sistim Budidaya Pertanian Berkelanjutan, dan Undang-undang Perlindungan Konsumen.

“Mohamad Romli disangkakan telah melakukan kejahatan terhadap Undang Undang tersebut di atas dengan cara meproduksi MEGAFUR 3 GR menggunakan pasir, air, pewarna dan kencing sapi,” katanya.  

Produk tersebut ungkap Yanurius, kemudian dikemas dalam kemasan dan diberi lebel. Oknum tersebut kemudian menjual sebagai  pestisida yang mengandung Carbofuran 3 persen. Selanjutnya diklaim mampu mengendalikan berbagai macam hama, seperti tertulis pada labelnya.

Rangkaian kegiatan tersebut dilakukan tanpa terlebih dahulu mendaftar produk MEGAFUR 3GR ke Kementrian  Pertanian untuk di uji kebenaran klaim-klaim nya. Tersangka telah 3 tahun memproduksi MEGAFUR 3 GR palsu sebanyak 10 ton/hari, bahkan diedarkan ke seluruh wilayah Pulau Jawa melalui distributor.

Akibat perbuatannya petani dirugikan hingga puluhan miliar rupiah. Selanjutnya tersangka akan disidang di pengadilan negeri Jember.

Reporter : Agus
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018