Sunday, 09 May 2021


Penggunaan Pupuk Organik Hayati untuk Masa Depan Tanah Tulusayu

19 Apr 2021, 09:32 WIBEditor : Gesha

Penggunaan pupuk organik untuk petani di Dusun Tulusayu | Sumber Foto:Ferly

TABLOIDSINARTANI.COM, Malang --- Pertanian yang diharapkan kedepannya merupakan pertanian yang ramah lingkungan atau eco farming, dimana pertanian dapat dikelola dan dikembangkan secara bijak dengan berbasis lingkungan. Seperti yang tengah dilakukan masyarakat tani di Dusun Tulusayu, Desa Sidorahayu, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang yang terus menggunakan pupuk organik hayati demi masa depan tanah di daerah tersebut. 

Kelompok Tani (Poktan) Rahayu I dusun Tulusayu memaknai pertanian ramah lingkungan dengan bekerjasama dengan banyak pihak untuk tetap menjaga keadaan sumberdaya alam yang ada disekitarnya. Ketua Poktan Rahayu, Ngatmaji bersama beberapa teman teman anggota kelompok tani dengan pendampingan Ferly Tambunan selaku penyuluh wilayah binaannya, melalukan kegiatan penggunaan pupuk organik cair (POC) untuk memulai kegiatan budidaya di kelompoknya.

Poktan ini mulai sadar untuk mengembangkan pertanian ramah lingkungan karena petani sudah memahami dan mengalami perubahan dari keadaan tanah yang mereka usahakan. Tanah yang selama ini mereka kerjakan sudah mengalami perubahan semakin liat dan bertetstur keras. Tanah juga menjadi hitam kemerahan, dikarenakan tingginya bahan kimia yang selama ini digunakan oleh para petani.

Dalam penggunaannya, Poktan Rahayu I menggunakan Pupuk Hayati BioVici dengan dibimbing Vici Simatupang. Melalui kerjasama ini , petani langsung turun  diajak untuk melakukan demonstrasi titik (demplot) dilahan milik Sugianto seluas 0,5 ha.

Sebelum dilakukan pertanaman, tanah diolah terlebih dahulu seperti biasa. Kemudian diberikan pupuk granul dan ditambahkan Pupuk Hayati Biovici. Pupuk hayati sebelum digunakan dilarutkan terlebih dahulu dalam wadah drum berisi 100 ltr air dan dicampur dengan 1 ltr tetes dan 1kg urea. Proses pelarutan ini membutuhkan waktu 2-3 hari dalam kondisi tertutup.

Selama waktu itu campuran tetap diaduk setiap hari hingga siap. Ketika proses penyemprotan indukan pupuk hayati tadi dapat dicampurkan dengan air 100 liter lagi atau setara setengah tangki atau sprayer ditambah lagi air hingga penuh. Dan langsung dapat disemprotkan ke lahan yang sudah siap. Lahan yang di lakukan demlot akan ditanami dengan tanaman cabai dimana setelah dilakukan kegiatan itu bedengan ditutup dengan mulsa hingga selanjutnya siap ditanam dengan benih cabai yang sudah disemaikan.

Adapun fungsi pupuk hayati disini adalah untuk kembali menggemburkan tanah tanah yang selama ini mengeras dan sebagai pengurai aktif bahan-bahan organik di dalam tanah untuk  dikembalikan dalam kondisi yang baik untuk menunjang pertumbuhan tanaman. Selain itu untuk mengurangi pemakaian pupuk kimia pada tanaman.

Dengan penggunaan pupuk hayati ini diharapkan dapat mengembalikan sistem perakaran yang baik untuk dapat melakukan proses vegetative dan generative tanaman, dengan demikian tanaman dapat menjadi baik dan menghasilkan secara maksimal. Selain daripada itu keberlangsungan lahan pertanian di dusun Tulusayu dapat terjaga serta petani dapat lebih menggunakan pupuk organic dan menggurangi pemakaian pupuk kimia dalam kegiatan budidayanya.

 

Reporter : Ferly Tambunan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018