Friday, 07 May 2021


Cara Aplikasi Pestisida Nabati untuk Padi Organik di Aceh Tamiang

02 May 2021, 08:21 WIBEditor : Ahmad Soim

Aplikasi pestisida nabati di Aceh Tamiang | Sumber Foto:Abda

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Aceh --  Aceh Tamiang Go Organik. Bertani organik itu membutuhkan proses dan kesabaran. Pertanian organik ini juga untuk mengembalikan kesuburan tanah dan ekosistem lingkungan.

Kadistanbunnak Aceh Tamiang, Yunus SP. mengatakan kegiatan demplot varietas Inpari 32 yang dilaksanakan pada lahan Kelompok Tani Serasi Desa Pahlawan Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang seluas dua hektar untuk mendukung pertanian full organik. Ia merasa yakin dengan semangat dan kegigihan para petani, Insyaallah tujuan untuk mendapatkan beras sehat Tamiang dapat terwujud.

Abdul Muin Ketua Kelompok Tani Serasi yang didampingi penyuluh BPP Karang Baru, Nurhasanah Damanik, SP menuturkan untuk bertani organik petani menerapkan pestisida nabati. Dosis pestisda Nabati yang digunakan sebanyak 25 liter sekali penyemprotan. Untuk 1 hektar 4 kali penyemprotan sesuai jadwal masa vegetatif tanaman. 

Cara penyemprotan larutan tersebut dimasukkan kedalam tangki. Selanjutnya disemprotkan setiap 10 hari sekali sejak mulai umur padi 10 HST hingga berakhir saat memasuki masa primordia pada umur 45 HST. 

BACA JUGA:

Bahan yang digunakan untuk 1 hektar pestida nabati terdiri daun Sirsak 8 kg, Serai 8 kg, Belerang 2 ons, Bawang putih 6 bonggol dan Brotowali sebanyak 0,5 kg. 

Bahan bahan tersebut ditumbuk dalam lesung atau boleh juga diblender dan dicampur dalam air sebanyak 100 liter dan direndam 24 jam sebelum pemakaian. Pestisida nabati bukan untuk membunuh tapi mengusir atau mencegah hama dan penyakit saja. 

Setelah padi mengeluarkan malai (masa generatif) lalu diberikan zat perangsang bulir padi agar keluar malainya merata. Adapun bahannya yaitu kotoran hewan Kambing 15 kg, bio bakteri 10 kg, ikan rucah/busuk 7,5 kg diendapkan selama 48 jam kemudian dicampur air sebanyak 100 liter, dan secara bersamaan ditambahkan minuman kesehatan (Yakult) 1,5 botol plus gula pasir sebanyak 1,5 kg. 

Tujuan demplot untuk memberi contoh khususnya bagi anggota kelompok dan kepada petani sekitarnya. Sehingga mereka memahami bahwa bertani organik lebih baik daripada memakai pupuk kimia dan pestisida.

Dari pengamatan di lapangan, kondisi padi Inpari 32 setelah disemprot katanya padi terlihat subur dan tidak ada gejala serangan hama dan penyakit.

Admansyah Penyuluh Swadaya Aceh Tamiang, menguraikan, kenyataan yang terjadi selama ini, banyak tanah sudah jenuh dan tidak respon lagi terhadap pupuk kimia yang diberikan. Akibat dari pemupukan kimia yang berlebihan maka muncul hama dan penyakit yang tidak kita inginkan. Untuk  itu petani perlu diberikan solusi dalam mendukung kecukupan dan ketahanan pangan nasional.

Memperbaiki tanah yang tidak produktif menjadi tanah yang produktif, memiliki makna yang luas. Sehingga kondisi lahan dan iklim yang berbeda, maka beda pula cara kita memperlakukannya, termasuk persiapan bahan yang akan kita persiapkan menjadi tanah yang baik sebagai media tumbuh tanaman.

Lahan gurun berbatu, berpasir, berdebu, bersuhu 47 °C sampai 53 °C, ternyata tanaman hidup subur dan berproduksi baik. "Untuk itu, petani perlu dibekali melalui contoh/demplot dalam membuat pestisida nabati dan pupuk organik dengan proses waktu yang tidak terlalu lama", beber Admansyah yang juga mantan tenaga ahli pertanian organik di Izghawa Farm, Qatar.

Petani tidak lagi membutuhkan waktu yang lama untuk membuat pupuk organik. Kalau ini dikelola secara tepat dan profesional, maka akan menjadi peluang bisnis besar. Untuk itu kita harus latih petani agar mereka lebih cerdas.

Tahun 2012, di Aceh sudah  ditemukan formola bio Adkom, sebagai bahan untuk membuat pupuk organik padat maupun cair (baik untuk nutrisi vegetatif, maupun nutrisi generatif), dan membuat pupuk organik padat hayati sebagai pembenah tanah, yang kondisi komposisi bahan penyusun tanahnya yang rusak (tidak seimbang).

Disisi lain Dr. Yadi Jufri Dosen Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh menambahkan, penggunaan pupuk kimia yang terus menerus yang tidak diimbangi dengan penggunaan pupuk organik, menyebabkan kerusakan lahan.

Penggunaan pupuk kimia secara terus menerus sambungnya, menyebabkan pH tanah semakin menurun. Dampaknya adalah aktifitas mikroba menjadi terhambat sehingga tidak terjadi proses dekomposisi bahan organik.

Disamping itu juga sisa panen padi selama ini tidak dikembalikan ke lahan. Padahal itu merupakan sumber utama bahan organik. 

Dampak penggunaan bahan kimia pembasmi hama dan penyakit menyebabkan pencemaran air dan tanah yang juga berpengaruh terhadap kehidupan mikroorganisme. 

Kunci utamanya adalah pengelolaan lahan yg benar sesuai dengan konsep pertanian yang berkelanjutan. Semua yang berasal dari tanah, harus dikembalikan ke dalam tanah dengan meniru ekosistem hutan. Tidak ada yang keluar dari hutan, semuanya kecuali ke asalnya. "Dengan begitu tidak ada rantai makanan yang terputus, dan terus berlanjut untuk kedepannya", ujarnya mengakhiri.

 === 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/ 

Reporter : Abda
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018