Monday, 23 May 2022


Banten Terima Program Pengelolaan Banjir, Bagaimana Pemberdayaannya?

07 May 2021, 16:37 WIBEditor : Ahmad Soim

Pemberddayaan petani menajemen sungai agar tidak banjir | Sumber Foto:Suroyo

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Lebak --  Kementerian Pertanian menjalankan program Flood Management In Selected River Basins (FMSRB) di tiga wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Provinsi Banten, yakni Cidanau. Ciujung, Cidurian.

Program yang dijalankan Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementan itu  tersebar pada tiga wilayah Kabupaten di Provinsi Banten yaitu, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak dan Kabupaten Serang. Harapannya kegiatan tersebut mampu meningkatkan kesiapan daerah dalam mengelola dan mengurangi (mitigasi) resiko banjir, serta mengubah paradigma dari proyek pengendalian banjir menjadi pendekatan pengelolaan banjir terpadu.

Mohamad Baidowi, Konsultan Program FMSRB Kab. Lebak mengatakan: “Kegiatan FMSRB dilakukan melalui berbagai program seperti penanaman pada wilayah konservasi dan optimasi, pembangunan infrastruktur pertanian, serta program pemberdayaan berbasis gender berupa pelatihan dan pendampingan yang dilakukan terhadap kelompok tani penerima manfaat dengan harapan terjadi peningkatan nilai tambah ekonomi keluarga petani, sehingga dapat mengangkat perekonomian masyarakat tani menuju kesejahteraan”.

BACA JUGA:

Menurutnya untuk berangkat dari perspektif pemberdayaan, ada tiga hal sebagai aspek penting dalam menunjang keberhasilan pemberdayaan bidang pertanian. Pertama pengembangan potensi lokal, Program pembangunan seyogyanya didasarkan pada potensi lokal yang dimiliki. Potensi lokal sebagai aspek penting yang dimiliki masyarakat tidak dapat dinafikan, baik pada aspek SDM maupun SDA yang dimiliki, keduanya merupakan modal capital sebagai pondasi keberhasilan pemberdayaan. Pemberdayaan yang diarahkan pada pengembangan potensi lokal seharusnya akan lebih memungkinkan untuk dilakukan secara efektif, karena hal tersebut akan berkaitan dengan aspek cultural masyarakat yang dapat mendorong sikap dan prilaku masyarakat sesuai tujuan pemberdayaan yang diharapkan. 

Secara psikologis masyarakat tani akan lebih cenderung menguasai apa yang mereka ketahui dan biasa mereka lakukan, sehingga diseminasi pemberdayaan yang didasarkan atas potensi lokal yang ada akan lebih efektif dalam memperluas pengetahuan, mendorong sikap dan perilaku masyarakat tani dalam melakukan arahan sesuai program yang dilakukan, dengan hal tersebut diharapkan tujuan pemberdayaan yang dilakukan dapat tercapai.

Kedua peningkatan kapasitas SDM bidang Pertanian. Berbagai persoalan yang dihadapi oleh petani salah satunya adalah rendahnya kapasitas SDM yang dimiliki, rendahnya kapasitas tersebut pada akhirnya menjadi hambatan dalam pembangunan. Kapasitas yang rendah mengakibatkan diseminasi informasi dan adopsi inovasi dalam program pembangunan sulit dipahami dan dilakukan, sehingga peningkatan kapasitas SDM menjadi aspek penting yang harus dilakukan dalam pemberdayaan. Peningkatan kapasitas dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti pelatihan dan pendampingan oleh agen pemberdaya yang disesuaikan dengan aspek sosio-psikologis petani. Perlakuan tersebut menjadi harapan peningkatan daya saing, daya saring dan daya sanding petani, sehingga dapat terbentuk menjadi petani mandiri di masa yang akan datang. 

Ketiga Modal Sosial Kelembagaan Petani, Modal sosial merupakan kekuatan yang dimiliki masyarakat sebagai aspek sosial dan budaya yang memiliki nilai ekonomi dan dapat dilembagakan, tinjauan modal sosial didasarkan kepada tiga hal yaitu, rasa saling percaya, norma dan jaringan. rasa saling percaya, norma dan jaringan merupakan unsur dasar yang harus dimiliki kelembagaan petani, tanpa adanya ketiga hal tersebut maka kelembagaan petani akan berjalan secara statis dan jauh dari kemajuan. 

Proses pemberdayaan yang dilakukan baik melalui pelatihan dan pendampingan seyogyanya turut memperhatikan penguatan modal sosial, meningkatkan rasa saling percaya, kepatuhan terhadap norma dan pengembangan jaringan baik secara internal maupun eksternal akan membuka berbagai peluang yang menguntungkan, oleh sebab itu penguatan modal sosial menjadi penting, selain untuk menjaga keutuhan kelembagaan petani juga sebagai pembuka peluang kerjasama ekonomi melalui jaringan yang terbangun.

Baidowi berharap “ Semoga dengan program FMSRB yang dilakukan pada tiga wilayah di Provinsi Banten sebagai wilayah DAS Cidanau, Ciujung dan Cidurian, yang tersebar di Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak dan Kabupaten Serang menawarkan kemajuan pertanian di masa yang akan datang, program penanaman tanaman multiguna dan pembangunan infrastruktur pertanian pada wilayah konservasi dan optimasi, membawa angin segar peningkatan produktifitas hasil pertanian yang mampu mendorong peningkatan ekonomi petani, selain itu pelatihan dan pendampingan yang dilakukan sebagai proses pemberdayaan dapat menjadi media dalam meningkatkan kapasitas petani sebagai aspek dasar yang harus dimiliki dalam mendorong kemampuan menyesuaikan diri terhadap perubahan. Semoga program FMSRB dalam bidang pertanian yang dilakukan dapat berjalan dengan baik dan mampu mencapai tujuan yang diharapkan”.tutup Baidowi.

  === 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/ 

Reporter : Suroyo
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018