Varietas Inpari 42 Agritan bikin petani Sumenep kepincut
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Benih unggul bersertifikat menjadi faktor utama dalam peningkatan produksi. Karena itu, Kementerian Pertanian akan memperkuat sistem perbenihan, khusus di luar Pulau Jawa agar memudahkan petani mendapatkan benih unggul bersertifikat.
Dirjen Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Suwandi mengakui, banyak yang harus dibenahi dalam sistem perbenihan, termasuk untuk memenuhi kebutuhan petani. Dalam sistem perbenihan setidaknya ada sub sistem yakni produksi, distribusi dan pemanfaatannya untuk petani.
“Semua itu saling terakit dan sinergi, saling menguatkan. Untuk produksi memang ada yang sudah mandiri dan sudah berjalan. Kebijakan yang kini kita lakukan adalah meningkatkan pemanfaatan penggunaan benih unggul bersrtifikat oleh petani,” kata Suwandi dalam webinar Perbinahan di Jakarta, Senin (12/7).
Menurut Suwandi, untuk saat ini yang menjadi persoalan adalah pemenuhan benih di luar Jawa. Untuk Pulau Jawa diakui, ketersediaan cukup banyak. Namun untuk luar Pulau Jawa memang menjadi persoalan.
Karena itu, pemerintah akan memperkuat sistem perbenihan di luar Jawa. Salah satunya membangun kemandirian benih di lokasi terdekat. Sebab, jika harus mengambil dari Jawa, maka biaya angkut menjadi mahal, sehingga mempengaruhi dalam distribusi.
“Selama ini memang akses dan distribusi menjadi masalah. Jadi bagaimana kita meningkatan penggunaan benih bersertifikat di luar Pulau Jawa dan petani membeli benih di lokasi terdekat,” tuturnya.
Data Ditjen Tanaman Pangan, hingga kini varietas padi yang sudah dilepas sebanyak 491 varietas. Terdirin dari padi hibrida sebanyak 189 hibrida dan padi inbrida 383 varietas. Sedangkan varietas jagung 335 varietas terdiri dari jagung komposit 59 varietas dan jagung hibrida 276 varietas.
Tahun ini sampai Mei, pemerintah sudah melepas 11 varietas padi, 13 varietas jagung, 2 varietas kedelai dan 1 varietas kacang tanah. “Kalau tahun lalu kita melepas 24 varietas padi. Dari varietas tersebut kita selektif, untuk padi yang berpotensi di atas 10 ton/ha,” kata Suwandi.
Persoalannya menurut Suwandi adalah bagaimana potensi varietas yang dilepas tersebut produktivitasnya di lapangan mendekati potensi.
“Banyak faktor, baik sifat benih, bagaimana penanganan benih tersebut sampai pemanfaatanya. Intinya lima tepat dalam penggunaan benih. Jadi varietas sudah banyak tapi bagaimana di lapangan bisa diterima petani,” tuturnya.
Kebutuhan benih rata-rata dalam 10 tahun terakhir sebanyak 361 ribu ton. Rata-rata ketersediaan benih bersertifikat 229 ribu ton (63,55 persen)., benih dasar 3 ribu ton, BP 107 ton dan BR 118 ribu ton.
Suwandi mengatakan, penggunaan benih bersertifikat rata-rata 192 ribu ton (54,78 persen) dari kebutuhan dan 79,67 persen dari ketersediaan benih. Data menyebutkan penggunaan benih tanaman pangan bersertifikat semakin meningkat.
Namun Suwandi melihat, saat ini penggunaan benih Cihareng masih cukup dominan, selanjutnya Mekongga, kemudian baru Inpari. “Kalau melihat perkembangan dalam lima tahun, belum ada yang signifikan menggantikan Ciherang,” ujarnya.
Langkah Pemerintah
Untuk meningkatkan penggunaan benih unggul bersertifikat, Suwandi mengatakan, pemerintah telah menyiapkan beberapa langkah.
Pertama, mengintensifkan uji mutu benih, termasuk uji mutu kemasan dan sistem distribusi. Untuk itu, pemerintah selektif dalam mengamankan sistem perbenihan, termasuk memonitor perkembangan benih dan penggunaannya.
Langkah kedua, ungkap Suwandi adalah memperkenalkan varietas unggul bersertifikat kepada penangkar benih. Hingga kini baru 54 persen pengunaan benih bersertifkat dari kebutuhan. Sedangkan jika dilihat dari ketersediaan sudah 79 persen dari kebutuhan.
Ketiga, mempetakan sebaran penggunaan benih. Dalam peta tersebut telah dibuat warna peta. Untuk hijau artinya penggunaan varietas unggul bersertifikat sudah tinggi, kuning sedang dan warna merah untuk yang masih rendah. “Dari peta itu kita gunakan untuk mengganti varietas,” ujarnya.
Keempat menurut Suwandi, membangun desa mandiri benih di lokasi prioritas. Untuk itu, pemerintah memberdayakan penangkar benih agar bisa menyediakan benih di wilayah sekitar, sehingga petani tidak jauh mendapatkan benih.
“Jadi mohon menjadi perhatian utama dan dukungan pelaku. Dengan demikian petani penangkar bisa eksis dengan usahanya. Petugas BPSB juga membina dan memonitor peredarannya. Kami menyiapkan strateginya,” tuturnya.