Tuesday, 03 August 2021


Sebelum Benih Dilepas ke Pasar, Produsen Wajib Tahu Ini

20 Jul 2021, 16:33 WIBEditor : Yulianto

Model data synthetic untuk pelepasan benih | Sumber Foto:Iqbal

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Varietas benih tanaman pangan yang dilepas ke pasar cukup banyak. Namun ternyata yang banyak dibudidayakan petani masih sangat sedikit.

Karena itu ada beberapa pertimbangan mengapa benih harus melalui uji adaptasi sebelum dilepas ke pasar. Paling utama adalah keunggulan produksi dan mutu yang dihasilkan. 

Kemudian tanggap terhadap pemupukan serta toleran terhadap hama dan penyakit utama. Disamping umur tanam, benih juga diharapkan adaptif terhadap pengaruh buruk lingkungan budidaya dan memiliki keseragaman dan kemantapan. Terakhir benih harus berbeda dari varietas yang telah dilepas.

Selain aspek teknis, industri benih dalam melakukan uji adaptasi untuk melepas benih ke pasar perlu memperhitungkan beberapa perspektif yang menjadi keinginan pasar (Market Driven Product).

“Kepentingan semua stakeholder dalam mata rantai produksi padi secara seimbang harus menjadi pertimbangan utama," kata Dadang Syamsul Munir, Direktur PT Botani Seed Indonesia saat Webinar Proses Uji Adaptasi Varietas Padi Dalam Rangka Penilaian Varietas, Senin (19/7).

Menurut Dadang, pertimbangan utama adalah benih harus disukai oleh petani sebagai pengguna on farm dengan segala kriteria kualitas dan kuantitasnya. Berikutnya harus disukai industri pengolahannya, karena pertimbangan rendemennya. Kemudian juga harus disukai oleh pedagang yang ingin produknya lebih mudah dijual dan terakhir disukai oleh konsumen baik rumah tangga, institusi maupun industri. 

"Ada fenomena menarik yang terjadi belakangan ini dalam industri pengembangan benih swasta," kata Dadang. Perusahaan swasta cenderung lebih berminat mengembangkan benih hibrida dibanding inbrida, meskipun memiliki tingkat persyaratan teknis yang rumit serta modal investasi yang besar. Hal ini dilakukan, karena benih hibrida yang memiliki potensi hasil tinggi lebih diminati pasar atau petani dibanding inbrida.

Dadang menambahkan, ada model yang bisa dipertimbangkan sebagai alternatif inovasi bidang pelepasan varietas yaitu model data synthesis yang di perkenalkan David Brown dari Wagening University & Research. Model ini mempertimbangkan secara seimbang antara aspek aspek teknis seperti performans agronomi benih dan pengaruh faktor lingkungan. Namun disisi lain perlu dipertimbangkan juga aspek pasar seperti preferensi petani dalam memilih benih serta preferensi konsumen.

“Petani sekarang sangat memperhatikan konsumen atau pembeli," kata mantan Dirjen Tanaman Pangan, Farid A Bahar.

Menurutnya, petani hanya mau membudidayakan yang bisa dijual atau yang diminati pasar. Sedangkan yang kurang diminati pasar akan ditinggalkan. "Hal tersebut juga berlaku pada industri perberasan atau Rice Milling Unit, mereka hanya mau menerima beras yang laku di pasaran," kata Farid.

Untuk bisa menghasilkan benih berkualitas unggul dan mudah diakses petani secara terjangkau, Farid mengusulkan, varietas varetas unggul yang dihasilkan  lembaga pemerintah, lembaga publik dan universitas itu digratiskan untuk diproduksi  industri benih secara besar-besaran. Industri benih swasta harus diperkuat karena telah memiliki jaringan distribusi yang kuat yang mampu menjangkau petani di sentra budidaya.

“Pengembangan bisnis benih oleh perusahaan swasta penting dalam rangka antisipasi kedepan, agar petani tidak bergantung penuh pada benih bersubsidi," kata papar Farid. Hal ini akan memberikan alternatif buat petani mandiri untuk memilih benih yang sesuai dengan keinginannya. 

Reporter : Iqbal
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018