Monday, 06 December 2021


Benih Kebutuhan Utama, Model Penyediaan Benih Nasional Perlu Dirombak

28 Aug 2021, 20:05 WIBEditor : Gesha

Petani Mdura pilih benih padi hibrida karena lebih menguntungkan | Sumber Foto:Eris

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- Dalam sektor pertanian, benih menjadi kebutuhan utama. Tapi ketersediaan maupun penyediaan benih nyatanya masih jauh dari kata tepat untuk tersedia. Karena itu, Institut Pertanian Bogor (IPB University) merasa perlu untuk mencari model penyediaan benih nasional yang baru dengan dukungan berbagai pihak. 

"Hingga sekarang, produktivitas padi kita masih di angka 5,1 ton per hektar. Padahal, dari benih varietas unggul baru yang dilepas Lembaga Penelitian Padi maupun Universitas, potensi hasil bisa mencapai 10 ton per hektar. Ada gap (celah) yang sangat besar antara pencapaian produktivitas padi di lapangan dengan potensi genetiknya, " ungkap peneliti Benih dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB, Dr. Ir. Abdul Qadir M.Si.

Padahal, dalam penyediaan benih padi (sebagai subsektor utama di Pertanian), selayaknya mencapai 6 tepat, yakni tepat varietas, tepat mutu, tepat waktu, tepat jumlah, tepat harga, dan tepat tempat. 

Model penyediaan benih nasional yang ada sekarang pun masih menghadapi berbagai permasalahan lainnya. Mulai dari ketidaksesuaian varietas yang dikembangkan, efektifitas flow of seed dari Benih Penjenis (BS) ke Benih Sebar (BR), penguatan kelembagaan penyedia benih, rasionalisasi harga benih padi, informasi penawaran dan permintaan benih yang kurang memadai, dan hingga penyederhanaan aturan dalam produksi benih padi. 

Di sisi lain, hingga sekarang produksi benih padi masih terpusat di pulau Jawa. Sementara, pengembangan industri benih di daerah sentra produksi padi masih jalan di tempat. Bahkan di era digitalisasi seperti ini, sistem informasi benih padi yang terintegrasi masih belum meluas. 

"Dari produsen benih, hingga sekarang masih kurang tertarik pada bisnis benih padi. Karena itu perlu adanya dukungan kebijakan model bisnis yang menguntungkan. Termasuk dukungan kebijakan penumbuhan start up korporasi petani yang bergerak di perbenihan, " jelas Ketua Tim Peneliti Program Riset Nasional (PRN) Model Penyediaan Benih Padi ini dalam Telaah Pakar "Kajian Sistem Penyediaan Benih Nasional" yang digelar secara daring oleh LPPM IPB, Sabtu (28/08). 

Acara Telaah Pakar ini dihadiri oleh Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan, BB Padi, BBPPMBTPH, Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Selatan, Pakar Perbenihan Nasional, Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Asbenindo, Gapoktan (Petani Pengguna Benih), Mahasiswa dan Pemerhati Benih.

Abdul Qadir bersama Tim Peneliti Model Penyediaan Benih Nasional, telah menyusun, merumuskan sistem pembenihan padi dan dibuat permodelannya. "Kita buat permodelan secara komprehensif untuk jangka panjang. Dan akan direkomendasikan pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, " tambahnya. 

Namun sebelum diajukan, tahapan permodelan ini difokuskan pada sistem informasi perbenihan, salah satunya berbentuk aplikasi. Kemudian dilakukan audiensi dengan lembaga perbenihan serta survey 10 provinsi dengan sampling stakeholder (petani) yang ada. 

"Telaah Pakar ini menjadi tahapan selanjutnya untuk mendapatkan masukan dari para pakar. Sehingga didapatkan permodelan yang komprehensif untuk model perbenihan nasional yang baru, " utas Abdul Qadir. 

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018