Sunday, 24 October 2021


Tiga Kabupaten Kibarkan Bendera Perang Melawan Belalang Kembara  

05 Sep 2021, 15:05 WIBEditor : Yulianto

Belalang kembara, hama yang banyak menyerang tanaman pangan di wilayah Nusa Tenggara | Sumber Foto:Humas Tanaman Pangan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Apakah kita sudah mengetahui apa saja jenis belalang kembara dan perannya di lingkungan sekitar kita? Mungkin itu adalah beberapa pertanyaan di benak Anda dan belum banyak orang mengetahuinya. 

Terdapat beberapa jenis (spesies) belalang kembara di Indonesia, namun yang paling banyak dikenal adalah spesies Locusta migratoria manilensis Meyen. Meski tidak termasuk dalam hama utama pada tanaman padi dan jagung, namun keberadaanya harus diwaspadai.

Mengapa? Hama ini ternyata berpotensi terjadi outbreak (ledakan populasi) sewaktu-waktu jika kondisi alam mendukung dan tidak ada tindakan yang sejak dini. Dengan demikian perlu dilakukan mitigasi penanganan dan strategi pengendaliannya yang jitu.

Untuk mengatasi serangan hama belalang kembara, tiga Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sumba Tengah (Nyong U.K Pari), Kepala Dinas Pertanian Sumba Timur (Oktavianus), dan Kepala Dinas Pertanian Sumba Barat Daya (Rofianus) melakukan aklamasi perang melawan belalang kembara yang sering menghantui daerah-daerah tersebut.

Menurut Kepala Dinas Pertanian di tiga wilayah tersebut, pengendalian yang paling efektif dilakukan saat stadia nimfa yang tinggal di daerah datar dan belum dapat terbang ke tempat-tempat yang tinggi.

Disamping itu, pengendalian yang baik dilakukan pada waktu malam sampai pagi hari, pada waktu belalang kembara beraktifitas makan, kawin, dan bertelur. Kemudian penanganan pengendalian belalang kembara ini harus kompak melibatkan semua stake holder, baik dari instansi pemerintah lintas bidang, petani, pelaku usaha, dan masyarakat luas. 

Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, M. Takdir Mulyadi, menegaskan, Pemerintah Pusat melalui Direktorat Tanaman Pangan siap mendukung dan mengawal pengelolaan hama belalang kembara khususnya di Provinsi NTT dan daerah lainnya. Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan siap mendukung dan mengawal pengelolaan belalang kembara di NTT dan daerah lain.

"Kami siap bekerjasama, berkolaborasi dan bersinergi untuk perang melawan belalang kembara ini. Kami sudah membantu sarana pengendalian berupa alat-alat semprot mist blower, drum, dan bahan pengendalian (pestisida biologi dan kimia), juga bimbingan-bimbingan teknis pengamatan dan pengendalian belalang kembara sesuai dengan prinsip PHT," tuturnya.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi menekankan, pengendalian hama belalang kembara ini harus betul-betul dilaksanakan dengan sistem pengelolaan hama terpadu (PHT), dengan menerapkan teknik-teknik pengendalian yang sesuai dengan karakter belalang kembara dan lingkungannya. Pengendalian yang dilakukan harus efektif, efisien, dan aman.

Suwandi meminta, pengendalian terhadap hama belalang kembara ini harus betul-betul dilaksanakan secara PHT. Terapkan prinsip-prinsip PHT dengan benar untuk mengendalikan hama ini. "Meski secara nasional bukan merupakan hama utama tanaman pangan, namun keberadaannya dapat menurunkan produksi pangan kita," katanya.

Untuk itu, Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, petani, para pelaku usaha, serta masyarakat luas harus bekerja mengendalikan serangan hama belalang kembara ini sejak dini. Suwandi juga mengingatkan, jangan menunggu populasi tinggi, apalagi sampai terbentuk fase gregarius untuk mengendalikannya.

Kuncinya ada pada pengamatan, amati keberadaannya dan kendalikan segera sebelum berkembang menjadi gerombolan yang besar. Dengan pengendalian belalang kembara yang cepat dan tepat maka akan dapat mendukung upaya pengamanan produksi pangan nasional, sehingga target produksi pangan dan kesejahteraan petani dapat tercapai.

Kenali Keragaman Belalang  

Pada Webinar “Serangan Belalang Kembara dan Pengendaliannya”, Nugroho Susetyo Putro (pakar hama dari UGM) mengatakan, pengenalan keragaman jenis atau spesies, bioekologi perilaku belalang kembara sangat perlu dipahami agar strategi pengendalian yang diterapkan dapat tepat dan berhasil baik.

“Pengenalan jenis spesies belalang kembara, perilakunya seperti kemampuannya bergerombol dan berpindah atau migrasi dalam jumlah ribuan dan sangat rakus makan, serta faktor-faktor lingkungan yang mendukung perkembangannya sangat perlu dipahami agar tindakan dan strategi pengendalian yang kita terapkan tepat sasaran dan berhasil optimal," kata pria yang akrab disapa Tyo tersebut.

Senada dengan Tyo, Paulus Taek, akademisi dan peneliti belalang kembara dari Undana menyatakan, pengendalian belalang kembara harus dilakukan secara komprehensif, sehingga dapat menurunkan populasi belalang kembara. Namun tetap dapat menjamin keselamatan lingkungan dan pelaku pengendalian.

Dikatakan, berdasarkan hasil pengamatan dan pengendalian yang dilakukan terhadap belalang kembara, teknik pengendalian yang paling efektif adalah dengan pengendalian secara kimiawi yaitu menggunakan pestisida. Pengendalian dengan teknik lain seperti mekanik, kultur teknis, dan biologi kurang optimal hasilnya karena banyak kendala dan keterbatasannya menghadapi populasi belalang kembara yang sudah jutaan ekor dan tersebar dimana-mana.

"Untuk pengendalian secara kimia yang efektif dapat dilakukan dengan pestisida yang bekerja untuk menghambat penetasan telur, nafsu makan, pergantian kulit nimfa, peletakan telur, dan menekan jumlah telur yang diletakkan,” kata Paulus.

Sedangkan Nikolas Nik, akademisi dari Unimor mengatakan, belalang kembara dapat hidup dan berkembang biak pada daerah-daerah tertentu yang memiliki kekhasan seperti kelembaban rendah, musim kering yang panjang, dan lain-lain. Kondisi alam yang khusus dan perilaku petani setempat turut mendukung keberadaan belalang kembara tetap eksis dari waktu ke waktu. 

“Kondisi alam Nusa Tenggara Timur yang mempunyai banyak padang rumput atau savana, dengan iklim panas, kering, kelembaban rendah sangat sesuai untuk hidup belalang kembara. Hal ini juga didukung kebiasaan petani dengan praktek pertanian yang berpindah-pindah sehingga keberadaannya tidak pernah terputus,” papar Nikolas.

Nikolas juga menjelaskan, setelah mengetahui kantung-kantung habitat belalang kembara maka akan mempermudah pengendalian secara dini pada musim kemarau untuk mengurangi populasi di musim berikutnya. Pengendalian biologi dapat dilakukan pada kondisi ini dengan menggunakan bahan pengendali. seperti konidia cendawan Metarhizium anisopliae yang dicampur dengan minyak goreng/kelapa yang cukup efektif mengendalikan belalang kembara ini.

 

Reporter : Humas Ditjen Tanaman Pangan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018