Sunday, 24 October 2021


PIHC Buka Kesempatan Petani Ikut Program Makmur

16 Sep 2021, 14:58 WIBEditor : Yulianto

Aktivitas program Makmur | Sumber Foto:PIHC

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Ingin menjadi bagian Program Makmur, Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC)? Jika berminat bisa menghubungi perwakilan dan penanggungjawab di setiap daerah.

“Jika ingin bergabung bisa menghubungi tim wilayah. Kalau Jakarta, bisa melalui saya,” kata Project Manager Agrosolution PT. Pupuk Indonesia (Persero), M. Burmansyah saat Webinar Propaktani Program Mamur PIHC di Jakarta, Kamis (16/9).

PIHC kata M. Burmansyah, telah memberikan tanggung jawab masing-masing anak perusahaan. Untuk PT. Petrokimia Gresik bertanggungjawab wilayah, Jawa Timur, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, NTB, NTT, Sulawesi, Kalimantan dan Sumatera. Sedangkan PT. Pupuk Kalimantan Timur untuk wilayah, Indonesia bagian Timur, Sulawesi, Kalimantan, NTT, NTB dan Jawa Timur.

Sementara PT. Pupuk Kujang wilayah, Jawa Barat dan Banten. Adapun Pupuk Iskandar Muda mendapat tugas wilayah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Riau. PT. Pupuk Pusri bertanggungjawab untuk wilayah Sumatera Selatan, Bengkulu, Babel, Lamapung, Jambi dan Jawa Tengah.

Burmansyah menjelaskan, dalam pelaksanaan program Makmur ini ada beberapa langkah yang harus dilakukan. Pertama, sosialisasi dan elemen melalui pendekatan kepada petani. Kedua, penetapan CPCL petani dan gapoktan untuk mendapatkan data petani. Ketiga, mendapatkan permodalan dari perbankan. Keempat, keberadaan offtaker untuk menampung hasil panen petani.

Kelima, menetapkan distributor atau penyalur saprodi ke petani dan koperasi. Hal ini untuk ketepatan distribusi saraan produks pertanian, jaminan supply dan mutu pupuk. Keenam, kegiatan on farm dan off farm untuk kegiatan di lapangan. Keenam, peningkatan poduktivitas dan pendapatan petani.

Burmansyah mengakui, kendala pelaksanaan program ini diantaranya, petani tidak lolos SLIK. Karena itu, untuk membantu petani pihaknya mengundang investor atau distributor untuk menanamkan modal ke petani dengan pembagian keuntungan. “Jadi petani yang tidak lolos SLIK akan dimodali,” ujarnya.

Kendala lain adalah mengubah pola pikir. Selama ini ada kesan setiap ada program adalah bantuan gratis atau hubah. Karena itu, pola pikir petani ini yang mesti diubah bahwa program ini adalah pinjaman yang harus dikembalikan, sarana produksi harus bayar dan hasil panen harus disetor.

Hal lain yang menjadi kendala adalah pengolahan adminstrasi di perbankan yang memakan waktu cukup lama 1-2 bulan. Ini karena SDM perbankan tidak banyak tersedia, sehingga administrasi membutuhkan waktu lebih panjang. “Finansial dari para mitra distributor juga terbatas dan belum tertariknya pemberi modal kerja ke petani,” katanya.

Karena itu menurut Burmansyah, dalam program ini perlu dukungan piloting skema KUR khusus program Makmur dengan alokasi anggaran dari lembaga/Kementerian Pusat maupun Daerah. Selain itu, percepatan approval kredit prioritas oleh Bank Himbara yang difasilitasi PIHC.

“Perlu mendorong keterlibatan beberapa pihak, khususnya investor sebagai avalis KUR Tani dan Asuransi Penjamin Risiko. Untuk skala nasional, perlu business matching antara off-taker, producer/farmer dan financier memanfaatkan ekosistem digital,” tuturnya.

 

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018