Jumat, 21 Juni 2024


Teknologi Modern Berikan Optimisme Food Estate Sumba Tengah

23 Okt 2021, 18:56 WIBEditor : Yulianto

Mentan SYL saat berkunjung ke lokasi Food Estate Sumba Tengah | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Pendekatan teknologi modern memberikan optimistis pengembangan food estate di Sumba Tengah . Sebelum adanya food estate kegiatan semua dilakukan parsial, fasilitas pemerintah melalui APBD 1 dan 2, serta APBN tidak utuh dari hulu dan hilir. Namun kini fasilitas tersedia, termasuk alat mesin pertanian.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Sumba Tengah, Melkianus Umbu Ngailu mengatakan, berbeda saat food estate masuk. Jika selama ini pengolahan lahan masih tradisonal dan alsintan traktor roda 2 dan 4 terbatas, maka dengan food estate pengolahan lahan dengan mekanisansi berjalan luar biasa.

“Ini sungguh dirasakan petani. Bahkan pada tahun 2020 ada 600 ha lahan baru yang dibuka dengan program perluasan areal tanam baru. Tahun ini diperkirakan akan ada 1.000 ha perluasan areal tanam baru,” tuturnya.

Keuntungan lain dari food estate menurut Melkianus adalah peningkatan dalam budidaya tanaman. Sebelum food estate budidaya belum maksimal, hanya 30 persen petani yang menggunakan pola tanam sesuai anjuran. Namun setelah ada food estate hampir 70-80 persen masyarakat mengikuti aturan.

“Ada strategi baik dari pemerintah yakni jika tidak mengikuti teknologi anjuran, maka sarana dan prasarana lainnya tidak dilayani, termasuk dalam pengolahan lahan. Ada sugesti untuk mengajak petani,” tuturnya.

Selama ini sarana produksi (saprodi) sangat terbatas, benih juga belum bersertifikat. Bahkan banyak petani yang menggunakan benih lokal. Selain itu penggunaan pupuk juga sedikit. Meski ada pupuk, tapi daya beli masyarakat rendah, sehingga banyak yang tidak mengaplikasikan pupuk. “Apalagi herbisida dan pestisida,” keluhanya.

Namun keberadaan food estate, saprodi pertanian cukup lengkap. Begitu juga penanganan pasca panen Jika selama ini manual sehingga membuat biaya tinggi, tapi dengan food estate yang panen mengunakan combine mengurangi biaya usaha tani dan waktu panen lebih cepat. Dengan mekanisasi biaya usaha tani mencapai Rp 12,5 juta/ha, namun kini hanya Rp 5 juta. 

“Jadi sangat terlihat manfaat bagi masyarakat,” tegasnya. Karena itulah Melkianus optimis, program food estate akan terjadi perluasan areal tanam baru hingga 6.000 ha. Sebelumnya petani hanya bisa tanam pada musim hujan yakni Desember-Januari, sedangkan periode Maret-April tidak ada pertanaman padi karena khawatir rusak karena kekeringan.

Dengan adanya food estate, luas tanam padi yang dalam tiga tahun terakhir hanya 6.879 ha, tapi tahun 2021 sejak Januari sampai Juni sudah mencapai 4.800 ha. Saat masuk musim hujan Oktober-Desember diperkirakan akan ada pertanaman seluas 7.400 ha. Artinya, luas tanam 2021 sebesar 12.239 ha dengan produktivitas 4-5 ton/ha.

Begitu juga dengan luas pertanaman jagung. Petani selama ini lebih terkonsentrasi pada padi sawah, sehingga luas pertanaman jagung masih kecil. Hal ini karena petani lebih pada pemenuhan konsumsi dan belum berorientasi pada pasar. Karena itu, kecenderungan petani hanya mengelola lahan sawah.

“Ketika ada food estate pengembangan lahan jagung menjadi perhatian dan terus menerus disosialisasikan, serta pembinaan di tingkat petani,” katanya.  Karena itu, luas pertanaman jagung diperkirakan akan meningkat seiring bertambahnya luas areal pertanaman di lokasi food estate.

Melkianus mengatakan, jika selama periode 2019-2020 luas pertanaman jagung hanya 5.000-6000 ha, maka tahun 2021 sampai Juni sudah mencapai 2.531 ha. Saat masuk musim hujan Oktober-Desember diperkirakan total pertanam jagung mencapai 8.391 ha.  Jumlah itu dari lokasi food estate seluas 4.600 ha dan progam APBD 1 dan 2 seluas 2.000 ha.  “Ini ada kaitan dengan pendekatan tekonologi modern,” ujarnya.

 

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018