Monday, 06 December 2021


Klaim AUTP dari Jasindo, Ini Kriteria Gagal Panen

19 Nov 2021, 09:53 WIBEditor : Yulianto

Babinsa terjun ke sawah bantu petani tanam padi | Sumber Foto:Suparman

TABLOIDSSINARTANI.COM, Jakarta---Semua jenis usaha termasuk pertanian pasti mengundang resiko, baik ringan sedang maupun berat. Gangguan hama, penyakit dan cuaca ekstrim masuk dalam kategori resiko yang mau tidak mau harus dihadapi petani.

Langkah preventif adalah bagian penting dalam meminimalisir dampak yang bisa dilakukan. Sedangkan mitigasi resiko adalah solusi logisnya. Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) menjadi jaring pengaman bagi petani dalam menghadapi resiko gagal panen.

“Asuransi Usaha Tani Padi menjadi salah satu instrumen dalam mengelola resiko (mitigasi) bagi lahan pertanian yang terdampak banjir karena fenomena La Nina, ujar Head of Technic Group PMP Jasindo, Irwan Sofiansyah saat Webinar La Nina Datang, Asuransi Pertanian bikin Tenang yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani, Rabu (17/11).

Selain banjir, berdasarkan Permentan No. 40 tahun 2015 Asuransi Usaha Tani Padi juga melindungi petani dari resiko kekeringan, serangan hama dan penyakit tanaman yang dapat mengakibatkan gagal panen. Ragam penyakit yang dicover adalah Blast, Bercak Coklat, Tungro, Busuk Batang dan Kerdil Hampa. Sedangkan untuk hama adalah Penggerek Batang, Wereng Coklat, Walang Sangit, Ulat Grayak dan Tikus.

Irwan menambahkan, tujuan asuransi adalah agar petani semakin bersemangat dalam berusaha tani karena adanya jaminan penggantian untuk modal tanam kembali apabila terjadi resiko gagal panen.  Sebelum adanya program asuransi, petani yang mengalami gagal panen mengandalkan pinjaman atau utang dengan bunga  tinggi untuk modal tanam dari tengkulak atau pelepas uang, hal ini sangat membebani.

Selain manfaat ketenangan dan kenyamanan dalam berusaha, asuransi menjamin keberlangsungan usaha tani dan peningkatan pendapatan atas kepastian keberhasilan usaha, papar irwan. Manfaat tambahan lain yang bisa didapat adalah, kemudahan akses pembiayaan dari perbankan sebagai nilai tambah yang dapat melancarkan dalam mendapatkan kredit.

Irwan mengatakan, sebagai perusahaan asuransi pelat merah yang ditugaskan pemerintah untuk menjadi penyedia AUTP sejak 2015 lalu, Jasindo bekerjasama dengan semua stakeholder. Diantaranya, Direktorat Pembiayaan PSP dan dinas pertanian di 28 provinsi untuk meyakinkan petani agar mengasuransikan lahan pertaniannya sebelum terlambat.

Sebagai gambaran Irwan menjelaskan, walaupun petani hanya diwajibkan membayar 20?ri nilai premi atau sebesar Rp. 36.000 dari total Rp. 180.000,- masih banyak petani yang enggan untuk ikut program asuransi ini. Hal ini lebih kepada budaya petani yang akan lebih percaya, kalau sudah merasakan manfaatnya lebih dahulu sebelum mencoba.

Syarat klaim

Pada dasarnya gagal panen adalah kondisi yang sangat tidak diinginkan. Namun  jika terjadi, maka petani yang ikut serta dalam program asuransi mendapatkan ganti rugi sebesar Rp 6 Juta/ha. “Sebelumnya memang perlu dilakukan tahapan penilaian untuk menentukan apakah lahan tersebut bisa masuk dalam kategori gagal panen atau tidak,” katanya.

Irwan menjelaskan, untuk bisa mengajukan klaim penggantian ada 2 kriteria gagal panen yang harus dipenuhi. Pertama, intensitas kerusakan pertanaman padi telah mencapai 75 persen. Pihak asuransi meminta bantuan petugas PPT untuk penilaian, serta validasi di lapangan dengan metode pencatatan dilengkapi foto.

Kriteria yang kedua dilihat lagi apakah luas kerusakan lahan telah mencapai 75 persen per petak alami. Jasindo tetap bekerjasama dengan petugas PPT, sebagai referensi dalam pencairan ganti rugi.

Setelah dua kriteria tersebut sudah terpenuhi, klaim asuransi bisa segera diajukan untuk pencairan ganti ruginya. Kami dari pihak asuransi akan mempermudah klaim selama memenuhi ketentuan yang sudah ditetapkan Kementrian Pertanian sebagai regulator,” katanya

Reporter : Iqbal
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018