Wednesday, 21 October 2026


Atasi Kelangkaan Pupuk Subsidi, Ini Masukan Anggota DPR RI

24 Dec 2021, 22:05 WIBEditor : Herman

Pupuk Indonesia melakukan berbagai cara untuk membuat pupuk bersubsidi

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta – Kelangkaan pupuk  masih menjadi pekerjan rumah yang harus diselesaikan dalam menyediakan pupuk bersubsidi. Untuk itu, Anggota Komisi IV DPR RI Andi Akmal Pasluddin, mendorong pemerintah melakukan langkah nyata dalam menyediakan pupuk bersubsidi pada para petani. .  

Alokasi pupuk yang kurang, pengawasan yang masih lemah dan proses distribusi yang masih manual, mejadi penyebab kelangkaan pupuk bersubsidi hingga saat ini. Hal tersebut disampaikan  Anggota Komisi IV DPR RI Andi Akmal Pasluddin pada Indonesia Business Forum, yang ditayangkan TV One, Rabu (22/12). 

Karena itu, Andi meminta pemerintah untuk menambah alokasi pupuk subsidi. Menurutnya, pemerintah harus menunjukkan keberpihakan terhadap petani dalam penyusunan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). 

“Selama dua tahun ini subsidi pupuk untuk petani diturunkan jumlahnya. Sementara untuk penyertaan modal negara untuk BUMN dinaikkan. Ini menurut kami kebijakan yang tidak pro terhadap pertanian.” ungkap Andi. 

Andi juga mengharapkan pemerintah meningkatkan pengawasan dan memperbaiki distribusi pupuk bersubsidi. Politikus PKS ini menyebut, secara ketentuan pupuk bersubsidi ditujukan untuk petani kecil dengan lahan kurang dari dua hektar. 

Kenyataannya, masih banyak pengusulan untuk lahan di atas dua hektare. Kondisi tersebut disayangkan karena mengakibatkan beberapa daerah tertentu yang mengusulkan kebutuhan pupuk subsidi dalam jumlah yang sangat banyak. 

"Masalahnya di situ. Ternyata usulan dari bawah yang masuk melalui RDKK (Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok Tani)  itu lahannya di atas dua hektare. Sehingga yang diusulkan ke Kementerian Pertanian kebutuhannya bengkak sampai 24 juta ton. Sedangkan negara hanya bisa menyiapkan 7,5 juta ton. Aturannya sudah bagus, tapi pelaksanaannya di lapangan masih bermasalah," katanya. 

Ke depannya, Andi berharap pemerintah terus melakukan perbaikan dalam distribusi. Sistem yang masih manual, ditenggarai turut memicu permasalahan. 

“Kita harus menghindari permainan di distributor dan agen. Kenyataannya yang kami temukan masalah pupuk bersubsidi terjadi karena kita masih menggunakan sistem manual. Kita harapkan ada digitalisasi. Jangan sampai negara lalai terhadap perlindungan petani,” tegas Andi. 

Pemerintah harus bisa menjamin harga pokok pembelian agar tidak merugikan petani. Terlebih keberadaan pupuk subsidi dengan luasan areal tanam saat ini sangat jomplang alias tidak sebanding. 

"Petani ini kasihan karena dihantam dari dua sisi. Pertama, pupuk susah didapat. Di sisi lain, harga gabah anjlok. Karena itu, pemerintah juga harus bisa menjamin harga pokok pembelian. Dan sebenarnya ini tugasnya Bulog yang selama ini tidak dilaksanakan dengan baik," katanya. 

Pada kesempatan yang sama, Wakil Direktur Utama Pupuk Indonesia, Nugroho Christijanto mengatakan kelangkaan pupuk yang terjadi selama ini karena masalah harga gas internasional yang melambung tinggi. Sedangkan dalam pembuatan pupuk komersil, pihaknya mengikuti harga internasional. 

"Kapasitas pupuk subsidi kita hanya 14 juta yang terdiri dari Urea, NPK, SP36 dan ZA. Memang paling besar komposisinya pupuk urea. Artinya apa yang ada kita dedikasikan untuk pasar komersial," katanya. 

Nugroho memastikan Pupuk Indonesia akan melakukan berbagai cara dalam membantu meringankan beban petani. Salah satunya dengan mengkhususkan tersediaan pupuk untuk memenuhi kebutuhan lokal pada  Musim Tanam (MT1). 

"Jadi khusus pada musim tanam MT 1 ini kita sudah mengambil kebijakan untuk tidak melakukan ekspor, jadi kita fokus ke pasar dalam negeri saja. Dan saya rasa kalau kita bicara kebutuhan pupuk dalam negeri sangat besar. Tentu 14 juta ini rasanya tidak bisa memenuhi kebutuhan pupuk dalam negeri," katanya. 

Guru Besar IPB, Prof. Dwi Andreas Santosa menyampaikan bahwa kenaikan pupuk non subsidi yang terjadi saat ini harus dipahami secara utuh, dimana harga gas dunia sedang mengalami kenaikan yang cukup jauh. 

"Kenaikan pupuk non subsidi ini sangat dipengaruhi pupuk dunia. Dan pupuk dunia dipengaruhi oleh harga gas alam. Dan kebetulan gas alam ini peningkatannya sangat luar biasa. Dari bulan Mei tahun lalu sampai sekarang peningkatannya mula-mula US$ 3 sekarang US$25. 

"Padahal ini bahan baku pupuk nitrogen. Jadi kalau saya bilang, kalaupun kita tanpa subsidi, naik turunnya harga pupuk itu akan tergantung naik turunya gas. Kalau soal langka mungkin bisa terkait dengan penganggarannya juga, karena anggaran itu biasanya di Januari," tutupnya.

 

 

Reporter : Herman
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018