Selasa, 20 Januari 2026


Jerami, Sumber Pupuk Organik yang Kerap Dibuang

18 Mar 2022, 15:38 WIBEditor : Yulianto

Petani sedang panen

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Kondisi tanah sawah irigasi di Indonesia, khususnya di Jawa, kini telah mengalami penurunan kesuburan, bahkan kadar organik tanah kurang 1 persen. Kondisi ini harus segera diperbaiki, salah satunya dengan penggunaan pupuk organik.

Susiana Susanti, peneliti Balai Penelitian Tanaman Padi mengatakan, petani biasanya tidak mengembalikan jerami ke tanah, sehingga menjadi salah satu penyebab kondisi tanah pertanian mengalami penurunan kesehatan.

Karena itu Susiana menyarankan agar petani mengembalikan jerami ke tanah sebagai pupuk organik untuk mengembalikan kesuburan tanah. "Memang tak mudah mengajak petani untuk bertani organik. Pasalnya, pertanian organik membutuhkan kerja keras, karena kebutuhan hara tanaman ada 16 unsur dengan porsi yang berbeda-beda," katanya dalam satu webinar Propaktani.

Disisi lain, Susiana melihat respon pupuk organik lamban dan jangka panjang, sehingga diperlukan jumlah cukup banyak. Untuk kotoran hewan diperlukan hingga 5 ton/ha. “Tantangan ini yang kadang memberatkan petani untuk menerapkan pertanian organik,” ujarnya.

Untuk mengembalikan kesuburan lahan, Susiana menyarankan agar petani memanfaatkan kembali jerami hasil panen padi sebagai pupuk organik. Artinya, bahan yang ada di lahan (insitu) bisa dimanfaatkan untuk pupuk organik dengan penambahan dekomposer.

“Kalau ingin kondisi yang lebih bagus, jerami bisa kita bawa keluar dari lahan dan difermentasikan. Jadi kita buat jerami menjadi kompos untuk penggunaan pupuk pada musim tanam selanjutnya,“ tuturnya.

Data BB Padi, kandungan hara bahan organik jerami kering untuk Nitrogen sekitar 0,5-0,8 persen. Jika hasil gabah  5 ton/ha, maka jeraminya ada sekitar 5 ton. Artinya akan ada Nitrogen sebagai 40 kg/ha. “Jika petani membakar jerami, maka akan membuang 40 kg nitrogen,” ujarnya.  

Begitu juga dengan kandungan Posfat dalam jerami yang sebesar 0,07-0,12 persen. Sedangkan unsur Kalium dalam jerami jumlahnya 1,2-1,7 persen atau ada 85 kg K yang dapat dimanfaatkan tanaman. “Jerami itu sumber pupuk organik yang mudah didapat dalam usaha tani padi. Dalam 5 ton gabah ada 5 ton jerami,” katanya.

Trik Kelola Jerami

Namun Susiani mengingatkan, selama pengolahan tanah, jerami yang ada di lahan sawah sebaiknya jangan digenangi air, karena kualitasnya akan menurun. Karena itu, pihaknya merekomendasikan agar jerami jangan diberikan dalam bentuk segar, tapi difermentasikan terlebih dahulu menjadi kompos.

“Kalau kita fermentasikan dengan baik dan benar, jerami akan berwarna hitam. Ciri pupuk organik yang baik adalah bentuknya remahan,” tuturnya. Salah satu cara, menurut Susiana, bisa menggunakan bio dekomposer. Saat ini sudah ada produk yang dihasilkan Badan Litbang Pertanian.

Selain jerami, Susiana mengatakan, kotoran sapi (kohe) juga bisa digunakan untuk pupuk organik, karena unsur Nitrogen-nya mencapai 4,02 persen. Di BB Padi ungkapnya, pembuatan pupuk organik dengan kohe hanya dengan mengeringkan dan ditutup terpal. “Kami tidak menggunakan bahan macam-macam, tapi kualitasnya juga cukup bagus,”  tegasnya.

Namun Susiana mengingatkan, jika petani ingin mengembangkan padi organik, maka harus bersabar. Selain itu, ia juga merekomendasikan agar populasi tanamannya lebih banyak agar produksinya juga tinggi. “Jangan gunakan jarak yang lebar 25 x 25 cm, apalagi 30 x 30 cm. Karena dalam budidaya padi organik makanan untuk tanaman berkurang, sehingga jarak tanamnya harus rapat,” tuturnya.

 

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018