
Petani sedang melakukan pengendalian penyakit blast
TABLOIDSINARTANI.COM, Malang---Pemerintah terus mendorong petani menjadi peserta Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Program menjadi salah satu upaya pemerintah memberikan perlindungan kepada petani saat berusaha tani, terutama gagal panen akibat bencana alam dan gangguan hama dan penyakit.
Guna mendorong peserta AUTP, melalui Proyek Peningkatan Kapasitas untuk Implementasi Asuransi Pertanian di Indonesia, Japan International Cooperation Agency (JICA) bekerjasama dengan Kementerian Pertanian, BAPPENAS, Kementerian Keuangan, BMKG dan Jasindo menyelenggarakan Training of Trainers (ToT) Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).
Pelatihan tersebut ditujukan bagi widyaiswara, penyuluh, POPT, staf dinas pertanian dan Jasindo dari Provinsi Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Bertempat di Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan, ToT AUTP yang diselenggarakan 21-23 Maret 2022 diikuti 50 peserta.

Menurut Akiko Aikawa, Chief Advisor proyek asuransi pertanian JICA, proyek ini bertujuan meningkatkan kapasitas untuk implementasi asuransi pertanian di Indonesia. ToT ini merupakan salah satu bagian dari kegiatan proyek untuk meningkatkan implementasi AUTP.
"Tujuannya ToT ini untuk memperkuat kapasitas pemangku kepentingan di lapangan, yang memiliki peran penting sebagai garda terdepan dari pelaksanaan AUTP dan melibatkan petani," katanya.
Akiko mengatakan, ToT AUTP ke-3 ada tiga hal baru dibandingkan dengan pelatihan sebelumnya. Pertama, widyaiswara BBPP Ketindan diundang untuk pertama kalinya sebagai kandidat master trainers ke depannya, terutama setelah proyek berakhir.
“Diharapkan mereka akan secara penuh mengambil alih kegiatan ToT ini dan mereplikasinya ke wilayah kerja BBPP Ketindan setelah proyek berakhir,” katanya.
Kedua, ToT AUTP ketiga mengundang ketua kelompok tani sebagai tambahan dari target peserta sebelumnya, termasuk dari dinas pertanian, PPL, dan POPT. Melalui program pelatihan, memungkinkan secara langsung mendengar masukan atau suara petani untuk peningkatan modul pelatihan.
Ketiga, ToT ke-3 ini diselenggarakan dalam bentuk hybrid. Artinya, tidak hanya bergantung pada sistem online dengan kehadiran jarak jauh dari Jakarta dan Jepang. Namun juga penyelenggaraan ToT offline ini dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.
“Kami akan lihat dengan cermat nantinya sejauh mana penyelenggaraan secara offline akan dapat menghasilkan perbedaan efektivitas pelatihan di lapangan, dibandingkan dengan pelaksanaan ToT secara online,” katanya.

Sementara itu Kepala BBPP Ketindan, Sumardi Noor berharap, melalui ToT peserta mendapatkan informasi terkait AUTP dengan baik dan dapat menyebarluaskan informasi kepada petani padi, dan petani tertarik untuk mengasuransikan usaha tani padinya. “Semua peserta harap bersungguh-sungguh dalam mengikuti semua rangkaian ToT,” katanya.
Sumardi juga berpesan agar setelah ToT, peserta bisa merekrut petani sebanyak-banyaknya untuk mengikuti AUTP. Bahkan bisa menjelaskan bahwa dengan AUTP petani tidak perlu khawatir kemungkinan terburuk terhadap usaha taninya yaitu gagal panen.
Sementara itu Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Dedi Nursyamsi, seringkali mengingatkan bahwa pangan adalah masalah yang sangat utama. Masalah pangan adalah masalah hidup matinya suatu bangsa.
Hadir secara online dalam pembukaan ToT AUTP, Noor Avianto, dari Direktorat Pangan dan Pertanian, BAPPENAS, Kota Hirayama (Deputy Team Leader) Sanyu Consultants Inc., Ika Purwani dari Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur, dan Perwakilan dari Jasindo.