Sunday, 26 June 2022


Akses KUR untuk Alsintan, Perlu Pakai DP?

23 Mar 2022, 12:59 WIBEditor : Gesha

Petani kini telah banyak memanfaatkan alsintan | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- Pengelolaan Taksi Alsintan menjadi jalan menghadirkan teknologi alsintan dalam usaha tani. Pembelian Alsintan pun kini dipermudah dengan adanya Kredit Usaha Rakyat (KUR) Alsintan. Bagaimana caranya agar petani bisa mengaksesnya? 

Taksi Alsintan menjadi program penyediaan alsintan secara mandiri oleh pelaku usaha di sektor pertanian yang digulirkan Kementerian Pertanian. Seperti diketahui, alsintan menjadi bentuk hadirnya teknologi di tengah petani untuk efisiensi dan efektivitas kinerja.

Melalui fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR), Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mempermudah petani perorangan maupun kelompok untuk memiliki alsintan tanpa menunggu bantuan pemerintah. 

"Harapannya, alsintan bisa dimiliki dan dikelola oleh petani maupun Gabungan Kelompok tani yang berdiri sebagai Unit Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA)," sebut Widyaiswara Ahli Muda, Pusat Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (PPMKP) Ciawi, Rizky Permana S. Si,  MM saat Training of Trainer bagi Widyaiswara, Dosen, Guru dan Penyuluh Pertanian "Sistem Pengelolaan Taksi Alsintan" Rabu (23/03). 

Serupa dengan pembiayaan sektor pertanian lainnya, Rizky menyebutkan KUR untuk Alsintan memiliki kriteria tertentu untuk calon debitur (pengaju KUR). "Khusus KUR untuk Alsintan, harus ada agunan tambahan. Kalau pinjaman diatas Rp 100 juta harus ada agunan," tegasnya. 

Hal ini sesuai dengan ketentuan Permenko No 1 Tahun 2022 dimana calon debitur KUR adalah debitur KUR eksisting atau calon debitur baru yang tidak menerima kredit/pembiayaan selain KPR, Kredit Kendaraan Bermotor (KKB), Kredit dengan jaminan SK Pensiun, Kartu Kredit, Resi Gudang, Kredit Konsumsi untuk kebutuhan rumah tangga. 

Diakui Rizky, sebagai produk perbankan, tidak ada namanya KUR Alsintan. Namun, KUR untuk pembelian Alsintan. Karenanya, KUR untuk pembelian alsintan bisa masuk pada kriteria KUR super mikro (kurang dari Rp 10 juta), KUR mikro (plafon Rp 10-100 juta) maupun KUR kecil (Rp 100-500 juta), tergantung harga jual alsintan yang dibutuhkan petani dan diajukan ke Bank. "Harga combine harvester misalnya, Rp 400 juta, maka pengajuannya pada KUR Kecil," tuturnya. 

Sesuai dengan aturan, KUR Kecil dengan plafon Rp 100-500 juta tersebut memiliki suku bunga 6 persen per tahun dengan lama kredit, tergantung peruntukan pengambilan KUR. Untuk Kredit Modal Kerja (KMK), maksimal 4 tahun, sedangkan Kredit Investasi (KI), maksimal 5 tahun. 

Kriteria selanjutnya adalah lama usaha tani, minimal 6 bulan. Kemudian dokumen pengajuan dilampirkan dengan identitas (berupa E-KTP, KK, dan Akta Nikah) dan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP)-Tanda Daftar Perusahaan (TDP), Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), Surat Izin Tempat Usaha (SITU), Nomor Induk Berusaha (NIB) maupun surat keterangan usaha lainnya. 

Menurut Rizky, dalam pengajuan KUR untuk alsintan, petani pengaju KUR maupun Penyuluh pendamping harus tahu pembelian alsintan itu untuk modal kerja atau investasi. 

"Kalau beli alatnya hanya untuk berfungsi selama 1 tahun saja, maka disebut modal kerja. Tapi, kalau beli alatnya dan bisa dipergunakan lebih dari satu tahun, itu disebut investasi, " beber Rizky. 

Dengan demikian, Rizky mengatakan bahwa pembelian alsintan tergolong pada Kredit investasi. Sebab kebutuhan investasi meliputi bangunan, mesin produksi, peralatan leninjang, kendaraan, dan biaya pra operasional agar bisa melakukan produksi sesuai rencana. 

Pakai DP

Karena tergolong Kredit investasi, dalam pengajuan KUR untuk alsintan, Rizky menyarankan tersedianya sharing dana sendiri (SDS) atau lebih dikenal sebagai DP (Down Payment). Idealnya, 30-40 persen dan nyata ada di tabungan atau cash, sehingga jika petani ingin beli combine harvester dengan harga Rp 400 juta, setidaknya memiliki DP sekitar Rp 120 juta. 

"Kalau tanpa DP, bukan berarti lebih murah, tetapi DPnya dimasukkan kedalam pokok hutang sehingga semakin lama menganggur, semakin banyak yang harus dikembalikan, " tuturnya. 

Rizky menegaskan, untuk pengajuan KUR ini, petani maupun penyuluh pendamping harus pandai berhitung kemampuan bayar debitur agar tidak menunggak di perbankan. 

"Penyuluh harus mendampingi dan menanyakan kemampuan petani untuk pengajuan pembelian alat. Apakah terjadi signifikasi terhadap usaha taninya, " tegas Rizky. 

Karena itu, Rizky berharap agar penyuluh memastikan calon debitur KUR untuk Alsintan ini memiliki modal sendiri, minimal DP untuk pembelian Alsintan. Kemudian pastikan juga ada jaminan tambahan yang bisa cover pengajuan KUR investasi ini. Termasuk, pastikan juga masa depan petani agar mampu mengangsur kredit untuk alsintan tersebut sampai selesai. 

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018