Sunday, 26 June 2022


Petani-Penyuluh, Begini Tips KUR Diterima Perbankan

23 Mar 2022, 13:05 WIBEditor : Gesha

Petani Kembangsoko sudah terbiasa dengan Alsintan | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- Mempermudah pembiayaan petani, Kementerian Pertanian (Kementan) bekerjasama dengan pihak perbankan menggulirkan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Nah, bagaimana agar KUR bisa diterima (approved) oleh pihak perbankan?

"Ada banyak alasan kenapa KUR tertolak pihak bank. Mulai dari tidak ada kegiatan usaha, tujuan pengajuan KUR kurang jelas, dokumen tidak lengkap, riwayat pinjaman yang buruk, mempunyai tanggungan atau tunggakan pinjaman lain dan jumlah pinjaman yang terlalu besar dari kemampuan usaha," jelas Widyaiswara Ahli Muda, Pusat Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (PPMKP) Ciawi, Rizky Permana S. Si,  MM saat Training of Trainer bagi Widyaiswara, Dosen, Guru dan Penyuluh Pertanian "Sistem Pengelolaan Taksi Alsintan" Rabu (23/03). 

Diakui Rizky, meski KUR untuk Petani digulirkan Kementerian Pertanian, bukan berarti perbankan serta merta menggelontorkan KUR tanpa prinsip kehati-hatian. "Kementan hanya subsidi bunganya, tetapi uang yang diberikan sebagai pinjaman kepada petani adalah uang dari pihak bank," tegas Rizky. 

Karena itu, calon debitur (pengaju KUR) wajib membangun kepercayaan (trust) dengan pihak bank. Mulai dengan memenuhi syarat pengajuan kredit seperti dokumen pengajuan yang dilampirkan dengan identitas (berupa E-KTP, KK, dan Akta Nikah) dan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP)-Tanda Daftar Perusahaan (TDP), Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), Surat Izin Tempat Usaha (SITU), Nomor Induk Berusaha (NIB) maupun surat keterangan usaha lainnya.  "Khusus KUR untuk Alsintan, syarat kredit adalah jaminan tambahan. Berupa sertipikat tanah dan bangunan," tuturnya. 

Tips kedua adalah latar belakang profil debitur melalui Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) atau dahulu dikenal sebagai BI Checking serta pengecekan dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mengenai NIK debitur. "Sering terjadi adalah nama debitur dipinjam nama oleh anggota keluarga untuk menjadi debitur lain sehingga ketika dicek, nama debitur sudah memiliki pinjaman tertentu," bebernya. 

Prinsip 5C

Rizky memaparkan, perbankan memiliki prinsip 5C yakni character, capital, capacity, collateral dan condition of economy. Dalam kredit, character mengukur watak debitur serta kemauan untuk membayar (willingness to pay).  Adapun penilaian karakter ini antara lain keuletan dalam berusaha, tanggung jawab, kejujuran, kreativitas, kesabaran, gaya hidup bahkan sejarah kekerabatan (kaitannya dengan hutang piutang). 

Sedangkan capacity adalah kemampuan debitur menjalankan usaha dan mengetahui sejauh mana kemampuan melunasi kewajibannya tepat waktu. 

Untuk collateral, yakni jaminan yang diserahkan debitur dan sejauh mana recovery rate debitur (jaminan dijual cepat atau tidak). Collateral (jaminan) terdiri dari 2 macam yakni material (mesin/peralatan, kendaraan, emas, persediaan barang dan lainnya) serta im material (kepercayaan, tagihan, jaminan bank, surat berharga, feasibility study dan sebagainya). 

Sedangkan capital, merujuk pada dana atau modal usaha yang dimiliki debitur serta kemampuan self financing debitur. Karenanya, bank biasa melihat pada aspek keuangan seperti Neraca Laba Rugi dan cashflow

Untuk condition, adalah kondisi sosial ekonomi bahkan politik, budaya dan keamanan di daerah tersebut. "Ada tambahan 1 lagi yakni constrain dimana berupa batasan atau hambatan yang tidak memungkinkan bisnis tersebut dilakukan," tuturnya. 

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018