Friday, 01 July 2022


Brofreya 53SC, Solusi Petani Kendalikan Ulat Grayak Bawang Merah

20 May 2022, 10:09 WIBEditor : Herman

Sugeng Pramono, Technical & Marketing Manager Agricon Group | Sumber Foto:Indri

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Bawang merah, tanaman umbi bernilai ekonomi tinggi ini produktivitasnya dipengaruhi oleh luasan lahan tanam, penanganan hama dan penyakit, kualitas benih, dan jumlah kompetensi tenaga kerja. Hama dan penyakit yang muncul di setiap musim tanam sangat penting diantisipasi agar petani berhasil panen.

“Hama utama bawang merah yang menjadi “momok” bagi petani adalah Spodoptera exigua (Beet Armyworm) apalagi sekarang musim panas akan cukup tinggi serangannya. Siklus hidupnya berawal dari telur, larva, pupa, dewasa dan kemudian bertelur lagi,” kata Sugeng Pramono, Technical & Marketing Manager Agricon Group dalam Webinar bertema “Bawang Merah, Sukses Budidaya Hingga Menembus Pasar Ekspor”, pada Selasa (17/5).

Sugeng Pramono menjelaskan, satu generasi kurang lebih 39 hari, sehingga untuk satu musim tanaman bawang kurang lebih tiga hingga empat generasi Spodoptera exigua. Saat fase telur dan larva hidupnya berada di daun, fase pupa di dalam tanah, dan fase dewasa dia akan terbang. Ini perlu dipahami agar mengetahui cara pengendaliannya

Fase larva adalah fase yang paling berbahaya harus mendapatkan penanganan serius. Kronologisnya adalah ketika seekor Spodoptera exigua berada pada fase dewasa (ngengat), dia akan meletakkan ratusan telur-telurnya di daun. Potensi serangan ulat bisa sangat besar dari satu ngengat saja di lahan. Sekitar 3 - 7 hari penetasannya, begitu menetas, larva yang perlu makan akan melubangi daun hingga kedalam. Insektisida akan sulit kendalikan larva yang sudah masuk.

Larva ini bisa berpindah kedaun lainnya. Hal ini menimbulkan kerusakan parah pada tanaman. Setelah itu larva akan menjadi pupa masuk kedalam tanah, sekitar sepuluh hari dan kemudian jadi ngengat sekitar sepuluh hari juga, bertelur lagi dan seterusnya.

“Potensi kehilangan produksi sekitar 30 – 45 persen. Bahkan di beberapa tempat bisa habis, gagal panen akibat serangan ulat ini. Misalnya produksi per hektar 10 Ton, kemudian 40 persen rusak karena ulat, maka hilang 4.000 kg seharga @Rp 25.000 per kilo, maka potensi kehilangannya Rp 100 juta per hektar. Problemannya adalah ulat ini endemis, setiap musim tanam ada.,” ungkap Sugeng Pramono

Sugeng Pramono menambahkan, produk yang ada selama ini sulit mengendalikan ulat, sehingga petani harus mencampur-campurkan minimal 4 produk dengan biaya yang sangat mahal. Agricon sangat memperhatikan masalah-masalah petani dan membantu menyelesaikan masalah dengan biaya terjangkau.

Solusi dari Agricon adalah Insektisida Brofreya 53SC, Perlindungan Sempurna Serangan Ulat, Hasil Panen Optimal. Produk ini menjawab problema petani. Produk ini terbaru dan paten dengan bahan aktifi brofanilida dari Jepang yang masuk dalam group 30, sudah kami launching awal tahun 2022. Teknologinya adalah Tenebenal, untuk mengendalikan ulat lebih cepat dengan menonaktifkan reseptor Gaba.  

Gaba adalah satu bagian badan tubuh ulat yang menginstruksikan dari otak hingga keseluruh badan. Bila tidak ada protein yang masuk maka ini fatal bagi ulat, menyebabkan kematian. Berbeda dengan produk lain yang hanya “mem-blok” saja pada Gaba tersebut, yang kurang efektif karena masih ada aliran yang lolos pada Gaba, yang menyebabkan ulat masih mampu bertahan hidup.

Di salah satu sentra bawang merah di Klampok, Brebes, Jawa Tengah, terbukti Brofreya 53SC mampu mengendalikan ulat grayak ini. Dosis dan rekomendasi penggunaan Brofreya 53SC adalah di awal-awal tanam untuk mengantisipasi ledakan hama ulat ini di fase-fase tumbuhan berikutnya. Dosis, ikuti petunjuk label, Brofreya 53SC 1 mL/1 Liter air, hanya dua kali aplikasi per musim pada umur bawang merah 10 hari setelah tanam dan 24 hari, penggunaannya tidak perlu dicampur denganp roduk lain untuk mengendalikan ulat. 

“Kami sarankan cukup dua kali aplikasi yaitu kisaran 10 dan 24 hari setelah tanam, karena Brofreya 53SC mampu bertahan lama partikelnya pada daun tanaman dan tidak tercuci oleh air hujan. Hasil penerimaan petani atas Brofreya 53SC, terbukti mampu membantu petani Indonesia dengan biaya per musim tanam lebih ekonomis, menghemat hingga 50 persen dan petani tidak memerlukan lagi mencampur 4 produk Insektisida sekaligus“ kata Sugeng.

Reporter : Indri
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018