
Pemerintah dorong KUR alsintan untuk dongkrak level mekanisasi
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Transformasi pertanian dari tradisional ke modern kini telah dimulai bangsa Indonesia melalui pemanfaatan alsintan. Bahkan penggunaan alsintan yang masif mampu mendorong level mekanisasi pertanian.
Saat ini diakui, Indonesia masih tertinggal dari negara maju dan tetangga seperti Malaysia dan Thailand dalam level mekanisasi. Level mekanisasi negara maju seperti AS saat ini mencapai 17 HP/ha dan Jepang 16 HP/ha. Sedangkan Thailand 2,4 HP/ha dan Malaysia 2,4 HP/ha.
Dengan program mekanisasi level mekanisasi Indonesia nauk yang pada tahun 2016 sebelumnya hanya 0,5 HP/ha, kini menjadi 2,1 HP/ha. “Level mekanisasi kita kini sudah di atas Vietanam yang hanya 1,5 HP/ha,” kata Plt. Direktur Alsintan, Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), Rahmanto saat webinar Dukungan Alsintan dalam Modernisasi Pertanian yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani di Jakarta, Rabu (27/7).
Mengapa alsintan menjadi sangat urgen? Sudah bukan rahasia lagi, alsintan dapat membantu percepatan proses buddaya pertanian. Baik itu percepatan olah tanah, percepatan tanam, hingga percepatan panen. Dengan percepatan budidaya pertanian, petani pun bisa meningkatkan indeks pertanaman.
Rahmanto mengatakan, peran alsintan sangat dominan untuk menurunkan biaya produksi hingga efisiensi usaha tani. Karena itu tidak salah alsintan berperan penting dalam mendukung pertanian maju, modern dan mandiri.
“Sekarang ini bagaimana kita menguatkan kelembagaan UPJA dan fasilitasi Taksi Alsintan agar alsintan makin banyak di lapangan dan optimalisasi alsintan tingkat petani,” katanya.
Menurutnya, pemanfaatan alsintan memberikan kontribusi besar dalam efisiensi kerja, biaya, produktivitas dan kehilangan hasil panen. Seperti apa? Dalam pengolahan tanah, alsintan dalan meningkatkan efisiensi waktu kerja hingga 97,4 persen dan menurunkan biaya kerja 40 persen.
Begitu juga saat penanaman akan meningkatkan efisiensi waktu kerja 98 persen dan menurunkan biaya kerja 20 persen. Saat penyiangan, lebih efisiensi 88,5 persen dan hemat biaya kerja hingga 28,6 persen.
Sedangkan dalam kegiatan pasca panen, penggunaan alsintan akan menurunkan kehilangan hasil hingga 10 persen perhektar dan efisiensi waktu kerja hingga 98,6 persen. Biaya kerja juga lebih hemat hingga 26,9 persen.
Pemanfaatan KUR
Namun dengan anggaran pertanian yang kian menurun, kata Rahmanto, pemerintah berupaya agar level mekanisasi terus naik, meski dengan anggaran non APBN. Salah satu programnya adalah Taksi Alsintan dengan memanfaatkan dana KUR.
“Kita harapkan akan ada peningkatakan alsintan, baik dari sisi jumlah dan pemanfaatannya,” ujarnya. Data menyebutkan, jika Tahun 2015 anggaran pengadaan alsintan mencapai Rp 3,5 triliun, namun Tahun 2022 hanya sekitar Rp 600-700 miliar.
Taksi Alsintan menurut Rahmanto, merupakan model pengelolaan tata kelola usaha jasa alsintan dengan sistem jasa sewa atau kepemilikan alsintan melalui skim kredit perbankan. Dengan dukungan pemanfaatan teknologi informasi diharapkan akan menguatkan usaha atau bisnis kelembagaan pengelola alsintan.
Dalam pengembangan Taksi Alsintan, pemerintah melakukan secara selektif, partisipatif, bertahap dan berkelanjutan. Karena itu kata Rahmanto, pemerintah melakukan penyesuaian, revitalisasi dan harmonisasi kapasitas antar alsintan dengan potensi produksi pertanian.
“Kami juga mengintegrasikan dengan pengembangan bisnis korporasi petaninya,” ujarnya. Dalam pendirian Taksi Alsintan lanjut Rahmanto, pihaknya melibatkan pelaku usaha, termasuk Gapoktan, Gapoktan Bersama dan pengusaha lokal.
Untuk itu, pemerintah terus meningkatkan kapasitas SDM pelaksana kegiatan, serta pengelola alsintan melalui advokasi dan penyempurnaan pola pendampingan.
“Strategi lain dalam pengembangan alsintan adalah mendorong pola pembiayaan dengan sharing dana dari Pemerintah Pusat, Daerah, KUR, Swasta dan Poktan/Gapoktan,” ujarnya.
Bahkan pemerintah saat ini tengah merelaksasi KUR, khususnya program Taksi Alsintan.