Jumat, 23 Februari 2024


Kurangi Pupuk Kimia, Petani Blitar Gunakan Biosaka

11 Nov 2022, 00:15 WIBEditor : Yulianto

Mentan SYL bersama Bupati Blitar , Rini Syarifah dan penggagas Biosaka, Anshar | Sumber Foto:Humas Kementan

TABLOIDSINARTANI.COM, Blitar---Kurangi penggunaan pupuk kimia, petani di Kabupaten Blitar mulai mengaplikasikan Biosaka. Bahkan lahan yang menggunakannya sudah mulai panen. Hasilnya mencapai 8,9 ton/hektar (ha) gabah kering panen (GKP).

Panen dilakukan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) bersama Bupati Blitar, Rini Syarifah di Desa Tegalrejo, Kecamatan Selopuro, Blitar seluas 57 ha, Kamis (10/11).

"Saya hadir di Blitar ini untuk mengatakan bahwa mau ada climate change dan tantangan apapun ke depan, tapi pertanian kita tetap terjaga berkat pertanian. Kita butuh kerja keras memitigasi alam, apalagi pupuk mengalami kelangkaan di dunia. Kita bersyukur memiliki aplikasi Biosaka sehingga tidak bergantung pada pupuk kimia," kata SYL.

Apa sih biosaka? SYL menjelaskan, Biosaka adalah Bio artinya tumbuhan dan Saka singkatan dari selamatkan alam kembali ke alam. Biosaka itu bukan pupuk, tapi merupakan campuran pupuk yang dibuat dari ramuan diremes manual dengan tangan.

Bahannya minimal 5 jenis rumput/daun yang sehat sempurna di sawah, kemudian dicampur air, tanpa campuran apapun hingga menjadi ramuan homogen, harmoni dan koheren. Ramuan tersebut lalu disemprot ke tanaman dan sisanya bisa disimpan hingga 5 tahun.

"Hari ini saya diajarkan petani Blitar membuat Biosaka. Bahanya dari rumput sekitar dan produksi padi di Blitar mencapai 9 ton/ha. Penggunaan Biosaka ini bisa mengurangi penggunaan pupuk kimia di atas 50 persen. Ini bisa dikerjakan oleh siapa saja, termasuk ibu-ibu tani," katanya.

SYL melihat penggunaan Biosaka ini sangat cocok sekali di Pulau Jawa yang unsur haranya sudah bertahun-tahun diendapkan bahan kimia. Dengan Biosaka, ia berharap kesuburan tanah bisa dikembalikan

Dirjen Tanaman Pangan, Suwandi menambahkan, Biosaka itu bukan pupuk, bukan pestisida, tetapi elisitor yang berperan sebagai signaling bagi tanaman tumbuh. Keuntungannya, tanaman bisa berproduksi lebih bagus, hemat pupuk kimia sintetis, meminimalisir hama penyakit, lahan menjadi lebih subur.

Pengaplikasian Biosaka di Blitar dimulai tahun 2019 oleh Anshar, petani muda penggagas yang juga asli Blitar. Sampai saat ini sudah 12.000 ha di 22 kecamatan yang menerapkan aplikasi tersebut, bahkan kini mulai menyebar ke daerah lain di Indonesia.

Anshar menjelaskan cara membuat Biosaka. “Satu genggam rumput diremes dicampur dengan air 5 liter cukup untuk menyemprot 3 sampai 4 hektar semusim untuk padi, jagung kedelai singkong sorgum, ubi, kacang, sayuran buah dan lainnya sangat efisien,” katanya.

Menurutnya, ramuan Biosaka efektif dalam area wilayah setempat dan terjauh radius 20 KM. Namun ia mengingatkan, ramuan itu tidak efektif diaplikasikan di wilayah lain karena pengaruh agroekosistem.

Sementara itu, Bupati Blitar, Rini Syarifah mengatakan beras di Blitar mengalami surplus 64 ribu per tahun. Untuk menjaga ketersediaan beras surplus, perlu peningkatan prasarana dan sarana pertanian.

Salah satu permasalahanya adalah kurangnya alokasi pupuk bersubsidi, sehingga diperlukan inovasi dengan menggunakan pupuk organik yang murah, efisien dan mudah diaplikasikan petani.

Karena itu, dirinya mendorong aplikasi Biosaka yang dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia hingga 50 persen. Untuk itu, saya menyambut baik inovasi ini dan berharap dapat diterapkan di semua lahan pertanian," ujarnya.

Perlu diketahui, pada acara ini SYL bersama Bupati Blitar dan 500 petani Blitar serta petani di daerah lainnya secsra virtual melakukan praktek pembuatan Biosaka.

Selain di Blitar, aplikasi Biosaka sudah dikaji dan demplot ujicoba di Blora, Sragen, Klaten Grobogan, Jatisari dan daerah lainya dengan hasil yang bagus oleh Tim Perguruan Tinggi dan Kementerian Pertanian.

Manfaat ramuan Biosaka yakni biaya nol rupiah, gratis buatan sendiri, tidak ada risiko kerugian bagi petani, dan menghemat biaya pupuk kimia 50 sampai 90 persen. Dengan demikian, petani yang biasanya harus mengeluarkan biaya pupuk Rp 3 juta/ha/musim menjadi cukup Rp 0,3 hingga 1,5 juta/ha/musim.

Keuntungan lainnya, penggunaan biosaka meminimalisir atau mengurangi serangan hama penyakit dan lahan pun menjadi subur, sehingga produksi lebih bagus.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018