Senin, 15 Juli 2024


Pupuk Organik Ember Tumpuk, Kreasi Unik Penyuluh Jawai Sambas

22 Des 2022, 04:38 WIBEditor : Yulianto

KWT di Jawai memanfaatkan ember untuk membuat pupuk organik dengan memanfaatkan ember | Sumber Foto:BBPP Ketindan

TABLOIDSINARTANI.COM, Malang---Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian mendorong petani bisa membuat pupuk sendiri, khususnya yang organik. Apalagi kini subsidi untuk sarana produksi tersebut semakin terbatas. Salah satu cara unik dilakukan penyuluh pertanian Jawai, Sambas yang membuat pupuk dengan memanfaatkan ember.

Penyuluh pertanian Jawai, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, memanfaatkan limbah pertanian berupa sisa buah, sayuran yang diolah menjadi pupuk cair. Namun ada yang membedakan dan cukup unik, penyuluh menggunakan metode ember tumpuk agar petani bisa dengan mudah membuat pupuk organik.

Ember tumpuk adalah metode yang digunakan dalam memproses pembuatan pupuk dengan menggabungkan ember bekas yang disusun, sehingga bertingkat.  Dalam proses pembuatan pupuk dengan metode ember tumpuk yakni, mengolah sampah sederhana untuk skala rumah tangga yang dibantu larva Hi (Hermetia illucens).

Larva Hi dapat membantu proses pengomposan secara aerob dan mempercepat proses penguraian sampah pertanian di dalam reaktor ember tumpuk. Secara ekonomis memjadikan proses pembuatan pupuk organik menjadi dua macam yaitu pupuk organik cair dan pupuk organik padat.

Metode pembuatan pupuk organik dengan ember tumpuk tergolong sederhana. Hal ini karena untuk membuat alat reaktor ember tumpuk dari alat dan bahan yang sederhana, serta mudah di peroleh (bisa menggunakan barang bekas). Dengan ember tumpuk, setiap orang baik di desa, di komplek perumahan dan perkotaan dapat membuat pupuk organik secara mandiri.

Dengan cara yang cukup sederhana itu, siapa dan dimana saja bisa membuat pupuk organik secara mandiri. Bukan hanya masyarakat di pedesaan, tapi juga perkotaan. Dampaknya, limbah pertanian yang dianggap menggangu dan menimbulkan polusi bisa bermanfaat menjadi pupuk dan bisa menghemat biaya produksi.

Pemanfaatan teknologi tepat guna dan sederhana sangat membantu dalam proses peningkatan produktivitas pertanian. Tujuannya, peningkatan ekonomi petani dapat diwujudkan, sehingga bisa menghadapi ancaman yang sudah ada di depan mata.

Efisiensi dalam berproduksi menjadi penting dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas produk pertanian. Dengan pelatihan, pendampingan yang dilakukan, baik widyaiswara, penyuluh, petugas pertanian lainnya, dosen, guru, dan lain sebagainya diharapkan dapat menggerakkan petani untuk membuat produk pupuk organik. Nantinya petani bisa mengembalikan unsur hara menjadi lebih sehat dari cemaran limbah kimia.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi mengatakan bahwa, kita harus memiliki sense of crisis (kesadaran akan krisis) dengan segala resiko yang di depan mata. Risiko yang paling dahsyat dampaknya adalah kekurangan dan kelangkaan pangan.

Untuk itu, diperlukan berbagai terobosan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia yang semakin langka. Diantaranya melalui pemakaian pupuk organik, pupuk hayati, pembenah tanah serta implementasi pemupukan berimbang. Di sisi lain, pupuk organik dapat dihasilkan dari integrated farming antara peternakan dan budi daya pertanian.

Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengajak petani seluruh Indonesia bisa membuat pupuk organik secara mandiri. Apalagi subsidi pupuk yang ada saat ini jumlahnya sangat terbatas. Belum lagi bahan baku seperti gugus fosfat yang sebagian besar dikirim dari Ukraina dan Rusia tersendat karena adanya perang.

“Petani yang tidak dapat pupuk subsidi segeralah menghadirkan pupuk organik. Minimal setiap kabupaten harus jadi percontohan dan tidak mengandalkan bantuan pemerintah pusat,” katanya.

Reporter : Laila Nuzuliyah/ Yeniarta
Sumber : BBPP Ketindan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018