Sabtu, 25 Mei 2024


Siaga Dini El Nino, Sebelum Kekeringan Melanda

13 Sep 2023, 13:47 WIBEditor : Yulianto

Webinar Siaga Dini Hadapi Perubahan Iklim | Sumber Foto:Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Dampak perubahan iklim kini mulai terasa. Beberapa sentra pangan mulai dilanda kekeringan, harga gabah dan beras pun bergerak naik. Kondisi ini harus diantisipasi sejak dini, terutama dampak terhadap pasokan pangan. Apalagi bangsa Indonesia akan memasuki tahun politik 2024.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak kekeringan akan terjadi di Agustus-September.  El Nino yang diprediksi berintensitas lemah hingga moderat dikhawatirkan berpengaruh terhadap ketersediaan air.  Kekeringan yang terjadi juga berdampak kepada produktivitas di sektor pertanian hingga ketahanan pangan.

Ketua Umum Masyarakat Perbenihan dan Perbibitan Indonesia (MPPI), Dr. HE. Herman Khaeron mengatakan, perubahan iklim harus dicermati terutama dampaknya terhadap sektor pertanian, khusus produksi pangan. Seperti diketahui, pangan sesuai UU Pangan merupakan hak azasi setiap manusia.

”Pangan menjadi sangat esensial karena tidak ada satu orang pun yang bertahan tanpa asupan pangan,” katanya saat webinar Siaga Dini Hadapi Perubahan Iklim: Ketersediaan Prasarana dan Sarana Pertanian yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Herman mengingatkan, perubahan iklim bukan hanya berdampak pada kekeringan, tapi juga bisa terjadi kebanjiran yang keduanya tidak menguntungkan bagi produksi pertanian. Kadang perubahan iklim juga akan meningkatkan serangan hama dan penyakit tanam. ”Ke depan yang akan kita hadapi adalah El Nino. Persoalan itu harus bisa kita hadapi bersama,” ujarnya.

Di daerah yang masih tanam padi saat El Nino ini menurut Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, petani juga kini dihantui serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Contohnya di Cirebon, meski kondisi air cukup, masa tanam baik, tapi hampir banyak lahan padi justru terserang hama wereng dan tikus.  “Jadi saat perubahan iklim ini petani harus ekstra overtime menyiasatinya. Bahkan petani di Cirebon bukan hanya satu kali gagal panen, tapi dua hingga tiga kali,” tuturnya.  

Menurut Herman, dampak perubahan iklim bukan hanya menurunkan produksi, tapi juga bisa menurunkan mutu dan hasil. Dengan dampak yang sangat luas, ia meminta pemerintah jangan memandang sebelah mata persoalan perubahan iklim.

”Karena esensi pangan sebagai hak azasi manusia dan begitu luasnya dampak perubahan iklim, harus ada cara dan strategi, serta kebijakan yang dapat membantu petani. Strateginya pun tidak biasa-biasa saja,” tambah anggota DPR dari Partai Demokrat tersebut. Terbitnya UU Perlindungan Petani menjadi salah satu upaya yang harus pemerintah jalankan untuk membantu petani.

Sementara itu, Dudy Kristyanto, Sekretaris Croplife Indonesia pun mengakui, secara umum tantangan pertanian cukup besar. Selain, perubahan iklim yang menyebabkan banjir dan kekeringan, juga masifnya alih fungsi lahan, gangguan OPT dan meningkatnya jumlah penduduk dunia.

“El Nino yang menyebabkan kekeringan membuat hasil tidak maksimal. Kondisi saat ini hampir sama dengan tahun 2019.  Ini yang harus kita perhatikan dan akan selalu ada, serta menjadi ancaman bagi produksi pertanian,” tuturnya.

Menurutnya, El Nino membuat terjadi cekamanan abiotik tanaman. Misalnya, kondisi suhu, kimia, angin. Ada saatnya pergantian musim dan cuaca angin menjadi faktor cekaman abotik dan pertumbuhan hama. Selain itu juga aspek radiasi. Penyinaran matahari yang panas akan sangat menggaggu tanaman, meski memang ada tanaman yang tahan terhadap kekeringan.

Cekaman abiotik tanaman juga berasal dari ketersediaan air. Tanah sebagai media tumbuh tanaman bisa menjadi cekaram kalau kekurang air. ”Cekaman abiotik tanaman itu, kalau kita singkat menjadi SKARAT, Suhu, Kimia, Angin, Radiasi, Air dan Tanah,” katanya.

Sosialisasi ke Petani

Menghadapi fenomena El Nino tersebut, Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Jawa Barat gencar menyosialisasikan ke petani di seluruh Kabupaten/Kota di Jawa Barat. Salah satunya, Kabupaten Subang. “Sejak April 2023 lalu kami KTNA Jabar, terus mensosialisasikan kepada petani yang menanam padi untuk menghadapi El Nino ini dengan beralih dulu menanam jagung. Petani itu kan tidak harus menanam padi, tetapi perlu adaptif dalam segala kondisi yang ada,” kata Otong Wiranta, Ketua KTNA Jabar.

Meski ada kekhawatiran menghadapi El Nino, Otong mengingatkan, tetap harus ada upaya mempertahankan dan meningkatkan produksi. Saat ini menurutnya, sebagian petani di Sumatera Selatan, Lampung, Banten dan Jawa Barat akan memasuki masa panen raya kedua sebelum puncak El Nino yang diperkirakan pada Agustus hingga Oktober mendatang.  “Bagaimana dampak serta akibat yang akan terjadi jika kita tidak siap menghadapi (El Nino). Jangan hanya ditakuti, kita harus mempersiapkan apa yang harus antisipasi dengan datangnya El Nino ini,” katanya.

Sementara itu Direktur Irigasi Pertanian, Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian, Rahmanto mengatakan, pemerintah telah memperkirakan tingkat kerentanan dan luas resiko kekeringan di Indonesia. Diperkirakan ada 15 provinsi yang terdampak sedang akibat El Nino dengan luas lahan 258.123 ha pada Agustus dan 96.128 ha pada September 2023.

Ada beberapa upaya antisipasi El Nino. Diantaranya, penyelamatan standing crop yang diperkirakan luasnya mencapai 2 juta ha.  Dari luasan itu, terdapat lebih dari 730.000 ha sawah yang telah ditanami masih pada fase perkembangan Vegetatif 1 dan 2 yang masih sangat membutuhkan air Irigasi.

Pertanaman ini berada sebagian besar di Jawa, Sulawesi dan Sumatera yang sangat beresiko mengalami kekeringan hingga gagal panen. Karena itu, perlu dilakukan langkah strategis dalam mengamankan standing crop untuk menjaga tetap dapat dilakukan panen hingga musim tanam berakhir.

Kementerian Pertanian juga menginisiasi Gerakan Nasional (Gernas) El Nino untuk mengantisipasi kekeringan. Gerakan ini menyasar sebanyak 500 ribu ha lahan sawah pertanian. Untuk petani yang terkena kekeringan, pemerintah memberikan berbagai bantuan berupa benih, pengairan dan pendampingan. 

Bagi sahabat Sinar Tani yang ingin mendapatkan mater webinar dan e sertifikat bisa diunduh di link  di bawah ini>

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018