Sabtu, 25 Mei 2024


UPLAND Project Bawa Perubahan Petani Bawang di Pulau Garam

26 Sep 2023, 13:38 WIBEditor : Yulianto

Petani bawang di Sumenep, Madura | Sumber Foto:Dok. UPLAND

TABLOIDSINARTANI.COM, Sumenep===Senyum bahagia seorang petani bernama Sirajuddin tak bisa disembunyikan saat bercerita hasil panen tahun ini yang mencapai tujuh kali lipat. Petani bawang merah di Desa Karangnangka, Kecamatan Rubaru, Sumenep Madura, Jawa Timur menyampaikan terimakasih pada UPLAND Project yang telah memberikan bibit unggul.

Cerita bahagia itu dibagikan Sirajuddin setelah menimbang hasil panen bawang merahnya pada triwulan ketiga tahun 2023. Tidak tanggung-tanggung, satu kuintal bibit bawang merah yang ditanam bisa menghasilkan panen tujuh kuintal lebih banyak dengan merah varietas rubaru.  “Alhamdulillah bisa dapat 7 kali lipat dari bibit yang diberikan di lahan seluas 0,1 Ha,” kata Sirajuddin.

Menurutnya, hasil panan melimpah itu tak bisa dilepaskan dari peran UPLAND Project dan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Sumenep. Dari DKPP, Sirajuddin nendapatkan bantuan bibit. Sementara UPLAND Project memberikan berbagai fasilitas pendukung dan pelatihan pertnaian hingga hasil panennya meningkat dibandingkan sebelum. 

Berbagai fasilitas infrastruktur penunjang disediakan UPLAND Project. Salah satunya kebutuhan air yang ada di Desa Karangnangka. Meski saat ini sudah masuk musim kemarau, petani tidak kesulitan dalam memperoleh kebutuhan air untuk mengairi hamparan tanaman bawang merah varietas rubaru yang ada di desa tersebut.

“Di Madura inikan lahannya relatif kering, jadi keberadaan air sangat penting. Alhamdulillah untuk air sekarang lebih mudah,” tambah pria yang akrab disapa Siraj.  Tidak hanya fasilitas fisik, Siraj juga sangat terbantu oleh berbagai kegiatan edukasi pertanian yang dilaksanakan fasilitator desa maupun penyuluh pertanian lapang (PPL).

Tidak jarang di desa yang ada di Kecamatan Rubaru, Kabupaten Sumenep Madura ini diadakan sekolah lapang. Para petani juga terus didampingi dan dipantau tanamannya selama musim tanam. “Kalau terjadi gangguan pada tanaman, bisa langsung dideteksi dan dilakukan upaya pencegahan,” ujarnya.

Siraj bersyukur atas komitmen pemerintah pusat maupaun daerah dalam meningkatkan kesejahteraan petani. Dia meyakini jika petani mendapatkan perhatian khusus tidak mustahil terjadi swasembada pangan di Indonesia. "Ini benar-benar sangat membantu kami. Mendapatkan dua manfaat dalam satu waktu sekaligus,” katanya.

Kabupaten Sumenep memang menjadi lokasi pengembangan bawang merah yang mendapat bantuan program Upland. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Sumenep, Arif Firmanto mengatakan, pengembangan bawang merah UPLAND Project dimulai sejak tahun 2021 yang difokuskan di Desa Basoka, Kecamatan Rubaru, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Perluasan Lokasi

Dalam perkembangannya, Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Sumenep memperluas ke Kecamatan Pasongsongan yang berlokasi di empat desa.   “Memang projek UPLAND kita perluas sampai Kecamatan Pasongsongan, meskipun di Kecamatan Pasongsongan tidak semua desa, hanya empat desa. Pertama yang kita pilih, karena masih awal perluasan, semoga tahun 2023 lebih maksimal lagi,” ujar Arif.

Arif mengatakan, meski masih banyak catatan untuk perbaikan program tersebut, tapi secara keseluruhan terbilang sukses. Target dari program Upland, petani bukan hanya sukses menanam bawang merah, tapi tugas lain dari DKPP bersama tim adalah mengubah pola pikir masyarakat supaya mau bertani untuk mendukung ketahanan pangan daerah.

“Sekarang sudah mulai terlihat, masyarakat yang awalnya tidak mau bertani, sekarang sudah banyak yang mau bertani, termasuk anak-anak muda. Ini yang perlu kita banggakan bersama,” katanya.

Kecamatan Rubaru saat ini menjadi pusat produksi bawang merah di Kabupaten Sumenep, dengan luas areal tanam mencapai 1.300 hektar, dan produktivitas sebesar 8 ton per hektar. Petani setempat bisa menanam bawang merah sebanyak 3 kali dalam setahun, yaitu pada Februari-Maret, Mei-Juni, dan Oktober-November.

Keberadaan bawang merah Rubaru saat ini kian diminati konsumen. Hal ini karena aromanya memiliki ciri khas tersendiri yang sangat cocok untuk bawang goreng. Kordinator Jabatan Fugnsional-KJF Penyuluh  Pertanian Dinas Ketahanan Pangan dan pertanian Sumenep Dewa Ringgih mengakungkapkan, bawang Rubaru lebih mahal dibandingkan bawang merah lainnya.

Bahkan ada beberapa sentra bawang yang menanam varietas Rubaru. Alasannya, aromanya lebih harum. Bahkan sudah meluas hingga Jawa Tengah, termasuk di Jawa Timur sendiri. Dalam perkembangannya, petani yang membudidayakan bawang merah di Sumenep terus meluas, tidak hanya di Kecamatan Rubaru, namun juga kekecamatan lain seperti, Kecamatan Ganding, Guluk-guluk,  Lenteng, dan Bluto. 

Perlu diketahui varietas bawang merah Rubaru yang ditanam petani merupakan varietas lokal yang berasal dari seleksi kultivar lokal Sumenep Madura dan terbukti tahan disegala cuaca. Varietas ini juga tahan terhadap penyakit Fusarium dan Alternaria, serta serangan hama ulat grapyak (Spodoptera Exigua).

“Saat varietas lain gagal panen akibat cuaca buruk, Rubaru bahkan memiliki anakan lebih banyak dua kali lipat dibanding bawang merah varietas lain,” ujar Sa'dawi, Kepala UPT Pertanian Kecamatan Rubaru.

Selain itu, Rubaru dapat beradaptasi dengan baik di dataran rendah sampai medium baik pada musim hujan maupun musim kemarau, dengan potensi hasil umbi kering sekitar 14-17 ton/ha. Melihat potensi yang besar tersebut, diperlukan juga penataan manajemen perbenihan oleh pemerintah, petani dan penangkar untuk memenuhi kebutuhan tanam,  sehingga faktor keterbatasan benih tidak menjadi penghambat.  

Reporter : Julian
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018