Jumat, 14 Juni 2024


Desa Bansari Maju dengan Penerapan Smart Farming oleh Petani

23 Jan 2024, 11:09 WIBEditor : Gesha

Pj. Bupati Temanggung, Hary Agung Prabowo ketika panen di Greenhouse Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Rahayu Makmu | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Temanggung -- Desa Bansari telah melangkah maju ke era pertanian yang cerdas dengan penuh inovasi. Petani di desa ini tidak hanya menjadi pengguna biasa, namun telah mengadopsi dan merajut keberhasilan dengan penerapan Smart Farming.

Terletak di lereng Gunung Sindoro, di Kecamatan Bansari, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Desa Bansari memiliki kesan sebagai lokasi terpencil karena jaraknya yang jauh dari kota besar.

Dengan ketinggian 1.000-1.500 mdpl, desa ini memiliki daya tarik sendiri dengan keindahan yang terpancar. Di sepanjang pandangan mata, terbentang hamparan lahan pertanian masyarakat, menciptakan suasana asri yang begitu memikat.

Masyarakat desa menjadikan potensi-potensi ini sebagai landasan untuk mengembangkan desa menjadi kawasan yang modern dan maju.

Herlan, Kepala Desa Bansari, menyoroti beragam potensi unggul yang dimiliki desanya. Terutama, dalam sektor pertanian yang telah mengadopsi konsep smart farming, khususnya pada budidaya melon dengan sistem hidroponik berkelas premium.

Keistimewaan ini tidak hanya terbatas di Jawa Tengah, tetapi juga telah merambah pasar-pasar di Jakarta dan Bandung, Jawa Barat.

Smart farming ini menerapkan Internet of Things (IoT). Jadi, untuk mengukur tingkat keasaman, kelembapan udara, angin, dan faktor lainnya, informasinya dapat diakses langsung melalui perangkat tersebut dan dapat dikendalikan melalui smartphone.

"Konsep smart farming ini telah menjalin kerjasama dengan berbagai kementerian dan akademisi yang senantiasa memberikan pendampingan dan fasilitasi untuk seluruh kegiatan yang dilakukan," sebut Herlan.

Desa Bansari tidak hanya terkenal dengan melon, tapi juga memiliki perkebunan tembakau dan kopi sebagai hasil alamnya.

Potensi ekonominya semakin berkembang melalui UMKM yang bergerak dalam pengolahan produk kerajinan kulit, kayu, serta sablon konveksi.

Wisata juga menjadi daya tarik dengan Embung Bansari dan Festival Lembutan Tembakau yang digelar setiap tahun.

Dikelola BUMDES 

Semua potensi di Desa Bansari dikelola secara terorganisir oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tirta Sembada.

Meskipun baru berdiri 3 tahun, produktivitasnya telah membuktikan kesuksesannya. Unit usaha yang ada berhasil menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat.

Hendi Nur Seto, Ketua Unit Usaha Pertanian Modern BUMDes Tirta Sembada, menjelaskan bahwa ada empat unit usaha utama yang berjalan hingga saat ini.

Embung Bansari, sebagai destinasi wisata, menjadi bagian dari program 1.000 embung dan diresmikan langsung oleh Presiden Joko Widodo.

Terletak di ketinggian 1.400 mdpl, Embung Bansari menawarkan pemandangan fantastis dengan 9 gunung yang menjulang di Jawa Tengah.

Embung Bansari saat ini difungsikan sebagai destinasi wisata yang cocok untuk camping, gathering, trekking, dan berbagai kegiatan lainnya. Lokasinya berbatasan langsung dengan wilayah hutan milik Perhutani, sehingga pengunjung dapat menjalani kegiatan trekking sekaligus, karena sudah tersedia pos pendakian di atasnya," jelasnya.

Unit usaha kedua adalah pertanian melon dengan sistem hidroponik dalam greenhouse berkelas premium.

Selanjutnya, terdapat SPAMDES (Sistem Pengelola Air Baku untuk Air Minum Perdesaan) yang mengalirkan air ke rumah-rumah warga sekaligus mendukung kegiatan usaha.

Unit usaha terakhir adalah Warung Sembako, menyediakan kebutuhan sembako warga dan dilengkapi dengan AgenBRILink yang menggunakan mesin EDC dari Bank BRI.

Hendi menegaskan bahwa semua unit usaha BUMDes memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat, termasuk penyerapan tenaga kerja yang turut mendukung perputaran roda ekonomi di desa tersebut.

“Bumdes memang masih 3 tahun berjalan, tapi kami semangat mengadopsi berbagai hal baru,” jelas Hendi 

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018