Senin, 17 Juni 2024


Pemasalahan Industri Benih Makin Kompleks, Asbenindo Gelar Konsolidasi

01 Peb 2024, 10:25 WIBEditor : Herman

Konsolidasi Asbenindo Untuk Pemecahan Masalah Perbenihan Tanah Air | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Industri perbenihan dan perbibitan tanah air ternyata tidak baik-baik saja. Berbagai kendala dan hambatan yang dihadapi pelaku usaha perbenihan tanah air terungkap dalam rapat konsolidasi yang digelar Asosiasi Perbenihan Indonesia (Asbenindo) di hotel Aston, Jakarta, Selasa (30/1).

Ketua Umum Asbenindo, Ricky Gunawan mengatakan rapat kosolidasi dilakukan untuk mengetahui apa saja permasalahan yang dihadapi para anggota dalam menjalankan usaha perbenihan dilapangan.

“Kita dengar dari para amggota, kalau ada permasalahan yang dirasakan kita tampung untuk nanti kita ambil action seperti bersurat atau bertemu dengan pajabat terkait agar dapat terselesaikan,” tegas Ricky.

Lebih lanjut Ricky menjelaskan, berbagai permasalahan maupun masukan dari para anggota Asbenindo akan disampaikan oleh perwakilan setiap kompartemen yang ada yaitu pangan, horti maupun Perkebunan.

Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Dewan Penasehat Asbenindo, Herman Khoeron telah memprediksi dibawah kepemimpinan Menteri Pertanian Amran Sulaiman kebutuhan benih akan cepat naik terutama untuk padi, jagung dan kedelai.

“Dalam Asta Cita, bahwa kedepan aka nada perluasan lahan tanaman pangan 4 juta ha. Kalau hari ini Menteri Amran menargetkan perluasan lahan jagung 2 juta ha itu merujuk kepada road map asta cita,” ujarnya.

Lebih lanjut menurut Herman, bericara ketersediaan benih saat ini dan kedepan bukan hanya untuk memenuhi target-target roadmap yang dibangun Kementerian Pertanian tetapi harus dipersiapkan untuk pergatian kepemimpinan nasional sehingga lebih terencana 5 tahun kedepan.

“Konsep Asbenindo dalam pemenuhan benih kedepan juga harus dipersiapkan, sehingga akan masuk dalam rumusan bagaiaman bisa memenuhi UU no 18 tahun 2012 tentang pangan, memenuhi kedaulatan, kemandirian, ketahanan dan keamanan pangan” tegas Ketua Umum Masyarakat Perbenihan Perbibitan Indonesia (MPPI) ini.

Heman juga mengatakan bahwa diusulkan kembali oleh Asbenindo bahwa perbenihan dijadikan sebagai cluster tersendiri dalam industrial.

“Menurut saya kebijakan korporasi juga harus ditangkap, karena jumlah petani yang terus menurun dan adanya kecederungan kedepan petani bukan lagi individu tetapi perusahaan,” ujarnya.

Sementara itu mewakili kompartemen benih tanaman pangan Asbenindo, Slamet Sulistiyono memaparkan berbagai masukan dan juga permasalahan yang dihadapi para anggota Asbenindo yang memproduksi benih tanaman pangan.

Yang pertama kurangnya sinergitas konsistensi arah kebijakan perbenihan Indonesia. dimana antara stakeholder dengan pemerintah belum ada sinergitas dan konsistensi arah kebijakan.

“Seharusnya pemerintah melibatkan pelaku perbenihan dalam perencanaan jangka panjang. Contoh di jagung yang cukup meresahkan dari 300 ha langsung ke 2 juta ha ini berarti belum ada perncenaan jangka Panjang” ungkapnya.

Pemilik PT. Benih Citra Asia ini juga mengatakan bahwa padi hibrida belum mejadi program prioritas. Padahal teknologi padi hibrida akan meningkatkan produktifitas sehingga dapat memenuhi ketahanan pangan nasional.

“Masalah lain adalah perencanaan kebutuhan benih yang mendadak dari pemerintah. sehingga rendemennya rendah, HPP meningkat, resiko gagal panen sangat tinggi yang ditanggung produsen. Produsen saat ini dipaksa memenuhi permintaan sedangkan antisipasi dampak cuaca ekstrim dan OPT rendah” tambahnya.

Slamet juga mengatakan ada peraturan perundngan yang perlu di tinjau ulang untuk mendukung iklim usaha perbenihan di Indonesiua. Salah satunya aturan karantina antar pulau untuk peredaran benih.

“Kami mohon ini untuk tidak diberlakukan dan perlu adanya kajian akademik secara ilmiah dan keilmuan demi penyebaran benih nasional secara merata untuk petani Indonesia,” jelasnya.

Masalah lain yang diungkapkan Slamet antara mahalnya biaya pelepasan, pemanfaatan Cuma-cuma lahan pemerintah yang tidak terpakai untuk digunakan pereset swasta, terbatasnya SDM dan biaya yang mahal, hingga harga beli benih yang tidak memberikan motivasi kepada produsen benih.

Pada kesempatan yang sama mewakili kompartemen hortikultura Asbenindo, Abdul Hamid Fauzie menjelaskan ada 4 point dalam membawa ke level masa depan yang lebih baik untuk seed supply. Yang pertama memperkuat kebijakan bahwa seed supplay penting, menjelaskan bahwa seed supply merupakan salah satu cara mencapai tujuan Pembangunan pertanian.

Mengembangkan mekanisme pengujian situasi perbenihan saat ini untuk kebutuhan masa depan dan juga merancang dari semua keinginan membangun perbenihan untuk mendukung Pembangunan pertanian dan ketahanan pangan.

Lebih lanjut Hamid juga membeberkan berbagai masalah yang sedang dialami industry benih diantaranya proses importasi Sumber Daya Genetik mendapatkan perlakuan yang sama dengan komersial sehingga untuk pengembangan pemuliaan menambah keragaman menjadi sulit, kerjasama berubah dengan adanya perubahan kelembagaan BRIN untuk Kerjasama pemuliaan.

Dari sisi produksi, permasalahan yang dihadapi antara lain terbatasnya lahan produksi yang masih terpusat di pulau Jawa, hingga keterbatasan pengetahuan petani mengenai teknik produksi benih.

“Dari sisi importasi antara lain belum tersosialisasi import benih untuk di tanam dan produknya untuk eksport, sulit dan lamanya proses, sulitnya mendapatkan phytosanitary certificate karena harus menerima izin import dari negara penrima, hingga adanya issue mengenai dibatasinya izin pemasukan benih” ungkapnya.

Hal yang sama juga diungkapkan Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) ini mengenai karantina yaitu issue perdagangan benih antar pulau terkait waktu, biaya dan persyaratan lainnya.

Reporter : Eko
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018