
mendukung ketahanan pangan nasional, terutama di wilayah yang menjadi tanggung jawabnya, Serda Munirul Ikhwan, Babinsa Koramil 0808/16 Talun, aktif dalam mendampingi program pompanisasi.
TABLOIDSINARTANI.COM, JAKARTA -- Hingga pertengahan tahun 2024, Indonesia masih dibayang-bayangi oleh krisis pangan global. Karenanya, dengan pengerahan seluruh Sumber Daya Manusia Pertanian seperti petani, Penyuluh bahkan Babinsa, Kementerian Pertanian menggulirkan tiga jurus mengantisipasi krisis pangan.
Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyatakan bahwa dunia, termasuk Indonesia, saat ini tengah menghadapi ancaman krisis pangan. Krisis ini dipicu oleh perubahan iklim dan berpotensi menyebabkan kelaparan di berbagai negara.
"Di sisi lain 20 negara menghentikan ekspor (pangan). Ini terberat sepengetahuan kami mengenal pertanian, inilah situasi terberat tahun ini," kata Menteri Amran.
Tetapi, menurutnya Indonesia masih mempunyai banyak lahan potensial yang bisa ditingkatkan produksinya dengan beragam intervensi program dari Kementan dan dukungan seluruh SDM Pertanian di Tanah Air.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi membenarkan hal tersebut. Menurutnya, krisis pangan harus diatasi secepatnya sebab Krisis pangan bisa menyebabkan krisis multidimensi yang dimulai dari krisis moneter, krisis ekonomi dan krisis sosial.
"Solusi krisis pangan ini harus produksi pamhan sendiri. Dengan petani kita sendiri di lahan sawah kita sendiri. Alias kita harus swasembada. Minimal harus hasilkan 2,6 juta ton beras alias 5,2 juta ton GKP atau setara dengan 1 juta hektare luas panen atau 1,1 juta hektar luas tanam, " bebernya dalam Konferensi Pers "Pelatihan Sejuta Petani dan Penyuluh : Antisipasi Darurat Pangan Nasional", Kamis (30/05).
Bagaimana caranya? Dedi menjelaskan Kementan memiliki 3 jurus untuk menjadi solusi dalam mengantisipasi krisis pangan global ini.
"Caranya kita bisa tingkatkan produktivitas menjadi 2,2 ton GKG, tetapi cacra ini agak lama. Padahal kita butuhnya sekarang! Makanya kita tingkatkan luas tanam dan indeks pertanaman di lahan sawah kita salah satunya lahan rawa kita," ungkap Dedi.
Dedi menguraikan lahan rawa di Indonesia bisa ditanami padi, namun sayangnya hanya satu kali setahun atau tidak sama sekali.
Padahal, potensi lahan rawa yang bisa ditanami di Indonesia mencapai 9,52 juta hektar dan 90 persennya berada di dataran rendah. "Maka kita lakukan optimalisasi lahan rawa. Caranya? saluran airnya diperbaiki, guludann diperbaiki, pintu air, tata Air diperbaiki, " ungkapnya.
Kementan sendiri telah sukses mengolah lahan rawa 750 hektare lahan rawa di Desa Jejangkit Muara, Kecamatan Jejangkit, Barito Kuala, Kalimantan Selatan pada tahun 2018.
Untuk tahun 2024 ini ditargetkan 1 juta hektar lahan rawa di 11 provinsi dioptimalisasi dengan intervensi teknologi. "Ada di Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan hingga Papua, " tambahnya.
Dedi mengatakan, jika bisa lahan rawa lebak bisa dioptimasi maka musim kemarau bisa ditanam dan saat musim hujan airnya bisa dialirkan agar surut sehingga bisa ditanam. Demikian pula dengan rawa pasang surut.
Potensi kedua adalah lahan tadah hujan seluas 3 juta hektar dengan indeks pertanaman (IP) 100, yang berarti hanya bisa ditanami sekali setahun. Lahan ini seringkali kering saat musim kemarau, padahal air sungai dan air permukaan bisa disedot dan dialirkan ke lahan pertanian melalui pompanisasi.
"Di Jawa saja, terdapat sekitar 1 juta hektar lahan kering, dan di luar Jawa terdapat 1 juta hektar lagi. Tetapi, untuk peningkatan produksi ini, kita targetkan di Pulau Jawa 500 ribu hektar, begitupula di luar Jawa 500 ribu hektare, total 1 juta hektar lahan tadah hujan yang bisa dioptimasi, " sebutnya.
Untuk lahan tadah hujan, bentuk optimasi lahannya dilakukan dengan cara Pompanisasi. "Sehingga, Sawah dekat air permukaan wajib disedot untuk dialirkan ke lahan sawah untuk bisa 2 kali tanam setahun," cetusnya.
Cara ketiga adalah dengan melakukan intercropping (tumpang sisip) padi gogo di lahan perkebunan yang belum menghasilkan. Di Indonesia totalnya ada 35 juta hektar lahan perkebunan.
Pada tahun 2024, program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) berpotensi digunakan sebagai lahan intercropping. Ditjen Perkebunan telah menerbitkan rekomendasi PSR untuk 6 ribu hektar lahan di Kalimantan Selatan, yang bisa digunakan untuk intercropping padi gogo.
"Masih ada peluang untuk meningkatkan potensi produksi dan produktivitas pertanian kita," kata Dedi.
Dedi berhitung jika ada penambahan luasan 2 juta hektar dari lahan-lahan potensial tersebut, maka ada 8 juta ton GKG atau setara dengan 4 juta ton beras yang dihasilkan dari lahan-lahan tersebut. "Kalau ini bisa bertahan minimal 3 tahun saja, sudah bisa surplus dan swasembada beras kembali, " tegasnya.
Karena itu, dengan dukungan SDM Pertanian mulai dari petani, Penyuluh bahkan babinsa untuk bergandengan tangan bersama menggenjot luas tambah tanam dan mengawalnya hingga produksi dan hasil, Dedi optimistis Indonesia bisa menghasilkan bahkan swasembada pangan sekali lagi.
"Mari kita sama-sama melakukannya, agar di tahun 2024 ada luas tambah tanam 2 juta hektar dengan menghasilkan 4 juta ton beras," pesannya.



