Friday, 06 March 2026


Optimalkan Lahan Kering, DIY Dorong Inovasi Teknologi Pertanian Berkelanjutan

09 Jul 2025, 11:03 WIBEditor : Herman

WEBINAR OPTIMALISASI BENIH BERKUALITAS DAN DUKUNGAN SAPRAS DI LAHAN KERING

TABLOIDSINARTANI.COM, JAKARTA --- Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terus mendorong pemanfaatan lahan kering sebagai bagian dari strategi ketahanan pangan daerah. Melalui pendekatan teknologi, pengembangan benih unggul, dan pelatihan petani, lahan yang selama ini kurang produktif kini diarahkan menjadi sumber pertanian potensial.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, Syam Arjayanti, menjelaskan bahwa memang tidak mudah memaksimalkan lahan kering karena berbagai tantangan yang menyertainya. Mulai dari keterbatasan air, tanah yang kurang subur, hingga suhu yang lebih tinggi, terutama saat musim kemarau.

“Tantangan utama kami di lapangan adalah keterbatasan air. Tanpa air, lahan kering hampir tidak bisa dimanfaatkan. Ditambah lagi kondisi tanahnya cenderung liat dan sulit diolah,” ujar Syam saat ditemui di kantornya belum lama ini.

Curah hujan yang rendah dan indeks kekeringan yang tinggi membuat air menjadi sumber daya yang sangat terbatas di lahan kering. Tidak semua varietas tanaman bisa tumbuh di kondisi semacam ini, apalagi dengan suhu lingkungan yang semakin ekstrem akibat perubahan iklim.

Namun, menurut Syam, justru di balik tantangan besar itu, ada peluang besar pula yang bisa digarap. “Lahan kering bukan berarti tidak bisa dimanfaatkan. Kalau dikelola dengan pendekatan yang tepat dan teknologi yang sesuai, hasilnya luar biasa,” tegasnya optimis.

Salah satu contoh yang sudah dilakukan adalah pengembangan lahan kering di UPT Gading. Di sana, sejumlah hektare lahan yang tadinya hanya bisa ditanami saat musim hujan mulai dikaji agar bisa tetap produktif meski di musim kemarau.

“Kami bekerja sama dengan perguruan tinggi untuk meneliti potensi tanam saat kemarau. Hasil penelitian itu kami tindak lanjuti dan sekarang sudah mulai terlihat hasilnya. Ini jadi contoh nyata bahwa lahan kering punya masa depan,” jelasnya.

Untuk mengatasi keterbatasan air, berbagai teknologi konservasi air mulai diperkenalkan. Penerapan irigasi tetes, pembangunan embung, serta pemanfaatan air hujan menjadi bagian penting dari strategi adaptasi.

“Kami juga mulai menjajaki penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk mendukung sistem irigasi dan pertanian presisi. Kalau air sulit didapat, maka efisiensinya harus ditingkatkan dengan teknologi,” lanjut Syam.

Pemerintah DIY juga terus mendorong penggunaan benih unggul yang tahan terhadap kekeringan. Menurut Syam, benih menjadi kunci utama keberhasilan pertanian di lahan kering. Maka dari itu, dibangun sistem perbenihan yang memperhatikan “6 Tepat”: tepat varietas, tepat mutu, tepat jumlah, tepat waktu, tepat tempat, dan tepat harga.

“Kami ingin memastikan petani tidak hanya mendapat benih yang bagus, tapi juga tepat waktu dan tempat. Sistem ini kami bangun agar petani tidak lagi kesulitan di musim tanam,” ungkapnya.

Produksi benih palawija seperti jagung, kedelai, kacang tanah, dan kacang hijau kini tidak hanya dilakukan oleh pemerintah, tapi juga melibatkan sektor swasta. Bahkan, Dinas mendorong kolaborasi produsen benih dengan petani lokal agar sistem distribusi berjalan lebih baik.

Di sisi lain, pemberdayaan petani juga menjadi fokus utama. Petani diberikan pelatihan agar mampu menanam, mengelola hasil pertanian, hingga memasarkan produknya secara mandiri. Menurut Syam, hasil pertanian yang hanya dijual dalam bentuk mentah membuat nilai tambah dinikmati oleh pihak lain.

“Kita ingin petani DIY bisa mengolah hasilnya jadi produk pangan yang menarik. Bukan cuma jual cabai atau jagung mentah, tapi bisa jadi keripik, sambal kemasan, dan lainnya. Ini peluang bisnis sekaligus menambah pendapatan petani,” paparnya.

Potensi komoditas yang bisa dikembangkan di lahan kering cukup besar. Selain jagung dan kedelai, komoditas seperti ubi kayu, cabai, bawang merah, hingga kacang tanah memiliki prospek yang baik. Apalagi jika diiringi dengan strategi pemasaran yang menjangkau antar daerah, bahkan nasional.

“Kami juga bantu petani membangun jaringan pemasaran yang kuat. Banyak yang hanya jual ke pasar lokal, padahal produk mereka bisa bersaing di pasar luar daerah. Dengan pemasaran yang efektif, potensi pertanian DIY bisa makin besar,” ucap Syam.

Upaya pengembangan lahan kering ini tentu tidak bisa dilakukan sendiri. Pemerintah DIY terus menjalin sinergi dengan berbagai pihak, mulai dari perguruan tinggi, lembaga riset, kementerian teknis, hingga komunitas petani dan swasta.

“Kolaborasi adalah kunci. Kami ingin semua pihak bergerak bersama agar lahan kering bisa menjadi penopang pertanian DIY, bukan justru jadi beban. Ini tentang menciptakan masa depan yang lebih hijau, berkelanjutan, dan mandiri,” pungkas Syam Arjayanti.

Dengan visi kuat dan langkah konkret, lahan kering yang dulu dianggap “tidak menjanjikan” kini mulai dilirik sebagai masa depan pertanian DIY. Saat lahan subur semakin sempit dan perubahan iklim semakin nyata, inisiatif-inisiatif seperti ini menjadi kunci menjaga kedaulatan pangan daerah.

Esertifikat : Klik Disini

Materi : Klik Disini

Esertifikat Berdasarkan Nomor : Klik Disini

Reporter : Rafi
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018