
Webinar Optimalisasi Benih Berkualitas dan Dukungan Sapras di Lahan Kering, Rabu (9/7).
TABLLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Pemerintahan Prabowo Subianto telah mengibarkan bendera percepatan swasembada pangan. Salah satu strateginya adalah optimalisasi lahan, termasuk lahan kering. Dengan program tersebut, lahan yang semula hanya tanam satu kali (IP 100) bisa naik menjadi dua kali dalam setahun (IP 200). Sedangkan yang sudah IP 200 bia naik lagi menjadi IP 300.
Optimalisasi lahan kering memang tak mudah, banyak tantangannya. Namun peluangnya tetap ada. Untuk itu, perlu dukungan ketersediaan benih unggul dan sarana parasarana lainnya, termasuk alat mesin pertanian. Dalam menjalankan program tersebut, pemerintah tidak bisa jalan sendiri, peran pihak swasta dan pemerintah daerah akan memudahkan pencapaian target peningkatan produksi.
Sejauh mana peran pemerintah pusat, pemerintah daerah dan pelaku usaha? Tabloid Sinar Tani menggelar webinar Optimalisasi Benih Berkualitas dan Dukungan Sapras di Lahan Kering, Rabu (9/7).
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DI Yogyakarta, Syam Arjayanti mengatakan, potensi pertanian di lahan kering saat ini cukup besar, terutama pada komoditas seperti padi dan palawija.
Namun, pertanian di lahan kering menghadapi tantangan seperti ketergantungan pada air hujan dan perubahan iklim. Pertama, air. Lahan kering memiliki curah hujan yang rendah dan indeks kekeringan yang tinggi, sehingga air menjadi sumber daya yang sangat terbatas.
Kedua, tanah kurang subur. Dengan karakteristik cenderung tinggi lempung, kembang susut tinggi, dan sulit diolah. Ketiga, suhu tinggi. Suhu di lahan kering cenderung lebih tinggi terlebih pada saat musim kemarau. Keempat, variasi tanaman terbatas. Sebab, tidak semua jenis tanaman bisa ditanam di lahan kering.
Meski banyak tantangannya, Syam mengatakan, lahan kering juga mempunyai peluang menjadi lahan produktif. ”Dengan meminimalkan tantangan dan mengadopsi teknologi inovatif, pertanian di lahan kering dapat memberikan peluang yang mendukung upaya pertanian berkelanjutan,” tuturnya.
Untuk menangkap peluang di lahan kering, Syam mengatakan, perlu langkah pengembangan varietas tanaman resisten terhadap kondisi lahan kering. Kemudian, perlu adanya teknologi konservasi air, seperti pemanenan air hujan dan irigasi tetes dapat meningkatkan efisiensi penggunaan air dan mengurangi kehilangan air.
“Karena teknolgi baru, perlu ada upaya pemberdayaakn petani agar bisa membudidayakan di lahan kering. Mungkin ini beda dengan lahan sawah. Selain itu, tiap wilayah juga akan berbeda-beda kondisi tanahnya. Jadi, perlu ada kerjasama dan penelitian lebih lanjut dari perguruan tinggi,” tuturnya.
Teknologi Lahan Kering
Bagaimana mengoptimalkan lahan kering? Syam memberikan saran, penerapan teknologi pertanian modern dan pengembangan agribisnis untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah produk pertanian. Pertama, pilih benih unggul yang berkualitas dan tahan kekeringan.
Kedua, lanjut Syam, optimalkan adopsi teknologi pertanian dengan energi terbarukan seperti mekanisasi pertanian dan sistem pertanian presisi teknologi. Ketiga, pemberdayaan petani agar mampu mengolah hasil pertanian dan mengembangkan pemasaran yang efektif. Keempat, membangun sistem perbenihan yang sesuai dengan karakteristik pertanian lahan kering.
Sementara itu, Amanda Pradhita Pranggapati, MD Corn Specialist Croplife Indonesia mengakui, cukup banyak tantangan di dunia pertanian. Diantaranya, konversi lahan, produktivitas tanaman menurun, serangan hama, kekeringan dan keterbatasan lahan produktif. “Salah satu untuk mencapai adalah dengan mengadopsi teknologi. Salah satunya bioteknologi untuk meningkatkan produktivitas tanaman,” katanya.
Dengan bioteknologi, ungkap Pradhita, produktivitas yang sebelumnya, misalnya hanya 0,5 ton/ha akan naik menjadi 1 ton/ha. Bahkan produktivitas jagung dengan teknologi baru melalui proses bioteknologi, pestisida dan pemupukan, kini bisa mencapai 10-11 ton/ha.
Pradhiita mengungkapkan kelebihan bioteknologi . Misalnya, membantu petani menanam lebih banyak dan produktiivtasnya lebih tinggi pada lahan yang kecil dan input lebih sedikit. Dengan rekayasa genetik, pemulia dapat mengambil sifat tanaman yang diinginkan dari alam. Bahkan ke depan dapat memindahkan sifat dari satu tanaman atau organisme ke tanaman yang ingin dikembangkan.
“Pemulia tanaman juga dapat mengubah sifat bawaan dari tanaman yang sedang dikembangkan,” katanya. Pemindahan sifat tanaman tersebut membantu petani mengendalikan hama dengan lebih baik, seperti ketahanan terhadap penyakit dan serangga, ataupun toleransi terhadap herbisida.
Pradhita menegaskan, produk rekayasa genetik yang kini dikembangkan cukup aman. Apalagi untuk sampai tingkat komersialisasi perlu waktu lama hingga 13 tahun. Bahkan biayanya juga sangat besar hampir Rp 579 miliar. “Produk rekayasa genetik juga diawasi lembagan panga dunia, seperti USDA dan FAO. Di Indonesia juga diawasi Kementerian Lingkungan Hidup dan BPPOM,” ujarnya.
Sementara itu, Ardiyanto Indrakusuma dari PT Suryaqua Teknologi Indonesia juga mengungkapkan, tantangan budidaya pertanian di lahan kering adalah pasokan air. Indonesia menghadapi masalah kekeringan yang signifikan, terutama di daerah pertanian kering, yang mempengaruhi lebih dari 4,39 juta orang pada tahun 2023.
Kendala lain terutama pada daerah terpencil adalah kekurangan akses listrik, biaya solar tinggi, dan ada dampak lingkungan yang signifikan. Untuk itu, ia menilai, ketersediaan infrastruktur air sangat penting untuk mendukung benih berdaya hasil tinggi dan meningkatkan produktivitas.
Karenan itu, pihaknya menawarkan pompa air tenaga surya sebagai solusi yang ramah lingkungan. “Dengan pompa tersebut, kita bisa memanfaatkan energi surya yang gratis dan tak terbatas, menyediakan sumber daya listrik yang berkelanjutan untuk pompa air,” katanya.
Dosen dan Kepala Laboratorium Bioteknologi Polbangtan Yogyakarta-Magelang, Mastur menegaskan, lahan kering bukanlah masalah, tapi peluang. Untuk itu, perlu memadukan inovasi kebijakan, kelembagaan dan teknologi. ”Ada tiga inovasi yang harus kita lakukan yakni teknologi, kelembagaan dan kebijakan,” katanya.
Bagi Sahabat Sinar Tani yang ingin mendapatkan materi dan e-sertifikat dapat diunduh di link bawah ini.
Esertifikat : Klik Disini
Materi : Klik Disini
Esertifikat Berdasarkan Nomor : Klik Disini
" width="560" height="314" allowfullscreen="allowfullscreen">