Sunday, 06 September 2026


Syngenta Perkenalkan Jagung Bioteknologi Pertama di Indonesia di Ajang Jogja Benih Expo 2025

11 Aug 2025, 22:05 WIBEditor : Herman

varietas unggulan hasil bioteknologi dari Syngenta Indonesia

TABLOIDSINARTANI.COM, Gunungkidul — Ajang Jogja Benih Expo 2025 menjadi panggung bagi berbagai perusahaan benih nasional untuk menampilkan inovasi unggulannya.

Tak hanya memamerkan varietas benih berproduktivitas tinggi, sejumlah perusahaan juga memperkenalkan keunggulan lain seperti ketahanan terhadap hama dan penyakit, hingga varietas yang cocok untuk kondisi lahan tertentu.

Salah satu yang mencuri perhatian datang dari Syngenta, perusahaan benih global yang memperkenalkan produk jagung bioteknologi pertama di Indonesia.Menurut Affandi dari Divisi Agro Syngenta, langkah ini menjadi tonggak penting bagi dunia pertanian nasional.

“Jika negara-negara Eropa sudah menggunakan benih jagung bioteknologi sejak 10–20 tahun lalu, maka Indonesia baru pertama kali mengadopsinya,” jelas Affandi saat Sarasehan KTNA di ajang Jogja Benih Expo, Gunungkidul, Kamis (7/8).

Syngenta memperkenalkan tiga varietas unggulan hasil bioteknologi, yakni NK212, NK Perkasa, dan NK Sumo. Ketiganya memiliki kelebihan utama: tahan terhadap racun kuning (glifosat).

Artinya, ketika disemprot dengan herbisida berbahan aktif glifosat, tanaman jagung tetap aman, sementara gulma di sekitarnya mati.

“Teknologi ini membantu petani dalam perawatan tanaman sekaligus mengendalikan gulma tanpa harus khawatir merusak jagung,” kata Affandi.

Tak berhenti di situ, varietas bioteknologi tersebut juga tahan terhadap hama penggerek batang dan ulat grayak, dua jenis hama yang sering merugikan petani jagung. Dengan keunggulan ini, petani tidak lagi perlu rutin menyemprot pestisida untuk melindungi tanaman.

“Keuntungannya, petani lebih mudah merawat tanaman dan bisa menghemat biaya karena tidak perlu menyemprot herbisida atau pestisida berulang kali,” tambahnya.

Affandi menjelaskan, penggunaan benih bioteknologi ini bisa memangkas biaya pembelian pestisida dan herbisida yang biasanya mencapai Rp250–300 ribu per botol, dengan kebutuhan 2–3 botol per hektare.

Selain efisiensi biaya, petani juga diuntungkan karena dapat mengurangi penggunaan bahan kimia di lahan mereka.

“Petani tak hanya lebih hemat, tapi juga bisa menerapkan praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan,” ujarnya.

Dengan inovasi ini, Syngenta berharap kehadiran jagung bioteknologi dapat menjadi solusi nyata untuk meningkatkan produktivitas sekaligus keberlanjutan sektor pertanian di Indonesia.

 

 

 

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018