Saturday, 07 February 2026


Antisipasi Kekeringan 2026, Kementan Genjot Produksi Mandiri Benih Padi di Bantul

23 Aug 2025, 10:08 WIBEditor : Herman

Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Dinas Pertanian Provinsi DIY dan Kabupaten Bantul mendorong percepatan tanam mandiri benih padi

TABLOIDSINARTANI. COM, Bantul, DIY – Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Dinas Pertanian Provinsi DIY dan Kabupaten Bantul mendorong percepatan tanam mandiri benih padi di Kelompok Tani (KT) Ngudi Raharjo, Desa Poncosari, Kapanewon Srandakan, Bantul.

Penanaman dilakukan pada lahan seluas 10 hektare dengan varietas Situbagendit dan Inpari 32, dari total alokasi 20 hektare di Bantul dan Sleman.

Direktur Perbenihan sekaligus Penanggung Jawab LTT Padi Provinsi DIY, Ladiyani Retno Widowati, menegaskan bahwa percepatan tanam ini menjadi langkah strategis untuk mengamankan ketersediaan benih padi gogo menghadapi ancaman kekeringan pada 2026.

“Petani perlu mengoptimalkan musim kemarau basah ini untuk percepatan tanam setelah panen. Benih adalah kunci peningkatan produktivitas. Jika salah memilih, kerugian besar bisa menimpa petani,” ujarnya.

Mengantisipasi musim kemarau panjang, Kementan menganjurkan petani menanam varietas tahan kekeringan, di antaranya Inpago 13 Fortiz, Inpago 4–9, Inpari 11–46, Situbagendit, hingga varietas lokal unggulan seperti Cisaat, Cibogo, dan Ciherang.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Yudi Sastro, menekankan bahwa program mandiri benih merupakan upaya serius pemerintah mendukung peningkatan produksi padi sekaligus memperkuat swasembada pangan.

Pada kesempatan tersebut, secara simbolis juga dilakukan penyerahan bantuan benih sumber varietas Situbagendit.

Selain benih, Kementan juga memberikan pupuk, pestisida, dan peralatan pengemasan untuk mendukung petani memproduksi benih secara berkelanjutan.

“Kami menargetkan produksi calon benih minimal 4 ton GKP per hektare, setara 2,5–3 ton benih bersertifikat. Dari sini, Bantul bisa memasok 25–30 ton benih insitu, cukup untuk 1.000–1.200 hektare lahan,” jelas Ladiyani optimis.

Ia juga mengingatkan, menjual padi sebagai benih lebih menguntungkan dibanding menjual sebagai beras konsumsi.

“Selain hemat biaya pengiriman, varietas yang dihasilkan juga lebih adaptif dengan kondisi lokal,” tambahnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, Syam Arjayanti, meminta agar pengawas benih bergerak cepat mengawal proses sertifikasi.

Sementara itu, Tenaga Ahli Menteri Pertanian, Oscar Tri Yoga Semendawai, mengapresiasi semangat petani Poncosari.

“Program mandiri benih ini diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan Bantul, tetapi juga bisa menyuplai daerah lain. Kunci keberhasilan adalah keberlanjutan, meski tanpa bantuan pemerintah" ungkapnya.

Lebih lanjut menurut Oscar, petani bisa mengakses KUR maupun Bumdes karena sudah terdaftar sebagai produsen benih. 

Koordinator Penyuluh Srandakan, Taufik, menambahkan bahwa petani di Poncosari merasa terbantu.

“Kami bersyukur mendapat pendampingan langsung dari pusat maupun daerah, termasuk pengawas benih. Harapannya, kami bisa mandiri dalam produksi benih,” katanya.

Reporter : Indra Rochmadi
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018