
Nomor kontak pengaduan pupuk subsidi
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Pemerintah membuka kontak pengaduan permasalahan pupuk subsidi. Ada dua nomor kontak yang pemerintah sediakan. Pertama, kontak pengaduan pupuk dengan nomor 0823 1110 9690. Kedua, hotline kppp pusat kontak pengaduan pupuk di nomor 0812 1533 5574.
“Saudaraku, sahabatku, kalau ada yang coba-coba menaikkan dari harga yang ditetapkan pemerintah, tolong dihubungi kontak pengaduan pupuk. Jadi hubungi ini kontak pengaduan pupuk itu pasti langsung ditindaklanjuti,” kata Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman saat jumpa pers Apel Siaga 1 Tahun Pemerintahan Prabowo Subianto di Jakarta, Rabu (22/10).
Kepada distributor dan pengecer pupuk subsidi di seluruh Indonesia, Mentan juga mengimbau untuk tidak menaikkan harga pupuk subsidi. Jika ada yang bermain-main lagi dengan harga pupuk subsidi, pemerintah akan mencabut ijinya.
“Tidak ada ruang lagi untuk mempermainkan petani Indonesia. Tidak ada ruang lagi mafia atau korupsi di sektor pertanian. Ini adalah kepentingan hajat hidup orang banyak. Kita harus berjuang bersama,” tegasnya.
Apalagi lanjut Amran, Presiden Prabowo selalu memerintahkan untuk menghilangkan koruptor dan mafia hilangkan. “Tolong support petani seluruh Indonesia. Beri yang terbaik, tolong perhatikan nasib mereka. Jadi kita akan kawal bersama. Jika ada pengaduan masuk, maka dari Polda, Polres, sampai Polsek akanmenindah lanjut. Dan itu kita sudah sepakat,” katanya.
HET pupuk turun
Pemerintah mulai hari ini (22/10) telah menurunkan harga eceran tertinggi (HET) pupuk bersubsidi. Untuk Pupuk Urea dari Rp2.250/kg menjadi Rp1.800/kg (turun Rp450/kg) atau dari Rp112.500/sak menjadi Rp90.000/sak (turun Rp22.500/sak).
Kemudian, NPK dari Rp2.300/kg menjadi Rp1.840/kg (turun Rp460/kg) atau dari Rp115.000/sak menjadi Rp92.000/sak (turun Rp23.000/sak). Sedangkan NPK kakao dari Rp3.300/kg menjadi Rp2.640/kg atau dari Rp165.000/sak menjadi Rp132.000/sak.
Sementara pupuk ZA dari Rp1.700 /kg menjadi Rp1.360/kg (khusus tebu) atau dari Rp85.000 /sak menjadi Rp68.000/sak (khusus tebu). Adapun pupuk organik dari Rp800/kg menjadi Rp640/kg atau dari Rp32.000/sak menjadi Rp25.600/sak.
“Ini sejarah, karena yang terjadi sebelumnya puluhan tahun adalah tiap tahun naik atau tiap dua tahun. Sekarang turun, karena hasil efisiensi yang merupakan gagasan besar Presiden Republik Indonesia,” katanya.
Dengan harga pupuk subsidi turun 20%, Amran memperkirakan akan ada tambahan volume pupuk subsidi sebanyak 700 ribu ton hingga 1 juta ton. Apalagi turunnya HET pupuk subsidi tan menambah biaya atau anggaran dari APBN.
Penurunan harga pupuk bersubsidi tersebut menurut Amran, karena pemerintah mengubah subsidi. Jika sebelumnya subsidi di hilir, maka kini digeser ke hulu atau bahan bakunya. “Jadi inputnya yang kita subsidi. Tentu jumlahnya menjadi lebih kecil. Jadi kita hemat kurang lebih mencapai Rp 10 triliun,” ungkapnya.
Selain itu ungkap Amran, dengan menggeser input subsidi ke hulu, Pupuk Indonesia juga bisa menghemat pembayaran bunga bank, karena pembayarannya di akhir tahun. Hitungannya, jika bunga bank mencapai 7 persen, maka pupuk Indonesia hanya membayar bunga sekitar Rp 3 triliun.
Pemerintah juga akan melakukan revitalisasi pabrik pupuk. Selama ini pabrik pupuk yang sudah tua harus menggunakan bahan baku gas hingga 43 persen. Sedangkan pabrik baru hanya 22-13 persen. Artinya hampir separuh bisa dilakukan efisiensi.
“Kita harapkan efisiensi di pabrik pupuk akan dirasakan petani di seluruh Indonesia. Harga turun Rp 100, apalagi Rp 400/kg, sangat luar biasa bagi petani,” ungkapnya.